Oleh : Ahmad Barjie B
Pemerhati Sosial Keagamaan
Di antara kata-kata viral di media online adalah ucapan Prof Dr Salim Said, pakar politik, militer dan perfilman kelahiran Pare-pare Sulawesi Selatan 1943 yang disuarakannya di acara ILC TVOne beberapa tahun lalu. Ia mengatakan, sejumlah negara bangsa bisa maju karena ada yang ditakuti. Taiwan maju karena takut dengan Cina Daratan, RRT. Korea Selatan maju karena takut dengan Korea Utara yang memiliki senjata nuklir. Singapura maju karena dikelilingi negara-negara tetangga Melayu (Malaysia, Indonesia dan Brunei Darussalam). Israel kuat dan maju karena dikelilingi negara-negara Arab muslim, kalau tidak ia akan direbus dan dikeroyok. AS maju karena takut dengan negara pesaingnya seperti Rusia dan China, sehingga terus berusaha agar kuat dan tidak ada yang mampu mengalahkan.
Dapat ditambahkan, Jepang juga maju karena takut dikalahkan kedua kalinya setelah bertekuk lutut dan dipaksa menyerah tanpa syarat di akhir Perang Dunia II. Sebentar tiarap, sekarang Jepang kembali berada di jajaran negara maju dan disegani dunia.
Indonesia tidak kunjung maju karena tidak ada yang ditakuti. Sejumlah pejabat, wakil rakyat, ditangkap KPK dan masuk penjara karena korupsi. Semua sudah bersumpah atas nama Tuhan, tetapi Tuhan tidak ditakuti, sehingga tidak segan melakukan pelanggaran. Suatu bangsa, pungkas Salim Said, tidak akan maju selama tidak ada yang ditakuti.
Takut dan Takwa
Jika sepakat statemen dan simpulan Salim Said, berarti negara dalam kondisi rentan diserang (vulnerable country) bisa maju. Artinya, takut kepada manusia saja bisa menjadikan suatu bangsa kuat dan maju. Takut kepada Allah pencipta manusia, mestinya lebih maju lagi.
Takut kepada Allah dalam bahasa agama artinya takwa. Menurut Imam Nawawi, takwa adalah imtisalu awamirillah wajtinabu nawahihi (melaksanakan perintah Allah dan menjauhi laranganNya), baik secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan.
Bangsa ini memang belum bertakwa. Banyak yang suka melanggar larangan Allah berupa kemaksiatan dan kemunkaran, juga mengabaikan perintah Allah. Sangat mendasar adalah perintah membaca, digariskan Allah 15 abad lalu. Semua muslim tahu, tetapi tidak mengamalkannya.
Perintah membaca iqra’, menggunakan fi’il amar (perintah), menurut kaidah fiqih artinya wajib, minimal sunat. Tidak mungkin mubah (boleh dikerjakan boleh tidak). Berarti membaca bacaan yang berguna bernilai pahala, dan meninggalkannya berdosa.
Selain membaca Al Qur’an (ayat-ayat qawliyah) sebagai ibadah, yang disuruh baca adalah kitab-kitab, buku-buku dan berbagai fenomena alam (ayat-ayat kawniyah), dengannya lahir berbagai pengetahuan. Muslim era terdahulu kuat dan maju karena mengamalkan ayat ini.
Sekarang sebaliknya, sejumlah negara maju sangat rajin membaca, umat Islam yang diperintah agama membaca justru malas. Banyak survey internasional menempatkan Indonesia bangsa paling malas membaca. Dari 1.000 orang hanya satu orang yang membaca buku, koran, majalah dan sejenisnya. Akibatnya dunia perbukuan, permajalahan dan persuratkabaran di negeri ini sulit untuk berkembang pesat, bahkan tidak sedikit yang istirahat terbit.
Apalagi di era digital (online) sekarang ini. Padahal dunia digital mestinya hanya pelengkap, membaca bacaan berbasis kertas seperti buku, majalah, surat kabar, tetap utama, sebagaimana dianut netara-negara maju. Beberapa orang yang pernah bepergian ke negara-negara Skandinavia, Rusia, Finlandia dan sebagainya, menyaksikan semua rumah tangga berlangganan satu atau lebih surat kabar, perpustakaan masih buka hingga tengah malam, dan orang-orang tua lansia masih rajin ke perpustakaan.
Pakar literasi nasional dari Surabaya, Satria Dharma melalui seminar “Meningkatkan Budaya Literasi” kerjasama Pemko Banjarmasin dengan Kesultanan Banjar 2017 menyesalkan rendahnya minat baca masyarakat kita. Ia menyarankan pejabat, ulama, khatib, guru dan tokoh masyarakat menggelorakan semangat membaca. Gerakan Literasi Nasional harus nyata dan sampai ke daerah-daerah. Kalau Salim Said mengatakan tak ada bangsa maju tanpa ada yang ditakuti, menurut Satria tak ada negara maju tanpa budaya membaca yang tinggi.
Juga Sejahtera
Takwa juga mengantarkan suatu negara, daerah, hidup sejahtera. Allah SWT menegaskan, kalau suatu negara atau daerah beriman dan bertakwa, Allah menurunkan berkah dari langit dan bumi. Tetapi jika mendustakan ayat-ayat Allah, akan disiksa akibat perbuatan mereka.
Berkah dari langit misalnya iklim yang bersahabat, cuaca yang sejuk dan hujan yang membawa kesuburan dan sumber air bersih. Berkah dari bumi bertumbuhnya tanaman dan pepohonan serta barang galian dan tambang yang membawa kemakmuran dan kesejahteraan, yang dibagikan secara adil dan merata untuk seluruh rakyat, terlebih penduduk di mana SDA itu digali. Bukan mendatangkan kerusakan alam dan/atau yang keuntungannya hanya dinikmati sekelompok orang.
Banyak negara bisa dijadikan contoh keadilan dan kemakmuran bermodalkan ketakwaan. Misalnya Brunei Darussalam, negara berpenduduk 400 ribu jiwa sejak 50 tahun lalu dipimpin Sultan Hasanal Bolkiah al-Mu’izzuddin wad-Daulah bin Almarhum Sultan Haji Omar Ali Saifuddin Sa’adul Khairi wad-Din. Meski wilayahnya kecil, Brunei makmur dan sejahtera. Di ibu kota Bandar Seri Begawan sampai pedesaan semua warga memiliki dan menggunakan mobil (kereta). Bagi yang enggan bepergian dengan menggunakan mobil pribadi disediakan bus umum (disana disebut bas awam). Tidak ada sepeda motor kecuali jenis Harley Davidson.
Ketika penulis dkk (Taufik Arbain, Setia Budhi, Nasrullah, Adriani Yulizar dan Safria Sahlan) mengunjungi Brunei Darussalam akhir November 2017 lalu sempat melakukan observasi dan wawancara singkat tentang hal ini. Menurut Pengiran Hajah Mahani binti Pengiran Haji Ahmad dan Noor Anisa dari Pusat Sejarah Brunei, di negaranya tidak ada penduduk miskin, peminta-minta dan pengangguran. Urang Banjar yang ada di sana, meskipun banyak yang menjadi petani, juga hidup sejahtera.
Hanya dengan membayar 1 Dolar Brunei (Rp10 ribu) rakyat setempat bisa berobat dan sekolah yang disediakan oleh pemerintah (sekolah dan rumah sakit negeri). Kecuali kalau ingin berobat ke fasilitas yang lebih bagus, atau kuliah ke perguruan swasta yang lebih, mereka boleh membayar lebih. Kejahatan seperti pencurian nyaris tidak ada. Miras dilarang keras diproduksi dan beredar di masyarakat. Kalau ada wisatawan luar berkunjung ke Brunei dan tetap ingin menikmati miras, mereka harus membawanya sendiri, maksimal 2 liter saja.
Kita bisa berkilah, Brunei makmur dan sejahtera karena negaranya kaya SDA. Tetapi kekayaan SDA kita juga tidak kalah bahkan lebih banyak lagi, dan wilayah negara juga sangat luas. Brunei hanya 1/100 persen dari wilayah Kalimantan. Besar kemunginan kesejahteraan Brunei disebabkan keimanan dan ketakwaan penguasa dan rakyat. Ketika sultan dan rakyat menjalankan agama, berkah akan turun menghasilkan kekayaan dan kemakmuran. Kalau penguasa kaya dan rakyat semua sejahtera tanpa ada kesenjangan yang mencolok, negara akan aman dan stabil. Kriminalitas jarang terjadi, rakyat hidup aman, nyaman dan damai. Meski di Brunei tidak ada pemilu dan parlemen, negeri ini justru lebih stabil.
Bangsa dan negara ini sudah dimodali Allah secara gratis wilayah yang sangat luas dengan kekayaan SDA yang luar biasa, serta ajaran agama yang sangat inspiratif. Tinggal pengamalan nyata serta pembagian hasil kekayaan alam secara adil dan merata. Jika terwujud, kita yakin negeri ini akan makmur, adil dan sejahtera. Wallahu A’lam.












