Kalimantan Post - Aspirasi Nusantara
Baca Koran
Space Iklan
Space Iklan
Iklan Utama
Opini

Kalsel Dilanda Krisis Moral

×

Kalsel Dilanda Krisis Moral

Sebarkan artikel ini

Oleh : Rasyidah
Aktivis Muslimah Kalsel

Jika mau membuka mata lebar-lebar dan mengamati setiap berita yang ada di televisi, media online ataupun media cetak. Banyak berita yang membuat bertanya-tanya, “Kok bisa? Kenapa bisa? Kok tega?”. Pertanyaan-pertanyaan seperti itu yang mungkin sering sekali muncul di kepala kita. Apalagi kasus yang muncul melibatkan anak, dari mulai kasus bullying anak, pergaulan bebas, penyalahgunaan narkoba hingga anak jadi korban pelecehan seksual. Perlecehan seksual ini terjadi dari orang yang tidak dikenal sampai orang terdekatnya. Terlebih dengan berita yang baru-baru ini terjadi.

Kalimantan Post

Dikutip dari Tribun Hulu Sungai yang diterbitkan pada 20 Mei 2023. Memberitakan anak dihamili ayah dan kakek kandungnya sendiri. Konselor Psikolog UPTD PPA (Dinsos PPKB PPPA) HST, Normi saat dikonfirmasi mengatakan bahwa korban disetubuhi sejak kelas 2 SD hingga saat ini tengah hamil jalan enam bulan.

Rumah yang harusnya menjadi tempat aman bagi anak, justru menjadi tempat yang membuatnya trauma mengancam mentalnya. Seorang ayah yang harusnya menjadi pelindung untuk anak-anaknya malah sebaliknya menghancurkan masa depan anak sendiri. Berita seperti ini tidak hanya sekali di dengar, tapi juga terjadi diberbagai daerah lain.

Belum selesai sampai disitu ada lagi berita di Kabupaten Tabalong, dua anak putus sekolah berumur 13 dan 15 tahun menjadi korban kejahatan asusila. Tiga terduga pelaku telah diamankan Satreskrim Polres Tabalong. Remaja laki-laki berumur 15 tahun asal Kecamatan Kelua. Kedua rekannya, pemuda 20 tahun dan 25 tahun. (Radar Banjarmasin, 30/05/2023).

Mencermati kenapa hal ini bisa berulang dan makin banyak terjadi menimpa anak-anak. Pertama, kontrol diri yang lemah. Sistem sekuler yang memisahkan agama dengan kehidupan, menyebabkan manusia itu tak lagi berpegang pada tali agama. Akhirnya si pelaku tidak memliki rasa takut akan hisab dan sanksi dari Allah.

Baca Juga :  Impor 1.000 ton Beras dari AS: Ketundukan Pada Negara Besar?

Kedua, teknologi yang semakin canggih sehingga sangat mudah mengakses tontonan yang membangkitkan syahwat. Apalagi jika teknologi tersebut digunakan tanpa batas dan tidak dibatasi oleh negara. Dua hal di atas muncul karena sistem demokrasi sekuler saat ini menerapkan paham kebebasan. Negara menjamin kebebasan berekspresi sehingga mereka merasa bisa bebas melakukan apa saja. Bahkan menyalurkan hasrat seksualnya terhadap anak-anak.

Manusia memiliki sifat lemah, terbatas dan ketergantungan. Dengan sifat inilah maka manusia perlu diatur oleh Sang Pembuat Aturan yakni Allah SWT. Jika tidak ada batasan yang tegas maka ia akan terus memenuhi kebutuhannya tanpa berpikir benar atau salah.

Penyimpangan akan terus menjamur jika sistem yang dipakai adalah sistem demokrasi sekuler yang aktivitasnya berdasarkan akal semata. Tetapi banyak juga yang tidak berdasarkan akal hanya memakai nafsu saja. Sehingga ini yang membuat manusia bebas beraktivitas menuruti hawa nafsunya.

Langkah strategis dalam islam untuk mencegah menjamurnya kejahatan seperti ini dengan memberi sanksi yang tegas terhadap pelaku kejahatan. Bahkan sebelum kejahatan itu terjadi sudah ada pencegahan yang dilakukan Negara. Pertama, menerapkan pendidikan islam bebasis akidah islam. Dengan begitu anak memiliki akidah islam yang kuat dan orang tua memiliki pemahaman agama yang baik. Kedua, Negara menyaring semua konten dan tayangan yang tidak mendukung dengan pekembangan generasi, seperti konten porno, tayangan yang mengandung kemaksiatan, dan hal yang melanggar syariat.

Itulah fungsi Negara memberikan perlindungan pada institusi keluarga sehingga anak terlindungi dan haknya sebagai anak pun terpenuhi. Dengan demikian, cita-cita untuk melindungi anak harus bersifat sistemis. Sebagai aset bangsa, harus ada langkah strategis untuk melindungi anak agar kelak mampu menjadi generasi penerus peradaban. Wallahualam.

Iklan
Iklan