BANJARBARU, Kalimantanpost.com – Dalam sepekan seekor monyet ekor panjang jantan (Macaca fascicularis), telah meneror warga Jl. Gotong Royong, Kelurahan Mentaos, Banjarbaru. Monyet tersebut menjadi ganas dan menyerang warga di wilayah tersebut dengan acak.
Setidaknya ada lima warga yang mengalami luka berat akibat gigitan dan cakarannya. Bahkan korban harus menerima minimal 50 jahitan untuk luka terbuka dari serangan monyet tersebut.
Keresahan warga terus memuncak lantaran monyet tersebut tidak berhasil ditangkap, bahkan saat Tim BKSDA Kalsel turun langsung untuk menangkap dengan 10 alat jebakan.
Dugaan awal jika monyet tersebut sengaja dilepas atau terlepas oleh pemiliknya, karena dibeberapa lokasi memang ada warga yang juga memiliki peliharaan monyet ekor panjang.
Staf Bagian Konservase Keaneka Ragaman Hayati BKSDA Kalsel, Jarot menjelaskan primata yang menyerang warga kemungkinan adalah peliharaan orang yang terlepas atau sengaja dilepas. Karena menurut kaca mata mereka, monyet merupakan hewan yang berkelompok.
“Monyet ini hidupnya berkelompok, dan monyet ini diketahui hanya sendirian saja” katanya.
Sejak mendapatkan laporan pihak BKSDA dan tim yang terdiri dari BPBD, Damkar, Bhabinsa dan Bhabinkamtibmas telah melakukan treatment terhadap hewan yang meresahkan warga ini.
“Kami sudah memasang kandang jebakan di sana, setiap hari petugas kami mengecek dan mengganti umpannya. Namun hingga saat ini tidak ada tanda-tanda monyet tersebut belum masuk jebakan” ujarnya.
Menanggapi sayembara yang dilakukan warga, Jarot mengakui jika harus terpaksa hewan tersebut bisa “dibunuh” apabila dalam keadaan mendesak. Walaupun monyet tersebut tidak termasuk dalam kategori satwa yang di lindungi.
“Tapi perlu diingat ini hanya bisa dilakukan oleh tim BKSDA, diharap warga tidak melakukan tindakan tersebut dan menangkap monyet dengan baik tanpa cidera” katanya.
Adapun penyebab ganasnya monyet, BPSDA menduga jika dia merasa terancam monyet itu akan menyerang.
“Kami tidak bisa mengatakan hewan ini terkena penyakit rabies, atau lainnya. Nanti setelah ditangkap, diperiksa baru bisa ketahuan,” jelasnya.
Jarot juga mengimbau, kepada warga yang telah tergigit, seharusnya diberikan vaksin rabies atau TBC.
“Satwa liar ini memang secara alami dia memiliki virus, TBC atau cacing dan penyakit lain. Tapi di alam tetap survive karena di alam makanannya tetap aman. Tapi mengingat kasus ini, warga yang dicakar dan tergigit harus divaksin rabies atau TBC agar menghindari hal-hal yang tidak diinginkan,” jelasnya. (Dev/KPO-3)















