Oleh : Ahmad Barjie B
Pembina Pondok Tahfizh Alquran al-Amanah Banjarmasin
Salah satu keistimewaan Ramadhan adalah bulan diturunkannya Alquran pertama kali. Selama kerasulan Nabi Muhammad SAW sekitar 23 tahun, Alquran selalu turun secara teratur hingga sempurna menjadi 30 juz, 114 surah dan lebih 6.000 ayat seperti sekarang.
Sejak awal hingga akhir zaman nanti, Alquran senantiasa terpelihara orisinalitas (keaslian), sakralitas (kesucian) dan eternalitas (kelestariannya). Hal ini karena Allah sendiri menjamin semuanya. Dalam QS al-Hijr ayat 9, Allah SWT berfirman, “Inna nahnu nazzalnaz-zikra wa inna lahu lahafizhun”. (Sesungguhnya Kami yang menurunkan Al Quran dan sesungguhnya Kami pula yang akan memeliharanya).
Ayat ini, bersama ayat lain yang senada, sempat menjadi alasan sebagian orientalis untuk menyebut Allah yang menjadi Tuhan orang Islam itu berbilang, sebab menggunakan frasa Kami, bukan bentuk tunggal Aku atau Saya. Namun kalangan mufasir terdahulu menegaskan, Allah menggunakan istilah Kami bukan berarti Allah lebih dari satu, melainkan menunjukkan keagungan dan kebesaranNya.
Perkembangan Makna
Para mufasir kontemporer memberi penjelasan lebih luas lagi. Penggunaan istilah Kami adalah sebagai penghargaan Allah kepada makhluk-makhluk lain yang terlibat dalam proses turun, penulisan, pembukuan, percetakan, pembacaan, pembelajaran hingga penghafalan Alquran.
Mulai dari proses pewahyuan Alquran, Allah sudah melibatkan Malaikat Jibril. Ayat-ayat Al Quran kemudian ditulis secara sederhana oleh para sahabat dan sebagian dihafalkan. Ketika banyak di antara penghafal Alquran masa Rasulullah dan sahabat wafat di medan perang atau sakit, Khalifah Abu Bakar dan Umar khawatir, lalu diputuskan untuk membukukan Al Quran.
Selanjutnya percetakan dan penerbitannya semakin sempurna hingga sekarang. Semua negara muslim memiliki lembaga penerbit dan percetakan Al Quran. Bahkan Arab Saudi punya lembaga raksasa yang khusus menerbitkan kitab suci Al Quran untuk disebar ke sejumlah negara dengan berbagai bahasa, bernama Mujamma’ Khadim al-Haramain al-Syarifain al-Malik Fahd Li Thiba’at al-Mushaf al-Syarif Medinah Munawwarah. Di antara jamaah Haji dan Umrah menyempatkan berkunjung ke sini. Ahmad Rosadi Martapura pernah memfasilitasi sejumlah teman jamaah Umrah PT Riyal Tunggal Banjarmasin mengunjungi tempat ini.
Kemajuan ilmu dan teknologi produk manusia, ikut menjadikan Al Quran semakin dipolesi sentuhan iptek. Orang belajar, membaca, memahami, mendengar dan menghafal Al Quran sekarang semakin mudah, praktis dan canggih. Berbagai metode, teknik, alat dan media pembelajaran Alquran semakin canggih.
Reward yang dijanjikan Allah terhadap orang yang membaca dan menghafal Al Quran umumnya bersifat ukhrawi. Misalnya Allah memberinya pahala yang berlipat ganda bahkan satu huruf bernilai 10 kebaikan, akan ada syafaat di akhirat kelak, bahkan penghafal Al Quran sanggup membebaskan anggota keluarganya yang terlanjur masuk neraka untuk kemudian dimasukkan ke surga.
Tetapi bersama dengan itu Allah juga memberikan ganjaran duniawi. Ketika orang konsisten mengajar, membaca, menghafal dan mengembangkan segala sesuatu yang berkaitan dengan Al Quran, di saat yang sama Allah memelihara dan memuliakan hidup orang tersebut. Nabi SAW menegaskan, orang terbaik di antara manusia adalah yang belajar dan mengajar Al Quran (HR al-Bukhari).
Di beberapa negara Timur Tengah, orang yang baik bacaan dan hafal Al Quran, rata-rata hidup sejahtera karena dijamin pemerintah. Tidak sedikit di antara mereka buta, namun kebutaan itu justru menjadi berkah baginya karena berdampak hafalannya semakin kuat. Fokus pada Al Quran saja dan tidak lagi melihat hal-hal lain yang dapat melunturkan hafalannya.
Tokoh reformasi Amien Rais memiliki seorang guru Al Quran yang berani berdoa minta dibutakan matanya jika sudah hafal Al Quran. Ternyata doanya dikabulkan Tuhan, guru tersebut buta, namun merasa nyaman dengan hidupnya bersama Al Quran.
Berdasarkan kesaksian KH Madyan Noor Mar’ie Lc, alumnus Universitas Madinah yang ahli membaca dan menafsirkan Al Quran, banyak sekali kenalannya khususnya di Jakarta yang hidup sejahtera sebagai guru Al Quran. Mereka tidak mengharapkan imbalan dari ilmunya, tetapi rezeki datang sendiri dan selalu diberi kemudahan hidup dalam urusan dunia.
Di daerah kita pun banyak orang yang lancar menjadi PNS, kerja dan kariernya, dimudahkan rezekinya, karena dekat Al Quran. Sepanjang tidak sombong, materialistik dan tidak dinodai oleh hal-hal yang kurang terpuji, mereka berhak dimuliakan. Allah memang mengangkat orang beriman dan berilmu beberapa derajat.
Prospek Indonesia
India, Pakistan dan Bangladesh adalah negara di Asia Selatan yang muslimnya semakin dekat Al Quran. Sejak lama keluarga di sana memprogramkan menghafal Al Quran, minimal satu orang per keluarga hafal Al Quran. Di negara kita, gerakan belajar membaca dan menghafal Al Quran semakin intensif dalam 30-an tahun terakhir. KH Chairani Idris cs berhasil menggerakkan pembelajaran Al Quran melalui TKA dengan metode Iqra. Kini sudah go national bahkan mendunia. Sekarang sejumlah lembaga tahfizh Al Quran berkembang di mana-mana. TVRI Kalsel tiap Ramadhan menggelar kegiatan memuliakan Al Quran, dengan mengapresiasi pembaca dan penghafal Al Quran cilik, ada namanya Bahana Ramadhan lil Aulad.
Membaca dan menghafal Al Quran mulanya hanya dilakukan kalangan santri, ustadz dan keluarga ulama. Tetapi belakangan kalangan terpelajar umum, artis, intelektual dan eksekutif ikut ramai-ramai membaca dan menghafal Al Quran. Di Arab Saudi, selain kalangan terpelajar dan eksekutif, para buruh, tukang, pekerja kasar dan ibu-ibu rumah tangga pun aktif menghafal Al Quran.
Semula orang sempat ragu, menghafal Al Quran dapat mengganggu konsentrasi belajar dan menguasai ilmu-ilmu lain. Tetapi hal ini pernah dibantah oleh Rektor UIN Mawlana Malik Ibrahim Malang, Prof Dr H Imam Suprayogo. Pihaknya telah melakukan riset, ternyata para mahasiswa yang hafal Al Quran jauh lebih tinggi prestasinya ketimbang mahasiswa kebanyakan. Kini banyak perguruan tinggi bergengsi, umum dan agama, termasuk UIN Antasari, berlomba merekrut mahasiswa hafal Al Quran dengan fasilitas beasiswa. Demikian cerita Prof Dr H Ahmad Fauzi Aseri, MA, Rektor IAIN Antasari ketika meresmikan Pondok Tahfiz al-Amanah Banjarmasin beberapa tahun silam.
Rupanya setelah hafal Al Quran, ilmu-ilmu lain justru lebih mudah dipahami dan dikuasai. Amien Rais mengibaratkan, menghafal Al Quran dan belajar bahasa Arab seperti naik gunung, kalau sudah sampai ke puncak (berhasil), maka bahasa Inggris dan ilmu-ilmu lain tinggal mengikuti, seperti orang turun gunung saja, lebih mudah. Bahkan banyak ilmu bisa digali dan dikembangkan dari Al Quran. Benar ungkapan, Al Quran is the mother’s sciences.
Tidak diragukan lagi, Allah bukan hanya memelihara Al Quran yang tertulis, tetapi juga menjamin kehidupan orang yang aktif membaca, belajar, mengajar, dan menghafal Al Quran. Ketika hal itu dilakukan, Allah akan memberi ganjarannya.
Persoalannya, masih banyak masyarakat yang ragu dan mengabaikan Al Quran. Bukan saja enggan berhukum kepada Al Quran, tetapi juga malas belajar, bahkan tak sedikit yang tidak mau berkorban harta/uang barang sedikit untuk memajukan pendidikan Al Quran. Ada orang tua tak mau membayar SPP anaknya di TK/TP Al Quran, padahal besarnya tidak seberapa dibanding uang jajan dan membeli pulsa dan berlangganan internet. Banyak yang enggan memberi gaji memadai untuk guru-guru Al Quran. Akibatnya gaji mereka jauh di bawah UMR, apalagi dibanding gaji PNS. Wajar kehidupan bangsa ini seperti kehilangan berkah dan marak bencana.
Sudah waktunya sikap ini dikoreksi dan direvisi. Kalau kita tidak mendukung pembelajaran Al Quran, berarti kita terlepas dari jaminan keselamatan dan rahmat Tuhan. Padahal keselamatan, rahmat, dan ridha Tuhan kunci kebahagiaan dunia dan akhirat. Wallahu A’lam.












