Iklan
Iklan
Iklan
Derap Nusantara

BPBD Luwu Sebut 2.896 Warga Masih Mengungsi Tersebar di Sembilan Kecamatan

×

BPBD Luwu Sebut 2.896 Warga Masih Mengungsi Tersebar di Sembilan Kecamatan

Sebarkan artikel ini
Kepala Dinas Sosial Sulsel Muhammad Malik Faisal saat menyambangi berbagai posko pengungsian di Kabupaten Luwu guna memastikan bantuan bagi pengungsi terpenuhi pada Selasa malam (14/05/2024). (Antara/ Repro Humas Pemprov Sulsel)

MAKASSAR, Kalimantanpost.com –
Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Luwu mencatat 2.896 pengungsi yang tersebar di sembilan kecamatan.

Memasuki hari ke-12 pascabencana banjir dan tanah longsor di Kabupaten Luwu, jumlah pengungsi dari berbagai desa di kecamatan terdampak terus bertambah.

Camat Bajo, Kabupaten Luwu, Hidayah melalui keterangannya, Rabu (15/5/2024) menyebutkan total jumlah pengungsi yang berada di kecamatan itu saat ini berjumlah 1.361 jiwa.

“Hampir semua dari Kecamatan Latimojong Desa Pajang, Bone Posi, Tibussang, Ulu Salu, Buntu Sarek,” ucapnya.

Kendati demikian, kebutuhan seribuan pengungsi tersebut terbilang terpenuhi. Mulai dari logistik maupun kesehatan saat ini cukup terpenuhi.

“Alhamdulillah logistik warga dapat terpenuhi baik dari posko induk maupun dari pihak lain. Logistik kami sangat dipedulikan,” ungkapnya.

Ada 2.896 pengungsi tersebar di sembilan kecamatan yakni di Masjid Paragusi Kecamatan Latimojong 50 jiwa, Masjid Al Furqon Desa Tibussan 480 jiwa, Kecamatan Kamanre 76 Jiwa, Kecamatan Bajo Barat 575 jiwa, Masjid Desa Botta di Kecamatan Suli 20 jiwa dan di masjid Babussalam Cimpu lima jiwa.

Selanjutnya di Kantor Desa Kaili Kecamatan Suli Barat sebanyak 8 jiwa, di Dusin Pakke Bupon Kecamatan Bupon sebanyak 52 jiwa, Desa Tampumia Bupon sebanyak 93 jiwa. Lalu di Kecamatan Belopa terdapat 101 pengungsi, Kecamatan Belopa Utara terdapat 48 jiwa, Kecamatan Bajo berjumlah 1.343 jiwa di rumah-rumah warga dan 18 jiwa di Shelter Desa Saronda Bajo.

Selain menempati dua posko pengungsian yang disediakan pemerintah di Desa Kadundung Kecamatan Latimojong dan Desa Saronda Kecamatan Bajo, masyarakat yang mengungsi juga menempati fasilitas-fasilitas umum seperti masjid dan sekolah serta tersebar di rumah warga yang lokasinya aman dari bencana.

Baca Juga:  Ribuan Siswa Berjejer Saat Kendaraan Presiden Melintas di Kota Kendari

Salah seorang warga yang mengungsi di Kecamatan Belopa, Mudun (52 Tahun) yang berasal dari Desa Bonto Sarek, Kecamatan Latimojong mengatakan telah menempati salah satu rumah warga sejak Senin, 6 Mei 2024, tiga hari pasca bencana longsor yang terjadi.

Pria yang berprofesi sebagai petani ini mengatakan telah kehilangan 8 anggota keluarga pada kejadian nahas yang terjadi pukul 3 dini hari.

Delapan anggota keluarganya ditemukan meninggal dunia usai tertimpa bangunan rumah yang tertimbun longsor. Delapan korban tersebut adalah Rumpak (L, 97 Tahun), Jatimah (P, 55 tahun), Rima (P, 84 Tahun), Kapila (P, 84 tahun), Sampe (P, 55 Tahun), Muh. Misdar (L, 29 Tahun), Mawi (P, 57 Tahun), Sukma (P, 9 Tahun). Ke delapan anggota keluarga tersebut berhasil dievakuasi secara mandiri oleh warga di hari pertama longsor terjadi.

“Tidak cukup satu hari mereka sudah ditemukan, oleh warga sendiri,” kata dia.

Midun mengaku, berjalan kaki selama 4 jam bersama istri dan kedua anaknya untuk mencapai kediaman warga tempatnya mengungsi hingga hari ke-13 ini. Sebelum menempati posko pengungsian, dia bersama anak dan istrinya sempat menempati masjid di desa.

“Alhamdulillah, makanan masuk dan kesehatan juga diperhatikan, kami berterima kasih,” kata dia di posko pengungsian.

Selain Midun, pengungsi lain Kecamatan Bajo, Kurniaty (33 tahun) mengatakan telah meninggalkan desanya, Tibussang Kecamatan Latimojong sejak Hari Sabtu (4 Mei 2024) bersama 7 orang anggota keluarganya yang terdiri dari orang tua, adik, anak dan serta suami.

Sama seperti Midun, ia bersama anggota keluarga dan anaknya yang masih berusia 2 tahun menempuh 4 jam berjalan kaki untuk mencapai lokasi pengungsian.

Kepala Dinas Sosial Sulsel, Abdul Malik Faisal memastikan tidak ada kendala berarti dalam distribusi logistik yang dilakukan di setiap kecamatan yang terdampak bencana.

Baca Juga:  Indonesia Pertahankan Peringkat Layak Investasi

“Baik melalui jalur darat maupun udara, terus kami drop, utamanya di 12 desa di Kecamatan Latimojong yang sebelumnya terisolir akibat terputusnya akses jalan,” ujarnya.

Dari data yang ada hingga Selasa, 14 Mei 2024, total beras yang telah disalurkan ke seluruh kabupaten terdampak bencana di Sulsel berjumlah 152 ton.

“Penyaluran ini terus kami laksanakan dari posko induk, baik berupa kebutuhan pangan maupun sandang, tikar, bantal, selimut, obat-obatan, hingga mainan untuk anak-anak di tempat pengungsian,” katanya. (Antara/Tim Kalimantanpost.com)

Iklan
Iklan