Space Iklan
Space Iklan
Space Iklan
Banjarmasin

Bery Furqon Sebut Gagasan Soekarno tentang Trisakti Masih Relevan, Indonesia Belum Berdaulat

×

Bery Furqon Sebut Gagasan Soekarno tentang Trisakti Masih Relevan, Indonesia Belum Berdaulat

Sebarkan artikel ini
Suasana diskusi dengan tema Membumikan Gagasan Soekarno di Bumi Kalimantan Selatan di helat di Tradisi Kopi, Km 5 Banjarmasin, Sabtu (8/6/2024) malam. (Kalimantanpost.com/ful)

BANJARMASIN, Kalimantanpost.com – Suasana penuh keakraban, santai dan menarik mewarnai diskusi terbatas yang mengambil tema Membumikan Gagasan Soekarno di Bumi Kalimantan Selatan di helat di Tradisi Kopi, Km 5 Banjarmasin, Sabtu (8/6/2024) mulai pukul 20.30 Wita hingga 22.45 Wita.

Diskusi yang digelar dalam rangka memperingati hari lahirnya Pancasila dihadiri diantaranya anggota DPR RI Syamsul Bahri, mantan Perwakilan Ombusmen Nurchalis Majid, mantan Wakil Bupati Hulu Sungai Tengah dan Ketua Walhi Indonesia Bery Furqon, mantan Sekda Kalsel H Haris Makkie, Ketua Umum PITI (Persatuan Imam Tauhid Islam Indonesia Winardi Sethiono, dosen muda FISIP ULM Yana dan lain-lain, perwakilan Muda, serta LSM di Kota ini.

Diawali dengan ungkapkan dari moderator sekaligus penggagas acara H Sukhowardi yang ‘memancing’ pernyataan Presiden terpilih Prabowo yang bersuara “Soekano itu jangan menjadi milik satu golongan”.

“Malah kita di Banua seringkali tidak tahu, ternyata seorang tokoh Barito Putera HA Sulaiman HB (alm) dan Ketua Golkar pernah memanggil tokoh PDIP garis keras waktu itu, alm Faisal. Sulaiman mengatakan, aku ini orang Soekarno jua jangan ikam saja. Gambar di kamar pribadi H Sulaiman penuh dengan gambar Soekano saja,” ujarnya.

Menurut Sukhowardi, yang harus dijewantahkan di Kalsel, khususnya di Banjarmasin ini apa gerang Trisakti dan nawacita itu. “Kenapa itu dipertahankan PDIP dan sebagai simbol pemersatu dan gagasan,” ujarnya.

Ditambahkan anggota DPRD Kota Banjarmasin ini, perdebatan-perdebatan kecil tentang Trisakti didiskusi ini bahwa PDIP adalah bukan mengklaim Soekarno punya PDIP.

“Justru PDIP yang mengusung ide dasar atau cita-cita bangsa lewat visi misinya,” tegasnya.

Pancingan Sukhowardi ini langsung ditanggapi Sekjen PDIP Kalsel, Bery Furqon selaku pemantik pertama.

“Adanya statmen dari Prabowo mengatakan PDIP Perjuangan tidak milik satu kelompok tapi milik orang banyak. Perlu saya sampaikan PDIP tidak pernah mengklaim bahwa Soekarno hanya milik PDIP Perjuangan. Organisasinya, konsepsi rakat gerak organisasi PDIP dimana AD/ART visi misi berdasarkan pada pemikiran-pemikiran Soekarno. Langsung ditancapkan, sehingga kami boleh mengklaim satu-satunya partai yang menempatkan pemikiran bung Karno itu secara langsung menjadi dasar konsep di perjuangan partai,” ucapnya.

Baca Juga:  Sukhrowardi : “Wake up Call” Jelang IKN Lewat Seni, Doa dan Silaturahim

Menurut mantan Ketua Walhi Indonesia ini, mungkin partai lain masih menempatkannya comot-comot saja atau sebagian-sebagian. Itu yang dimaksud bukan meng-klaim Soekarno itu milik PDIP Perjuangan. Itu tidak, tapi PDIP menempatkan konsepsi organisasinya, perjuangannya, pangkal geraknya kepada pemikiran-pemikiran bung Karno.

“Makanya namanya nasionalis Soerkarnois. Segala pemikiran-pemikiran Soekarno kemudian diolah menjadi persepsi langkah gerak partai. Mengapa? Karena kami menganggap sangat relevan. Misalnya tadi bicara soal Trisakti,” ujarnya.

Dikatakannya, Trisakti ini kan muncul tidak serta merta, tapi muncul dari kondisi politik, ekonomi, budaya di negara Indonesia yang saat itu dimana budaya yang saat itu kondisi masih terjajah, walaupun sudah merdeka.

“Tapi kita masih di kooptasi negara-negara barat atau luar, maka kalau kita ingin maju kedepan maka kata Bung Karno, kita harus berdaulat secara politik. Kita merdeka, tapi tidak berdaulat karena masih dikooptasi oleh negara-negara lain, sehingga muncullah kooptasi secara politik,” tegasnya.

Kedua, lanjut Bery, berdikari secara ekonomi. Berdikari itu berdiri di kaki sendiri atau mandiri , karena situasi saat itu ekonomi Indonesia juga dikuasai saudagar-saudagar pedagang-pedagang luar. Kemudian bagaimana rakyat di bawah tidak mampu mengakses ekonomi yang baik, sehingga muncullah Trisakti yang kedua yaitu berdikari secara ekonomi.

“Yang ketiga bermatabat secara budaya. Kenapa, karena bangsa ini punya karakter jangan sampai kemudian kita budaya-budaya, karakter-karakter luar yang tidak sesuai dengan kita. Sehingga muncul gagasan bermartabat secara budaya,” tandasnya.

Dijelaskan mantan Wakil Bupati HST ini, kalau lebih jauh lagi konsepsi muncullah Pancasila. “Pancasila itu mucul bukan semata konsepsi gagasan Soekarno, tapi digali dari nilai-nilai tradisional, kearifan, nilai-nilai agama dan lain-lain dan situasi bangsa serta pengalaman perjalanan Soekarno. Lalu, dikonsepsikan Soekarno menjadi Pancasila,” tegasnya.

Baca Juga:  BPBD Minta Warga Biasakan Fenoma Banjir Rob

“Nah, bagaimana dengan situasi kita saat ini, masih belum beranjak dari situasi sosial ekonomi politik seperti itu. Kita apakah berdaulat secara politik, secara umum, masih belum berdaulat. Kita masih didekti oleh negara-negara barat. Dalam konstek lokal kita berdaulat tidak secara politik? Tidak berdaulat secara politik? Dalam repetasi ditentukan satu dua orang, harus sowan dulu. Maka seluruh calon kandidat menyatakan saya sudah sowan dan direstui oleh pak haji …saya direstui oleh pak haji .. itu berdaulat tidak rakyat kita?,” ujarnya.

Menurut Bery, secara politik berdaulat, sehingga Trisakti ini masih relevan hingga saat ini.

Selanjutnya berdikari secara ekonomi. Dilihat sumber daya alam, di Kalsel ada perusahaan tambang seperti Adaro, Arutmin, pak haji, dan lain-lain. Kekayaan mereka luar biasa tapi apakah sudah mendongkrak pemerataan ekonomi kepada masyarakat semua.

“Belum, masih banyak stunting, pendidikan rendah dan seterusnya..Padahal bayangkan dari Adaro saja orang bisa membeli klub bola di eropa sana, padahal duitnya dari Adaro. Bayangkan, kalau duitnya untuk pendidikan disini, gratis semua kuliah anak-anak kita. Buat kesehatan duitnya,” ujarnya

Jadi, kata Bery, di Banua belum berdikari dan mandiri secara ekonomi. Berkarakter dan bermatabat secara budaya, belum juga.

“Sehingga mendiskusikan gagasan Bung Karno dan Trisakti masih sangat relevan dalam situasi bangsa saat ini termasuk di Kalimantan Selatan,” tegasnya.

Pemantik kedua, anggota DPR RI Syamsul Bahri menyebut saat ini kondisi Kalsel tidak sakit tapi flu berat, sehingga perlu adanya penyegaran-penyegaran dengan melakukan silaturahmi terciptalah di Kalsel demokrasi dan kemandirian.

Syamsul yang juga dari Partai Gerindra ini menyebutkan Gerindra visinya nasionalis agamis. Memang diseting seperti itu, anggaran dasarnya partai yang nasionalis dan agamis.

Baca Juga:  Mengawal Pembangunan Kota Banjarmasin, Infrastruktur Berbasis Kewilayahan

“Gerinda semangatnya memang semangat Soekarno. Jadi ikon-ikonnya Soekarno dan Soerdirman sangat melekat pada Prabowo. Diornamen-ornamen pribadi beliau, sehingga bisa dipahami hubungan emosional Prabowo dan Megawati bisa dipahami lah.
Bahkan salah satu anaknya Soekarno salah satu dewan pakar Gerindra Rahmawati (alm),” tegasnya.

Syamsul juga menjelaskan, gaya politik Indonesia kelihatan non blok, tapi ada bloknya. Artinya apa, berkomunikasi dengan instan dengan kekuatan-kekuatan dunia seperti China, Amerika Serikat, Turki dll menjalin alih teknologi dengan perancis. Gaya-gaya politik memang kaya Soekarno, dan ini kelihatannya iklimnya sangat bagus.

“Contoh Timor Tengah, karena secara emosional dengan Timur Tengah, tarikan-tarikan berjalan dengan baik. Kami dalam waktu dekat, tepatnya tanggal 20 akan silaturahmi ke China untuk diskusi,” ucapnya.

Dia juga menambahkan semangat Soekarno sudah terpatri nilai-nilainya di Gerindra. ini bukan masalah Soekarno atau tidak, tapi nilai-nilai dicari .

“Nilai kemandirian semuanya diakomodir tapi dengan bahasa-bahasa cendikia. Ini masalah penyebutan saja. Gerindra semangatnya bagaimana secara nasional maupun daerah kita mandiri,” ungkap anggota Komisi XI ini. (ful/KPO-3)

Iklan
Iklan