Iklan
Iklan
Iklan
OPINI PUBLIK

Membasmi Jentik untuk Singkirkan Penyakit

×

Membasmi Jentik untuk Singkirkan Penyakit

Sebarkan artikel ini

Oleh : Khaerul Izan
Pemerhati Kesehatan Masyarakat
 
Berbekal senter kecil di tangan, mereka menyusuri gang sempit. Sesekali berhenti di depan pintu rumah warga yang dilintasi dan meminta izin untuk memeriksa setiap sudut rumah yang dicurigai.

Senter kecil itu kemudian di gerakkan naik turun, kanan kiri. Matanya mengawasi setiap pergerakan sekecil apa pun yang ditemukan pada genangan air.

Minuman burung di sangkar pun tidak luput dari pemeriksaan, apalagi kamar mandi, ember, kaleng dan sudut-sudut rumah yang berpotensi menjadi sarang nyamuk, dengan teliti mereka mencari jentik untuk dibasmi.

Mereka merupakan kader Juru Pemantau Jentik (Jumantik) yang berasal dari Kelurahan Cipete Utara, Kecamatan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

Meskipun hanya berbekal senter kecil, mereka tetap gigih mencari keberadaan jentik-jentik nyamuk yang kerap membawa penyakit.

Kegiatan itu memang tidak hanya dilakukan kali itu saja, namun dalam sepekan pasti ada kegiatan serupa untuk membasmi jentik-jentik nyamuk.

Selain membasmi jentik, mereka juga mengedukasi warga agar melakukan hal yang sama secara mandiri, supaya perkembangan nyamuk demam berdarah dengue (DBD) dapat ditekan, terutama pada pancaroba atau peralihan musim seperti sekarang.

“Ibu ingat ini ada jentik nyamuk, tolong lebih diperhatikan lagi, terutama barang-barang seperti ember yang tergenang air,” kata seorang kader Jumantik ketika menemukan adanya jentik nyamuk, saat gerebek pengendalian sarang nyamuk (PSN) serentak di DKI.

Gerakan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) dengan menerapkan gerakan 3M plus, yaitu menguras, menutup, mendaur ulang, plus kegiatan lain yang mencegah perkembangbiakan dan gigitan nyamuk Aedes Aegypti terus digencarkan.

Langkah itu dirasa efektif dalam mengurangi kembang biak nyamuk pembawa penyakit DBD yang sampai saat ini masih terjadi ketika masuk musim pancaroba.

Baca Juga:  Mengungkit Minat Membaca

PSN 3M plus bukan hanya tugas dari pemerintah atau kader Jumantik, tapi kewajiban semua warga dalam rangka membasmi jentik dan sarang nyamuk yang membawa penyakit.

Ditingkatkan

Pemerintah Kota Jakarta Selatan meningkatkan Program PSN 3M plus yang biasanya hanya dilakukan satu kali dalam sepekan, kini ditingkatkan menjadi dua kali. 

Peningkatan PSN 3M plus perlu dilakukan dalam rangka menekan kasus DBD di daerah itu yang sempat melonjak dari awal tahun, bahkan terdapat kasus kematian.

Oleh karena itu, semua tatanan, mulai dari rumah tangga/pemukiman, institusi pendidikan, perkantoran, tempat-tempat umum, tempat penjualan makanan, fasilitas olahraga, dan fasilitas kesehatan perlu menerapkan PSN 3M plus.

Wali Kota Jakarta Selatan Munjirin telah memerintahkan para camat dan lurah yang punya kader Jumantik agar lebih teliti lagi saat memeriksa jentik, dan ditingkatkan dari sebelumnya hanya satu kali dalam sepekan, pada bulan-bulan ini harus menjadi dua kali.

Selain itu, yang terpenting untuk ditekankan adalah jumantik mandiri, jumantik setiap jalan ke rumah-rumah, selain memeriksa, juga dapat mengedukasi masyarakat.

Kasus DBD di Jakarta Selatan sempat menjadi yang tertinggi di DKI Jakarta, dan puncaknya terjadi pada Maret 2024, dengan jumlah kasus mencapai 518, sedangkan secara keseluruhan kasus DBD di daerah itu hingga pertengahan April 2024 berada di angka 1.038 kasus.

Gerakan PSN 3M plus ini membuktikan bahwa apa yang diupayakan ketika dijalankan secara bersama dan terus menerus, maka akan tercapai pada tujuan yang dimaksud.

Oleh karena itu, gerakan ini jangan pernah mengendor, apalagi kasus DBD di DKI diperkirakan akan masih berlangsung hingga Mei mendatang.

Suku Dinas Kesehatan Jakarta Selatan menyatakan bahwa ada penurunan cukup signifikan setelah gencarnya PSN 3M plus di berbagai tatanan.

Baca Juga:  Keluarga Terancam Generasi Hilang

Pada Maret, jumlah kasus ditemukan sebanyak 518 kasus dengan satu kematian, dan hingga tanggal 22 April 2024 kasus DBD turun menjadi 232 kasus serta tidak ada kematian.

Data tersebut menunjukkan penurunan kasus yang cukup signifikan dari bulan sebelumnya, dan ini tidak lepas dari peranan masyarakat menerapkan PSN 3M plus.

Selain gerakan tersebut, Sudinkes juga melaksanakan sejumlah antisipasi lainnya, berupa pengasapan di tempat-tempat yang sudah ditemukan kasus DBD.

Kalau ditemukan kasus, suku dinas itu langsung turun dengan melakukan pengasapan. 

Inovasi wolbachia

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menyatakan bahwa program nyamuk ber-wolbachia yang digunakan untuk mengatasi demam berdarah dengue kini diimplementasikan di enam kota, di antaranya Semarang, Bontang, Bandung, dan Kupang.

Wolbachia merupakan bakteri alami pada 60 persen serangga, dan dalam tubuh nyamuk Aedes Aegypti, dapat menurunkan replikasi virus dengue, sehingga dapat mengurangi kemampuan nyamuk itu dalam menularkan demam berdarah.

Penelitian tentang wolbachia telah dilakukan oleh berbagai ahli dari sejumlah negara, serta telah melalui diskusi ilmiah yang menjelaskan bahwa penggunaan bakteri tersebut aman.

Kemenkes mencatat bahwa partisipasi dan dukungan masyarakat mengenai wolbachia masih perlu ditingkatkan karena minimnya informasi serta banyaknya hoaks yang beredar.

Oleh karena itu, media massa harus turut berpartisipasi menyebarkan informasi yang benar mengenai program tersebut guna mengedukasi masyarakat.

Dalam waktu dekat Dinas Kesehatan DKI Jakarta segera merilis nyamuk ber-wolbachia di Kecamatan Kembangan, Jakarta Barat.

Perilisan nyamuk ber-wolbachia memang sempat tertunda beberapa kali karena warga belum mengetahui informasi utuh terkait program tersebut, sehingga ada penolakan.

Setelah beragam pendekatan dan edukasi dari pemerintah daerah terkait penyebaran nyamuk ber-wolbachia, akhirnya masyarakat mau menerima. Untuk itu dalam waktu dekat segera disebarkan dalam upaya untuk menekan DBD di daerah itu.

Baca Juga:  Menjadi Pendidikan Top Dunia Dengan Pendekatan 2 Menit

Selain PSN 3M plus dan inovasi dengan menyebarkan nyamuk ber-wolbachia, cara menanggulangi DBD lainnya adalah dengan penyuntikan vaksin untuk dengue.

Sejauh ini, terdapat dua vaksin, yaitu Dengvaxia yang diberikan pada anak berusia 9-16 tahun, namun perlu skrining awal status serologi terlebih dahulu.

Kedua, vaksin Qdenga yang rentangnya bisa lebih lebar, yakni untuk usia sampai 45 tahun, diberikan dosisnya dua kali dan tanpa skrining awal.

Upaya pengendalian DBD memang beragam caranya, mulai dari pemberantasan sarang nyamuk, mematikan jentik, menerapkan 3M plus, inovasi pengendalian nyamuk, dan juga vaksinasi.

Semua itu dapat dilakukan, namun yang paling mendasar adalah bagaimana semua masyarakat sadar akan bahaya DBD dengan tetap rutin membasmi jentik melalui gerakan PSN 3M plus, dengan kesadaran dari diri sendiri dan itu merupakan kunci, sehingga apa yang dilakukan oleh pemerintah sebagai representasi kehadiran negara di tengah masyarakat dapat berhasil maksimal. 

Iklan
Iklan