Space Iklan
Space Iklan
Space Iklan
OPINI PUBLIK

Pelaku Kriminal di Bawah Umur?

×

Pelaku Kriminal di Bawah Umur?

Sebarkan artikel ini

Oleh : Hikmah, S.Pd
Praktisi Pendidikan dan Pemerhati Generasi

Anak-anak adalah tumpuan harapan bangsa, akan tetapi sungguh miris melihat kondisi generasi saat ini, berbagai perilaku buruk mereka lakukan sampai melakukan tindak kriminal salah satunya melakukan pembunuhan. Peristiwa pembunuhan yang masih hangat tersebut tidak hanya terjadi di satu tempat saja, fakta ini menunjukkan sangat parahnya perilaku yang masih masih di bawah umur.

Sebagaimana yang diberitakan oleh beberapa media online diantaranya. Bocah laki–laki berinisial MA (6 tahun) asal Sukabumi menjadi korban pembunuhan, tidak hanya dibunuh anak yang baru mau duduk disekolah dasar ini juga menjadi korban kekerasan seksual sodomi. SUKABUMIKU.id. 2 Mei 2024 (https://sukabumiku.id/bocah-di-sukabumi-jadi-korban-pembunuhan-dan-sodomi-polisi-tangkap-pelaku/)

Pihak kepolisian menemukan fakta baru dalam persidangan dua tersangka atas kematian Airul Harahap (13), santri Pondok Pesantren Raudhatul Mujawwidin, Kabupaten Tebo, Provinsi Jambi. Terdakwa AR (15) divonis dengan hukuman 7 tahun 6 bulan penjara, sedangkan RD (14) divonis lebih ringan dengan hukuman 6 tahun 6 bulan penjara. Mereka merupakan senior Airul Harahap di Ponpes tersebut. METROJAMBI.COM. 4 Mei 2024 (https://www.metrojambi.com/hukum/134614889/tiga-anak-berhadapan-dengan-hukum-segera-jadi-tersangka-kasus-kematian-santri-di-jambi)

Maraknya kriminalitas oleh anak-anak merupakan gambaran buruknya output dalam sistem pendidikan Kapitalisme sekuler. Dimana dalam sistem pendidikannya ada dikotomi, hal itu bisa dilihat dari adanya sekolah umum dan sekolah agama. Di sekolah umum Pendidikan agama mendapat porsi yang sangat minim, kalau ingin sekolah yang banyak Pelajaran agamanya silahkan masuk sekolah agama dimana itupun tidak menjamin perilaku peserta didik menjadi baik dan benar karena materinya pun diberikan sama dengan materi umum lainnya hanya sebatas ilmu pengetahuan belaka, yang tidak ada pengontrolan untuk diamalkan oleh peserta didik. Artinya dalam system kapitalisme keimanan diserahkan ke individu masing-masing, mau beriman mau tidak terserah, mau taat atau tidak kepada penciptanya terserah si individu, yang penting tidak ada orang lain yang merasa dirugikan maka dianggap aman. Contoh orang mau berzina tidak ada hukum yang menjerat selama yang melakukan suka sama suka dan tidak ada laporan pelecehan.

Baca Juga:  Intervensi Jodoh, Solusi Kemiskinan?

Tidak adanya sinergi antara orang tua dan sekolah dalam memdidik anak. Orang tua dianggap hanya sebagai pihak pemberi materi, sementara itu orang tua juga hanya mengejar materi sebagaimana yang ditanamkan oleh kapitalisme. Bahkan ada orang tua yang hanya menyerahkan Pendidikan anaknya ke sekolah dan apabila ada anaknya yang berperilaku buruk maka pihak yang disalahkan adalah sekolah. Pihak sekolah juga terkadang hanya sekedar menyelesaikan materi sesuai tuntutan kurikulum. Dari sini siapakah yang patut untuk disalahkan

Sanksi yang tidak menjerakan apalagi jika pelaku anak-anak (usia kurang dari 18 tahun) ada peradilan anak sehingga tidak bersifat preventif dan kuratif. Hal ini juga yang menjadi salah satu sebab maraknya dan berulangnya peristiwa-peristiwa kriminal, bahkan sudah tidak pandang usia.

Untuk mendapatkan solusi yang tepat, tentunya harus mendapatkan akar permasalahnnya yang tepat pula. Secara fitrahnya manusia itu berperilaku sesuai dengan apa yang ada dalam pikirannya atau sesuai dengan pemahamannya sehingga untuk mengubah perilaku buruk manusia haruslah mengubah pemahanannya terlebih dahulu. Pemahaman inilah yang harus benar, pemahaman yang benar ini harus bisa menjawab tiga pertanyaan besar di kepala manusia yaitu dari mana manusia berasal, untuk apa manusia hidup, dan kemana sesudah kehidupan dunia ini. Dan yang bisa menjawab dengan benar pertanyaan-pertanyaan tersebut hanyalah sebuah Aqidah yang merupakan gabungan pemikiran dan metode menerapkan pemikiran tersebut.

Islam merupakan satu-satunya Aqidah yang mampu menjawab tiga pertanyaan tersebut dengan benar. Islam mampu menjawab dari mana manusia dan alam semesta serta kehidupan ini berasal yaitu dari sang pencipta yaitu Allah SWT, manusia diciptakan untuk beribadah/mentaati segala aturan dari sang penciptanya, Islam mempunyai aturan yang komprehensif sebagai panduan manusia dalam menjalani kehidupann ini. Jawaban pertanyaan ketiga yaitu manusia serta alam semesta ini akan Kembali kepada sang pencipta untuk mempertanggung jawabkan segala perbuatannya di muka bumi ini.

Baca Juga:  Rakyat dan Calon Pemimpin Merakyat

Dalam Islam tidak ada dikotomi pendidikan, Sistem pendidikan Islam berdasarkan akidah Islam, dan akan menghasilkan peserta didik berkepribadian Islam bukan kriminal. Semua pihak wajib saling bersinergi dalam Pendidikan generasi.

Peran orang tua dalam Pendidikan anak sangat besar. Ibu adalah sekolah pertama dan pendidik pertama. Masyarakat juga berkewajiban untuk turut menjaga perilaku generasi dan yang tidak kalah penting adalah tanggung jawab negara, negara berkewajiban untuk menjamin Pendidikan generasi didapatkan secara merata dan membuat kurikulum yang berasaskan Islam

Islam menetapkan adanya sanksi tegas yang bersifat preventif dan kuratif dan tidak membedakan usia selama sudah baligh atau dilakukan dalam keadaan sadar. Sistem Islam Ketika diterapkan secara sempurna oleh sebuah negara sebagaimana telah dicontohkan oleh Rasulullah dan para sahabat mampu mencetak generasi yang unggul disegala bidang lagi berakhlak mulia sehingga memberikan Rahmat bagi seluruh alam.

Oleh karena itu untuk mngubah kondisi generasi saat ini harus segera Kembali menerapkan sistem Islam secara menyeluruh dalam kehidupan.

Lebih dari itu menerapkan sistem Islam secara menyeluruh dalam kehidupan dunia ini adalah sebagai bukti keimanam kepada Allah SWT sebagai pencipta manusia dan alam semesta ini. Wallahu a’lam

Iklan
Iklan