Iklan
Iklan
Iklan
OPINI PUBLIK

Galaunya Umat dan Ulama

×

Galaunya Umat dan Ulama

Sebarkan artikel ini

Oleh : Ahmad Barjie B
Pemerhati Sosial Keagamaan

Sebagaimana kalender Tahun Masehi, dalam kalender Tahun Hijriah juga terdapat 12 bulan, salah satunya bulan Safar. Bagi sebagian umat Islam Indonesia, terutama kelas awam, bulan ini dianggap bulan yang naas, panas, sial, sering terjadi bala bencana dan marabahaya dalam berbagai bentuknya.

Di hari Rabu terakhir bulan Safar ada yang dinamakan Arba Mustamir. Di Pulau Lombok NTB disebut Rabu Bontong. Saat itu dipercaya Allah menurunkan berbagai macam bala dan penyakit yang disebar dalam setahun dan akan ditimpakan kepada manusia.

Bagi mereka yang percaya, malam Arba Mustamir akan diadakan ritual ibadah, pembacaan Al Qur’an, doa, zikir dan sebagainya, yang intinya sebagai upaya tolak bala. Agak mirip dengan malam Nisfu Sya’ban di pertengahan bulan Sya’ban menjelang Ramadhan, saat sebagian umat Islam juga melaksanakan ritual ibadah dan pertaubatan dalam rangka memasuki bulan suci Ramadhan.

Arba Mustamir menurut keyakinan umat setahun ke depan akan terjadi berbagai hal yang tidak diketahui, termasuk tidak menutup kemungkinan akan terjadinya bala bencana, baik yang menimpa individu, keluarga maupun komunitas masyarakat. Akibatnya terjadilah ada yang menggelar ritual malam Arba Mustamir, dan bagi yang malas tidak mengikuti kedua-duanya.

Sebenarnya, sebagian ulama yang berpendidikan tinggi dan lebih rasional dalam beragama sudah jauh-jauh hari mengantisipasi, bahwa sesungguhnya yang namanya Arba Mustamir itu tidak ada. Bahwa tidak ada kesialan pada bulan Safar atau minggu keempatnya. Semua bulan sama saja, baik dan buruk tidak ada hubungannya dengan hari, waktu dan bulan tertentu.

Tidak Kritis

Ritual tolak bala saat Arba Mustamir dan Safar bulan naas dasarnya sangat lemah. Tidak ada dalilnya dalam Al Qur’an dan hadits, hanya pendapat seorang ulama bernama Syekh Abdul Hamid Muhammad Ali Quds. Dia menyatakan di hari Rabu terakhr bulan Safar (Arba Mustamir) Allah menurunkan 320 ribu bala bencana dan penyakit yang akan disebar dalam setahun. Menurut Syekh Abdurrahman bin Ali, dalil tentang naasnya bulan Safar adalah maudlu (palsu), jadi tidak bisa dijadikan dasar mengadakan ritual tertentu.

Baca Juga:  Rencana NASA Turunkan Internasional Space Station di Tahun Mendatang

Sejumlah ulama besar di Banjarmasin Kalsel, berusaha menolak anggapan umat selama ini. Guna menolak anggapan Safar bulan sial, Alm Guru Sekumpul KH Muhammad Zaini Abdul Ghani membangun rumah di Kompleks Ar-Raudhah Sekumpul Martapura justru pada bulan Safar. Dan beliau menyuruh pengusaha Banjar H Norhin mulai membangun Kompleks Perumahan Citra Graha Jl Jendral Ahmad Yani km 17 Banjarmasin juga pada bulan Safar.

Sikap demikian juga dianut oleh Ketua MUI Kalsel dan Rektor IAIN Antasari Banjarmasin alm Prof Drs KHM Asywadie Syukur Lc, yang sengaja mengawinkan salah seorang putrinya pada bulan Safar. Ulama lainnya, KH Abdussamad Sulaiman, Lc dan KH Husin Naparin, Lc MA juga menolak justifikasi Safar sebagai bulan naas, panas dan sial. Di salah satu edisi majalah Al-Qalam yang diterbitkan oleh MUI Kalsel juga ada fatwa tentang bulan Safar ini.

Kenyataannya tidak mudah bagi ulama meluruskan kepercayaan umat. Sebagian umat masih mempercayai adanya kesialan tersebut. Akibatnya ada yang tidak berani menggelar pernikahan dan pesta perkawinan. Ada yang tidak berani membangun rumah atau memulai usaha. Atau tidak berani bepergian jauh. Puncaknya, masih banyak yang menggelar ritual tolak bala di minggu keempat bulan Safar. Muara dari keengganan ini maka terjadilah sikap pasif dan kontraproduktif. Banyak agenda penting yang tertunda bahkan batal karenanya.

Hal ini diperparah pula oleh adanya sebagian guru agama yang sengaja mendramatisasi momentum tersebut. Mungkin ada juga dengan motif supaya diundang untuk memimpin upacara peribadatan Arba Mustamir. Selebihnya karena ikut-ikutan dan tidak memiliki daya kritis, sehingga asal ada dalil maka semua ritual dilakukan.

Bukan Transenden

Persoalan mendasar di sini tidak semata dilakukan atau tidak dilakukannya ritual tolak bala. Tetapi yang parah adalah adanya anggapan, seolah bala itu datangnya dari Allah saja, bukan karena kesalahan manusia. Padahal sebenarnya berbagai bala bencana dan bahaya, baik yang terjadi di darat, laut dan udara, semua karena akibat perbuatan manusia. Kullu syai-in sababa. segala sesuatu terjadi pasti ada penyebabnya.

Baca Juga:  Komersialisasi Kasus Kriminal

Memang kita mengakui amat banyak terjadi bala bencana dan bahaya di sekitar kita, di daerah dan negeri kita, bahkan di berbagai belahan dunia. Kecelakaan pesawat, kereta api, kapal laut, mobil dan berbagai sarana lalulintas, kecelakaan kerja, bahkan juga bencana alam, wabah penyakit, perang dan sebagainya.

Tetapi semua itu tidak berdiri, semua ada penyebabnya. Semua itu hanya akibat kesalahan manusia. Banyak ayat Al Qur’an menegaskan sesuatu yang terjadi adalah hasil perbuatan manusia sendiri. Hadis juga memastikan, bala bencana tidak diturunkan kecuali karena dosa manusia dan tidak dijauhkan bala bencana kecuali karena bertobat.

Anggapan bahwa balabencana berasal dari Allah seolah mengesankan Allah itu sumber bencana, mahapemarah, perusak, pembalas, pendendam. Padahal sesungguhnya sifat Allah adalah Mahapengasih, Mahapenyayang, Mahapengampun dan Mahapemaaf kepada mahasia. Memang tidak salahnya kita berdoa, berzikir, membaca Al Qur’an, shalat taubat atau apa pun namanya, tetapi sebaiknya tidak dihubungkan dengan Safar dan Arba Mustamir. Seyogyanya itu dilakukan setiap saat, atau kapan saja.

Anggapan tersebut menjadikan manusia tidak kritis dan rasional. Segala sesuatu yang terjadi gampang dikembalikan kepada Allah, tanpa lebih dahulu melakukan koreksi terhadap dirinya sendiri. Padahal self-correction sangat penting guna memperbaiki diri agar tidak melakukan kesalahan berulangkali. Salah satu kealfaan bangsa ini adalah rendahnya kemampuan melakukan otokritik, akibatnya amat banyak kesalahan terjadi beruang-ulang. Agama menyebut orang yang jatuh ke lubang yang sama itu bodoh atau dungu.

Sikap rasional sangat dibutuhkan agar kita bekerja profesional. Profesional dalam bahasa agama adalah amanah, jujur, penuh tanggung jawab dan ahli di bidangnya. Kalau suami istri tidak setia, kurang tanggung jawab, biar nikah dan kawin di bulan yang dianggap baik (Rabiul Awwal), tetap saja perceraian terjadi. Buktinya angka perceraian di Kalsel sangat tinggi, menurut Ketua Pengadilan Agama Banjarmasin H Ahmad Farhat SAg SH MH, rata 2000 kasus setiap tahunnya, padahal rata-rata menikah di bulan baik. Bahkan nikah di tanah suci dan sisi Ka’bah pun tak menjamin keharmonisan rumah tangga.

Baca Juga:  Mediasi Penyelesaian Sengketa Tanah

Kalau sebuah pesawat sudah berumur lama dan banyak spare-partnya rusak sehingga tidak layak lagi terbang, maka masinis, pilot dan segenap awak pesawat harus jujur. Jangan memaksakan diri terbang, sehingga ketika terjadi kecelakaan menyalahkannya sebagai takdir Allah. Takdir itu adalah ketika manusia sudah berbuat profesional dan optimal, lantas terjadi hal yang tidak diinginkan. Wallahu A’lam.

Iklan
Iklan