Space Iklan
Space Iklan
Space Iklan
HEADLINE

Chanee Kalaweit Kagumi Upaya Pelestarian Bekantan Dilakukan Dr Amalia Rezeki di Pulau Curiak

×

Chanee Kalaweit Kagumi Upaya Pelestarian Bekantan Dilakukan Dr Amalia Rezeki di Pulau Curiak

Sebarkan artikel ini
- Chanee Kalaweit pria kelahiran Perancis yang merupakan faunder Yayasan Kalaweit Indonesia bersama Istrinya Prada dan anaknya Enzo berkesempatan berkunjung ke Stasiun Riset Bekantan Pulau Curiak, Minggu (2/6/2024) dan diterima Dr Amalia Rezeki pegiat konservasi bekantan dari Yayasan Sahabat Bekantan Indonesia. (Kalimantanpost.com/Repro sahabatbekantanindonesia)

BANJARMASIN, Kalimantanpost.com – Sejak kawasan pulau Curiak dijadikan Stasiun Riset Bekantan oleh Dr Amalia Rezeki, seorang peneliti sekaligus pegiat konservasi bekantan dari Yayasan Sahabat Bekantan Indonesia (SBI) pada Juni 2018, sekarang pulau ini mendunia namanya di mata para peneliti primata dan wisatawan minat khusus.

Chanee Kalaweit pria kelahiran Perancis yang merupakan faunder Yayasan Kalaweit Indonesia, yang kini menetap di Muara Teweh, Kalimantan Tengah, bersama Istrinya Prada dan anaknya Enzo berkesempatan berkunjung ke Stasiun Riset Bekantan Pulau Curiak, Minggu (2/6/2024).

Kesan pertama dari Chanee, sebutan akrab yang bernama Aurélien Francis Brulé ini adalah kagum terhadap Stasiun Riset Bekantan, yang juga merupakan habitat alami bagi bekantan ( Nasalis larvatus ).

“Saya merasa senang datang kesini, dan melihat bekantan serta habitatnya terlindungi. Dan saya menyayangkan, kenapa saya tidak datang dari dulu kesini,” jelas Chanee dengan antusias.

Lebih lanjut, Chanee mengajak semua stake holder untuk melindungi dan melestarikan bekantan. Sebenarnya bagi Chanee, bekantan adalah salah satu primata favoritnya, setelah owa. Ia merupakan primata endemik Kalimantan, prilakunya kalem, sangat sensitif, dan dihabitatnya terancam punah.

“Tanpa perlindungan kita, bekantan terancam. Untuk itu mari kita bersama-sama melestarikannya,” paparnya.

Dalam kunjungannya ke Stasiun Riset Bekantan, Chanee juga menyatakan kekagumannya, dengan upaya perbaikan habitat bekantan serta pemulihan ekosistem lahan basah, yang dilakukan Amel, panggilan akrab Amalia dan timnya. Melalui program Buy Back Land dan Restorasi Mangrove Rambainya.

Sementara itu, kisah Chanee sendiri, ia berjuang untuk konservasi di lapangan (active conservation) dan kesejahteraan satwa liar, khususnya primata sejak tahun 1998 di Indonesia. Program konservasi yang ia jalankan, antara lain pusat rehabilitasi satwa liar, khususnya owa di Kalimantan Tengah, Sumatra Barat dan Mentawai merupakan program rehabilitasi dan sanctuary owa terbesar di Dunia.

Baca Juga:  Gugus Provinsi Laksanakan Rapid Test di Sejumlah Pasar di Kota Banjarmasin

Disisi lain, Amel sebutan akrab doktor konservasi bekantan ini, sangat senang atas kunjungan Chanee bersama keluarga di Stasiun Riset Bekantan.

“Saya sangat senang mendapat kunjungan dari Chanee Kalaweit. Kita dapat saling sharing tentang upaya pelestarian satwa liar, khususnya primata endemik dari Kalimantan. Berharap kedepan terjalin kolaborasi tentang riset dan konservasi dalam upaya pelestarian alam,” jelas Amel. (ful/KPO-3)

Iklan
Iklan