Kalimantan Post - Aspirasi Nusantara
Baca Koran
Space Iklan
Space Iklan
Iklan Utama
Opini

Al Quran Dalam Perspektif Sejarah

×

Al Quran Dalam Perspektif Sejarah

Sebarkan artikel ini

Oleh : Ahmad Barjie B
Penulis beberapa buku Sejarah dan Budaya Banjar

Sebentar lagi umat Islam akan memasuki bulan suci Ramadhan 1445 H. Banyak sebutan yang dilekatkan pada bulan Ramadhan, misalnya syahrullah (bulan Allah), syahrul mubarak (bulan penuh berkah), syahrul muwasah (bulan memberi pertolongan kepada orang yang berhajat), syahrul tilawah (bulan membaca Alquran), syahrul-shabri (bulan kesabaran), syahrus-shiyam (bulan berpuasa), syahrul rahmah (bulan Allah memberi rahmat kepada hambaNya), syahrul ‘id (bulan merayakan hari berbuka), syahrul jud (bulan saling ikhlas kepada sesama manusia), syahrul ala-i (bulan penuh kenikmatan), dan sebagainya.

Kalimantan Post

Sebutan yang paling populer adalah syahrul Quran, bulan Al Quran, karena di bulan ini Alquran diturunkan pertama kalinya. Selama lebih 22 tahun ayat-ayat Al Quran diturunkan Allah SWT melalui Malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad SAW yang kemudian mengajarkannya kepada manusia.

Bila diteliti ayat-ayat Al Quran, banyak di dalamnya berisi informasi tentang ilmu pengetahuan, sehingga di antara ahli ada yang menyebut Al Quran sebagai mother sciences, induk segala ilmu. Di antara ilmu yang diinformasikan oleh Al Quran adalah tentang kisah-kisah yang bermuatan sejarah. Beberapa ayat dalam Al Quran bahkan disebut sebagai ahsan al-qashash (kisah terbaik), seperti termaktub dalam surah Yusuf.

Satu hal yang penting digarisbawahi, ternyata kisah-sejarah dalam Al Quran banyak berisi peristiwa buruk yang menimpa bangsa, kaum dan umat terdahulu, seperti kaum Nabi Nuh, kaum Nabi Saleh (Tsamud), kaum Nabi Luth (‘Ad), kaum Nabi Syuaib (Madyan), kisah Nabi Musa dan Fir’aun Mesir, kisah Bani Israil, kaum Saba dan banyak lagi. Sebagian besar dari bangsa dan kaum tersebut memiliki fisik yang kuat dan umur panjang serta kemajuan ilmu dan teknologi, namun kemudian dihancurkan Allah karena mereka ingkar kepada Allah dan menolak seruan kebanaran yang disampaikan oleh para nabi dan rasul-Nya. Beberapa nabi bahkan dituduh gila, tukang sihir, pengacau, pemecah belah bahkan ada yang akan dan dibunuh.

Hingga sekarang, situs atau bekas azab Allah tersebut masih bisa ditemui dan sering disaksikan oleh para wisatawan mancanegara. Menurut pakar tafsir M Quraish Shihab, meskipun tempat-tempat yang dianjurkan untuk diziarahi adalah tempat-tempat mulia, seperti Masjid al-Haram Makkah, Masjid Nabawi Madinah dan Masjid al-Aqsha Palestina serta masjid-masjid bersejarah lainnya di mancanegara, juga menziarahi makam para nabi dan rasul, awliya serta makam pahlawan dan pejuang, namun melihat tempat-tempat yang pernah diazab Allah juga dibolehkan, dengan maksud untuk menjadi ibrah (pelajaran) agar hal yang sama tidak terulang.

Selalu Berulang

Meskipun Al Quran sudah banyak memuat perihal umat dan bangsa terdahulu yang dibinasakan dan dihancurkan, namun Allah tidak membatasi hal yang sama hanya untuk umat dan bangsa terdahulu tersebut saja. Artinya jika umat dan bangsa yang hidup kemudian melakukan dosa yang sama, yaitu mengingkari ajaran Allah dan Rasul-Nya, memusuhi dan menjauhi nasihat para ulama sebagai pewaris nabi, maka mereka juga akan diazab, hancur, atau dikalahkan oleh bangsa lain. Hal ini berlaku secara general, baik bagi bangsa Islam maupun non Islam.

Baca Juga :  MENJAGA LAILATUL QADAR

Dalam suatu peperangan melawan bangsa Persia yang beragama Majusi, tentara muslimin mendapatkan kemenangan yang gilang-gemilang. Ibukota Kerajaan Sasania Persia Ctesiphon (Madain) dapat dikuasai dan banyak sekali harta dan barang berharga berhasil dirampas, termasuk singgasana dan mahkota kerajaan yang serba mewah terbuat dari emas dan intan permata berhasil dibawa ke Madinah. Para pimpinan tentara dengan bangga membawa dan menyampaikan berita kemenangan ini kepada Khalifah Umar bin Khattab. Anehnya Umar justru bersedih dan menangis, sambil mengatakan, nanti ada saatnya kaum muslimin juga jatuh karena dimabuk kekuasaan dan kemewahan.

Kerajaan Romawi yang beragama Nasrani, suatu kali terlibat dalam peperangan melawan kerajaan Persia. Mulanya Persia menang, dan umat Islam di Makkah yang pro Romawi bersedih karena bagaimana pun Romawi beragama Samawi juga. Giliran kemudian Romawi yang menang, maka umat Islam pun bergembira, hal ini dapat dilihat pada surah ar-Ruum (Romawi).

Umat Islam pun ternyata tidak luput dari kebangunan dan kejatuhan. Bani Umayyah yang beribukota di Damaskus pernah berjaya, namun belum seratus tahun ia sudah jatuh disebabkan kekejaman sebagian penguasanya, kemewahan, perang saudara dan aksi belas dendam dari orang dan kaum yang dahulu ditindasnya. Seperti apa aksi balas dendam itu, nyaris tak ada keluarga Umayyah yang tersisa, sampai-sampai Abdurrahman ad-Dakhil harus melarikan diri secara menyamar ribuan kilometer menuju Spanyol dan kemudian berhasil mendirikan kekuasaan di sana. Mengapa ada aksi balas dendam, karena kekuasaan diperoleh secara curang dan saat berkuasa mereka lupa diri, merasa ingin terus berkuasa sehingga menghabisi semua lawan politiknya secara brutal dan membabi buta tanpa mematuhi kaidah-kaidah hukum.

Bani Abbasiyah yang menggantikan Umayyah dan beribukota di Baghdad sempat berkuasa selama 500 tahun, tetapi kemudian rapuh dan akhirnya hancur. Kota ini dibumihanguskan oleh bangsa Mongol Tartar pada 1258 M dengan jutaan nyawa tewas dan khazanah pengetahuan dihancurleburkan, hingga air sungai Tigris menghitam akibat tinta kitab-kitab yang dibuang ke sungai. Mengapa Abbasiyah jatuh, lagi-lagi karena kemewahan, perpecahan, perang saudara, mengabaikan ulama dan mau diadu-domba oleh musuh.

Turki Usmani yang berpusat di Istambul (Konstantinopel) sempat berjaya dengan menguasai negara adidaya (Romawi Timur). Turki pun selama berabad-abad menjadi negara adidaya di belahan Asia, Afrika dan Eropa bahkan pengaruhnya sampai ke Nusantara. Tetapi belakangan Turki menjadi the sick man of Europe (orang sakit di Eropa) karena tenggelam dalam kemewahan, perpecahan, perang saudara, antikritik dan tak menyadari sedang dipermainkan koalisi musuh.

Baca Juga :  Simfoni Perempuan Ramadhan

Spanyol Islam pun sempat berkuasa hampir seribu tahun, namun akhirnya jatuh, juga disebabkan kemewahan, perpecahan, perang saudara dan diadu-domba musuh. Tak hanya kelompok muslim garis keras yang lebih dahulu dikalahkan, tetapi akhirnya Islam paling moderat sekalipun terpaksa angkat kaki dari bumi Spanyol. Kini hanya tinggal sejumlah masjid dan istana mewah sebagai situs sejarah peningggalan kejayaan Islam.

Tidak terkecuali di Nusantara. Kerajaan Demak sempat berjaya kemudian hancur oleh perang saudara. Mataram berjaya di masa Sultan Agung, kemudian hancur karena rajanya yaitu Sultan Amangku Rat I dan II memusuhi dan membunuh banyak ulama dan mau diadudomba oleh Belanda. Juga Kesultanan Banjar berjaya sekian lama sebelum akhirnya hancur dan dikalahkan oleh adudomba dan serangan Belanda.

Jadi, bangsa dan penganut agama mana pun tidak terkecuali pasti mengalami kejayaan dan kejatuhan. Peribahasa Perancis mengatakan, le histoire se repete, sejarah selalu berulang. Hal ini sejalan dengan firman Allah, wa tilkal-ayyam nudawiluha bainan-nas, bahwa hari-hari kejayaan dan kejatuhan itu akan dipergilirkan di antara manusia. Tetapi semua tidak terjadi dengan sendirinya, ada factor-faktor penyebabnya, supaya manusia dapat mengkaji dan menarik pelajaran. Kalau manusia mau belajar dari sejarah, dengan mentaati ulama dan agama, memelihara persatuan dan kesatuan, menghindari perpecahan, penyalahgunaan kekuasaan, dan sadar untuk tidak mau diadu-domba asing, mereka akan eksis dan selamat, begitu juga sebaliknya.

Pelajaran Berharga

Muslimin Indonesia memiliki kitab suci Al Quran yang sudah sangat jelas menginformasikan sejarah masa lalu, agar peristiwa buruk jangan terulang. Hal ini sudah sering diceramahkan para ulama.

Kita bangsa Indonesia juga sudah kenyang dengan pengalaman hidup, baik di masa penjajahan Belanda dan Jepang, masa pergolakan kemerdekaan, masa transisi kekuasaan, pembangunan dan sebagainya. Semua penderitaan, kepahitan dan kegetirannya sebagian besar sudah pula dicatat dalam sejarah nasional dan lokal, meskipun tentunya belum begitu lengkap dan proporsional.

Peran kita sekarang adalah menjalani kehidupan dengan baik dan benar, agar hal-hal buruk seperti banyak diceritakan dalam Alquran dan sejarah kemanusiaan tidak terulang. Pemegang kekuasaan dan komponen bangsa pada umumnya hendaklah senantiasa menjalankan amanah dengan baik, karena apa yang kita lakukan hari ini, baik atau buruk, beberapa tahun ke depan juga akan menjadi catatan sejarah. Tak hanya itu semua perbuatan kita juga ada konsekuensinya di hadapan manusia dan Allah SWT.

Kalau kita dan kekuasaan yang dipercayakan ingin dicatat dengan tinta emas sejarah, maka berbuat baik, benar dan adil adalah kata kuncinya. Tetapi kalau para pihak berbuat sebaliknya, maka hal-hal buruk yang pernah menimpa kaum, umat dan bangsa terdahulu pasti akan berulang kembali. Padahal agama sering memperingatkan agar kita jangan jatuh ke lubang yang sama berulang kali. Wallahu A’lam.

Iklan
Iklan