Iklan
Iklan
Iklan
HEADLINE

Tunda Jam Masuk Sekolah, Santri Ponpes Dipulangkan

×

Tunda Jam Masuk Sekolah, Santri Ponpes Dipulangkan

Sebarkan artikel ini

Ini dampak kabut asap akibat karhutla dan krisis air.

BANJARBARU, KP- Dinas Pendidikan Kota Banjarbaru mengeluarkan kebijakan penundaan jam masuk pembelajaran bagi sekolah mengalami kabut asap sebagai dampak dari Karhutla.

Sementara di Kota Martapura, para Santri Pondok Pesantren (Ponpes) Darul Falah Desa Keladan Baru, terpaksa dipulangkan ke tempat tinggalnya masing-masing akibat krisis air bersih.

Dari keterangan, Kamis (7/9) soal penundaaan jam masuk sekolah, ini berdasarkan surat edaran (SE) nomor 400.3.1/2142/Set/Disdik 14 Agustus 2023 salah satunya menyebutkan penundaan jam pelajaran sebagai upaya antisipasi dampak kabut asap terhadap pelajar dan guru.

Ditujukan kepada pelaksana pendidikan PAUD, SD, SMP, SPNF SKB dan PKBM se-kota Banjarbaru.

Hal tersebut dibenarkan Wali Kota Banjarbaru, Aditya Mufti Arifin jika penundaan diberlakukan pada sekolah terdampak kabut asap.

“Sudah kami sampaikan kepada sekolah untuk memulai pelajaran dari jam 08.30 WITA. Karena diatas jam tersebut kabut asap sudah berkurang,” ujarnya.

Sementara salah satu wali murid SDN 1 Mentaos, Desy Anzani mengatakan sudah mendapatkan edaran tersebut.

Dirinya juga mengakui jika saat ini kesehatan anak-anak mulai terganggu akibat kabut asap.

“Baru saja anak Ulun (saya) sembuh dari batuk. Hal yang sama juga dirasakan murid lain, jadi mereka banyak yang izin sakit,” ucap Desy.

Menurutnya dengan kebijakan tersebut siswa bisa memberikan kenyamanan dalam belajar.

“Meski menggunakan masker kalau sekitar pukul tujuh pagi kabut tetap terasa,” ujarnya

Sebagai informasi saat ini kasus ISPA sejak Agustus terus meningkat dengan total sepanjang tahun 2023 sudah 3.535 kasus ISPA.

Krisis Air

Sisi lain, krisis air bersih melanda Ponpes Darul Falah Keladan Baru, Kecamatan Beruntung Baru, Kabupaten Banjar,yang dihuni seribu lebih santri.

Baca Juga:  Beda Tafsir Permendagri 84, Pembahasan APBD-P Deadlock

Santri Pondok Pesantren (Ponpes) ini terpaksa dipulangkan ke tempat tinggalnya masing-masing.

Kini lebih dari setengah santri tidak lagi tinggal menginap di asrama pondok.

Salah satu pondok pesantren yang ada di Kabupaten Banjar memiliki total santri putra dan putri sebanyak 1.050 orang.

Per 25 Agustus 2023, pihak pengelola Ponpes mengeluarkan kebijakan memperbolehkan santri putra dan putri untuk pulang ke tempat tinggal masing-masing khusus bagi santri yang rumahnya dekat dengan Ponpes.

Keputusan tidak wajib tinggal di asrama Ponpes menjadi jalan keluar yang harus diambil pengelola Ponpes untuk menghemat alias mengurangi jatah pemakaian air saat musim kemarau sekarang.

Jika seluruh santri 1.050 orang itu tinggal di asrama maka diperkirakan 70 jerigen habis hanya dalam sehari, bahkan diperkirakan tidak akan mampu mencukupi. Sehingga diambil lah kebijakan lebih dari setengah santri yang rumahnya dekat dengan Ponpes dipulangkan atau tidak lagi menghuni asrama.

“Itu cara kami menghemat air di sini,” ucap Nafis.

Pada pekan lalu, pihak pondok pesantren sempat menerima bantuan distribusi air bersih dari BPBD Kabupaten Banjar satu tangki 5.000 liter, tapi itu pun tidak mencukupi.

Salah satu santri, Ahmad Nawawi (20) dari Desa Jambu Raya mengaku pernah mandi dengan air yang bercampur tanah, jika mendapat giliran terakhir.

Saking banyaknya santri yang mandi jadi perlu waktu yang lama menunggu sumber air penuh.

Di asrama santri putra, sebut santri yang sudah tiga tahun mondok ini menyebut memiliki dua buah sumur, tapi hanya satu yang dapat digunakan untuk keperluan mandi, mencuci pakaian, dan perabot makan.

“Subuh, ada santri yang membeli air bersih satu teng air seharga tiga ribu,” aku Ahmad Nawawi.

Baca Juga:  Kalsel Raih Penghargaan Anggakara Birawa

Lain lagi pengakuan, Ahmad Fadillah (17), santri yang telah mondok selama 5 tahun dari Mantuil Banjarmasin, hampir dua minggu air sumur sudah kering dan air PDAM sudah macet total.

Salah satu santri putri yang tinggal Jannati (21), mengatakan, sangat terasa sulit saat musim kekeringan ini. “Biasanya untuk mandi, berwudhu, mencuci pakaian dan perabot makan menggunakan air sumur,” ujar santriwati dari Desa Pindahan Baru. (dev/net/K-2)

Iklan
Iklan