Space Iklan
Space Iklan
Space Iklan
OPINI PUBLIK

Ramai Kasus Anak Bunuh Ayah, Siapa Yang Salah?

×

Ramai Kasus Anak Bunuh Ayah, Siapa Yang Salah?

Sebarkan artikel ini

Oleh : Ummu Wildan
Pemerhati Generasi

Qobil, pelaku pembunuhan pertama di muka bumi mungkin takkan tertunduk malu dan menyesal sendirian di akhirat karena membunuh saudara yang sedarah daging dengannya. Ada yang tak kalah keji dari dia. Kini banyak kasus anak-anak yang membunuh orang tua kandungnya sendiri.

Sabtu, 22 Juni 2024, 2 anak perempuan, K (17 tahun) dan P (16 tahun), menjadi tersangka pembunuhan atas ayah kandung mereka sendiri. Pedagang perabot di Duren Sawit, Jakarta Timur tersebut meregang nyawa setelah ditusuk pelaku (liputan6.com, 23/6/2024). Di Lampung seorang anak berinisial SPA (19 tahun) memukuli ayahnya sendiri yang sedang lemah akibat terkena stroke. Tak berselang lama sang ayah pun meninggal (beritasatu.com, 14/6/2024). Demikian sedikit dari banyak kasus pembunuhan anak terhadap orang tua sendiri.

Menjadi anak durhaka tidak lagi menjadi sesuatu yang menakutkan. Cerita Malin Kundang yang dikutuk jadi batu tidak cukup untuk mencegah orang menyakiti orang tua mereka.

Terlebih alasan yang diajukan para pelaku hingga gelap mata sering kali juga menyesakkan. Ada orang-orang tua yang lisannya tidak terjaga hingga mengeluarkan caci maki terhadap anak-anak sendiri. Sebutan anak haram misalnya. Padahal hatta anak-anak tersebut lahir di luar pernikahan, tidaklah itu terjadi kecuali akibat kesalahan orang tua sendiri. Sehingga dari satu sisi anak pelaku pembunuhan ini sejatinya adalah korban juga.

Tak sedikit anak dalam sistem hidup kapitalisme sekuler yang berlaku di negeri kita sekarang ini kehilangan fitrah mereka. Tidakkah Nabi menyebutkan bahwa setiap anak lahir dalam keadaan suci? Bahwasanya orang tua yang menjadikan mereka Yahudi, Majusi, atau Nasrani. Layaknya kertas putih, sadar ataupun tidak, anak-anak ini kehilangan diri mereka yang semestinya; jangankan memukul dan membunuh, berkata kasar pun takkan tega.

Baca Juga:  Mengenal Bakat, Minat dan Kemampuan Diri

Hidup dalam sistem kapitalisme sekuler saat ini menjadikan tidak sedikit orang tua memandang banyak hal dengan sudut pandang materi; agama tidak lagi jadi pertimbangan utama. Anak yang membanggakan orang tua adalah anak yang mampu meraih hal-hal duniawi. Anak-anak yang meraih prestasi akademik lebih dihargai daripada anak lainnya. Anak yang berpenampilan menarik dianggap lebih menyenangkan untuk dipandang. Begitupun anak yang menghasilkan keuntungan materi lebih memuaskan hati orang tua.

Padahal hal-hal seperti di atas , pada banyak bagiannya, di luar kuasa manusia. Rezeki adalah perkara yang sudah tertakar tidak mungkin tertukar. Tidakkah sering ditemui orang-orang yang habis-habisan bekerja hanya bisa membawa pulang hasil yang tidak seberapa. Ada yang belajar hingga jungkir balik namun pemahaman tak kunjung mendapatkan momen ‘aha’.

Namun orang tua yang bersudut pandang demikian pun tidaklah terbentuk dari ruang hampa. Mereka adalah hasil pendidikan orang tua mereka, interaksi di masyarakat, juga pendidikan di sekolah. Masyarakat dengan cara pandang kapitalisme sekuler lebih memandang terhormat orang dengan jabatan yang tinggi, harta yang banyak, dan standar keduniawian lainnya.

Begitupun sistem pendidikan di negeri kita saat ini. Visi mencetak lulusan yang beriman dan bertaqwa tak jarang hanyalah pemanis belaka. Pendidikan agama hanya mendapatkan porsi kecil. Pendidikan lain yang diberikan pun tidak dikaitkan dengan kebesaran dan kasih sayang Tuhan. Misalnya gambaran luar biasa tentang mekanisme pembekuan darah pada luka yang sejatinya bisa diarahkan agar peserta didik takjub akan ke-Maha-an Sang Khaliq yang itu tidak mungkin dimiliki manusia.

Sebaliknya ketika pembelajaran tentang bunga bank dalam pembelajaran ekonomi tidaklah menjadikan peserta didik takut berurusan dengan murka-Nya. Bunga perbankan yang ribawi seakan sesuatu yang wajar bahkan terpersepsi menguntungkan. Demikianlah kehidupan saat ini membelenggu umat; menjauhkan mereka dari fitrah mereka. Hidup seperti dalam lingkaran setan.

Baca Juga:  Perlunya Kecerdasan dan Keterampilan Menggunakan Teknologi Digital

Berbeda halnya ketika sekularisme dicampakkan dan keridhaan Allah dijadikan panduan. Rahmat bagi semesta alam yang dijanjikan Allah SWT pada Al Qur’an surat Al Anbiya ayat 107 pasti akan terwujud. Anak yang menjadikan keridhaan Allah SWT sebagai tujuan hidupnya akan terjaga fitrah kemanusiaannya. Bagaimanapun perlakuan orang tua terhadapnya, anak tidak akan melampaui batas.

Perlakuan Rasulullah Saw terhadap Wahsyi dan Hindun bisa jadi contoh panduan untuk perlakuan buruk ekstrim orang tua kepadanya. Wahsyi yang membunuh Paman Rasulullah Saw dan kemudian mengambil jantungnya serta Hindun yang mengunyah jantung tersebut akhirnya masuk Islam ketika Pembebasan Mekkah. Rasulullah SAW menerima keislaman mereka namun memilih memalingkan wajahnya.

Begitupun ayah yang taat kepada Allah SWT akan menyadari bahwa anak adalah titipan dari Allah SWT yang wajib diurus sesuai fitrahnya. Dia akan berusaha menjadi teladan sabar dan syukur terhadap berbagai hal, dari keadaan anaknya hingga badai kehidupan yang melanda. Ia pun memperlakukan anak penuh penghargaan seperti Nabi Ibrahim as yang berdiskusi dengan anaknya Ismail hatta itu terkait perintah Allah SWT.

Adapun sistem pendidikan Islam bertujuan membentuk generasi yang berkepribadian Islami, bervisi dunia dan akhirat. Visi ini pun tak sekedar pemanis. Kehebatannya pernah terbukti menghasilkan tokoh-tokoh yang luar biasa dalam urusan dunia dan agama sekaligus. Misalnya saya Ibnu Sina dan Muhammad Al Khawarizmi.

Begitupun masyarakat yang dihasilkan pun minim kriminalitas, apalagi sampai membunuh orang tua sendiri. Mereka bahkan akan melakukan fungsi amar makruf nahi mungkar diantara mereka. Budaya saling menjaga dan mengingatkan pun menjadi keniscayaan

Demikianlah untuk mengatasi ramainya kasus anak bunuh ayah tidak ada pilihan lain kecuali mengembalikan semua kepada settingan yang telah Allah tetapkan. Dia yang menciptakan manusia. Dia tahu yang terbaik buat manusia. Anak dan ayah pun akan hidup sesuai fitrahnya insya Allah.

Iklan
Iklan