innalillahi wa inna ilaihi rojiun, Kalsel Kembali Kehilangan Pakar Pengantin Adat Banjar dan Penyanyi Kawang Yudha

BANJARMASIN, Kalimantanpost.com – innalillahi wa inna ilaihi rojiun. Kabar duka kembali menyelimuti Kalimantan Selatan dengan meninggalnya budayawan, penyanyi dan juga perancang busana, Dwi Kawang Yudha, SH, Sabtu (9/12/2023) pukul 15.25 Wita.

Kawang Yudha meninggal dunia dalam usia 63 tahun dan disemayamkam di rumah duka Jalan Grawiratama II nomor 45 Banjarmasin.

Informasi yang diperoleh Kalimantanpost online, almarhum akan disalatkan di Masjid Al Jihad dan dimakamkan di Alkah Dewantara Lapangan Golf Landasan Ulin Banjarbaru.

Sebelum meninggal, almarhum beberapa tahun terakhir menderita stroke dan berjalan dengan bantuan tongkat.

Walau pun mengalami stroke, semasa hidupnya Kawang Yudha tetap aktif berkarya serta mengikut berbagai kegiatan.

Di bulan Maret tahun 2022 lalu, Kawang Yudha sempat melaunching Album Banjar Semi Orkestra.

Almarhum waktu itu bercerita, beberapa kali menangis tesedu-sedu saat membawakan lagu berjudul Hunjuran Mahakam karya maestro Anang Ardiansyah. Rekaman pun terpaksa diulang berkali-kali, hingga akhirnya bisa selesai juga.

“Lagunya sangat menyayat hati, karena mengisahkan kisah kehidupan abah pak Anang yang dieksekusi Jepang di depan sidin. Jenazah abah sidin pun di buang ke laut hingga beliau tak tahu dimana makamnya,” ujarnya.

Ada lagi lagu ciptaan Gatot Saputra di era tahun 1980-an, judul Banjarmasin. Selain itu ada lagi karya ciptaan A Thamrin, Enos Karlie serta pengarang muda kekinian, Rudi Nugraha dari Kotabaru.

Nama Kawang Yudha sudah tak asing lagi di dunia tarik suara, karena sering meraih juara di lomba menyanyi mulai lagu seriosa, keroncong, pop singer hingga lomba karaoke di era tahun 1979 sampai 1999.

“Saya juga beberapa kali mewakili Kalsel di lomba menyanyi tingkat nasional,” ceritanya semasa hidup.

Selain menyanyi, semasa muda Kawang Yudha juga mantan Nanang Banjarmasin 1983.

Dedikasi almarhum semasa hidup sebagai perancang busana cukup terkenal di Banua.

Selain itu, almarhum juga ‘suhunya’ perias pengantin Banjar dan terus menyuarakan untuk mengembalikan Tata Rias Pengantin Banjar ke Pakem aslinya.

Dirinya prihatin melihat perkembangan
Tata Rias Pengantin Banjar Pakem sudah bergeser sangat signifikan dari asalnya.

Salah satu upaya dilakukan almarhum menerbitkan buku berjudul Pengantin Adat Banjar Pakem dari Abad ke Abad.

“Isi buku ini tentang tutorial lengkap tiga jenis busana pengantin Banjar pakem dari sejarah, jenis busana asesori yang dipakai sampai tata cara penggunaannya.

“Pokoknya lengkap, tidak hanya informatif tapi juga edukatif dan dikemas scara konfrenhensif full colour sebanyak 72 halaman,” katanya.

“Kami berusaha mengembalikan tata rias pengantin Banjar kembali ke ruhnya lagi dan sebagai jati dirinya,” papar Kawang waktu itu.

Selamat jalan Kawang Yudha. Karya-karyamu tetap abadi. (ful/KPO-3)

Berlangganan via E-MAIL
Berlangganan via E-MAIL

Situs ini menggunakan Cookie untuk meningkatkan Kecepatan Akses Anda. Silahkan Anda Setujui atau Abaikan saja.. Terima Selengkapnya