Banjarmasin ,KP- Destinasi wisata baru dikhawatirkan tidak bertahan lama . Kondisi ini diprediksi jika harga tiket masuk (HTM) yang berlokasi di Jalan Sungai Baru atau tepian Sungai Martapura itu dirasa cukup mahal.
Sebagaimana ramai diberitakan untuk masuk ke wisata Kampung Katupat dikenakan HTM Rp 15 ribu.
HTM yang dinilai cukup mahal inipun kemudian mendapat reaksi dan komentar warga.
Menyikapi masalah juga itu mendapat perhatian DPRD Kota Banjarmasin.
Melalui Komisi II kemudian memanggil pihak pengelola, Dinas Pariwisata serta BPKPAD Kota Banjarmasin, Senin (10/7/23). Pertemuan dimaksudkan untuk mengetahui secara detail alasan kenapa tiket masuk diberlakukan untuk kampung ketupat bisa semahal itu.
Dalam pertemuan berlangsung terungkap kawasan siring kampung ketupat disewakan senilai Rp 100 juta per tahun kepada pihak ketiga.
Ketua Komisi II DPRD Banjarmasin Awan mengakui, dari sisi dengan Dikerjasamakan dengan pihak ketiga itu Pemko diuntungkan karena menerima PAD Rp 100 juta per tahun.
Namun pada sisi lain katanya, masyarakat keberatan karena harga tiket masuk yang dikenakan pengelola dinilai cukup mahal.
Awan Subarkah mengusulkan supaya pengelola destinasi wisata kampung ketupat meninjau kembali harga tiket masuk yan ditetapkan tersebut.
“Mestinya karena masih baru warga yang ingin berkunjung ke objek wisata di situ diberikan harga tanda masuk tiket promo,” ujarnya
Menurut Awan, jikalau harga tiket sudah dikenakan cukup mahal, maka akan berdampak menurunnya minat kunjungan ke destinasi wisata kampung Katupat.
“Dampak lainnya bahkan dikhawatirkan tidak akan bertahan lama. Padahal tujuan kita ingin meningkatkan destinasi wisata kota ini,” katanya.
Dalam kesempatan itu Awan Subarkah menyayangkan karena pihak ketiga selaku pengelola wisata kampung ketupat tidak hadir dalam pertemuan yang diadakan tersebut. (nid/K-3)