Banjarbaru, KP – Cabai hiyung dari di Desa Hiyung, Kabupaten Tapin, sangat menjanjikan.
Cabai yang disebut terpesas se Indonesia itu sangat diminati pelaku usaha.
Saat ini saja petani cabai hiyung sudah menjalin kerjasama dengan PT. ABC sebagai penyedia bahan baku saos pedas. “Permintaan perusahaan hanya 60 kilogram per pekan. Masih bisa terpenuhi,” kata Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kalsel, Endri, Senin (26/6).
Disebut Endri cabai hiyung juga diminati investor. Permintaan mencapai 1 ton perminggu.
Hanya saja disebut Endri petani setempat tak bisa memenuhinya karena terkendala lahan.
“Mereka (petani) kewalahan dengan permintaan sebanyak itu,” katanya.
Kemungkinan perluasan lahan pun bisa saja dilakukan jika melihat tingginya minat investor.
Namun, pemerintah daerah masih ingin melihat opsi lain.
Tak hanya cabai hiyung, sejumlah potensi lain di sektor perikanan dan energi juga dilirik investor.
Namun, nyaris semuanya belum bisa dikembangkan karena berbagai kendala.
Pada budidaya ikan gabus, misalnya. Luasan lahan menjadi masalahnya.
Para pengusaha, kata dia, memerlukan lahan seluas 100 hektare.
Lalu ada Kala Grup yang mengincar investasi energi listrik di Banua. Rencananya, mereka menggunakan arus sungai sebagai pembangkit listrik.
“Ini juga masih kami koordinasikan dengan sejumlah pemkab, untuk dibuatkan kajian,” bebernya.
Ada juga pengusaha yang tertarik membangun pabrik cat, mengingat Kalsel menjadi gerbang Ibu Kota Negara Nusantara.
“Ini sangat bagus. Karena kami menerapkan 50 persen harus menggunakan jasa pekerja lokal,” pungkas Endri. (mns/K-2)















