Space Iklan
Space Iklan
Space Iklan
Derap Nusantara

Bappenas: Program Makan Bergizi Gratis Solusi Tekan Stunting

×

Bappenas: Program Makan Bergizi Gratis Solusi Tekan Stunting

Sebarkan artikel ini
Petugas kesehatan membagikan makanan tambahan kepada ibu dan anak balita di Puskesmas Lubuk Begalung, Padang, Sumatera Barat, Kamis (4/7/2024). Pemkot Padang berkomitmen mempercepat penurunan angka stunting setelah ditemukan 1.598 balita stunting di kota itu melalui Intervensi Serentak Pencegahan Stunting (ISPS), sebagai salah satu upayanya dengan pemberian makanan tambahan (PMT) kepada anak-anak yang kurang gizi selama 56 hari. (Antara)

JAKARTA, Kalimantanpost.com – Staf Khusus Menteri dari Kementerian Perencanaan dan Pembangunan Nasional/Bappenas, Sultan Rivandi mengatakan program pemberian makan bergizi gratis apabila diterapkan bisa menjadi solusi menekan angka stunting.

“Belum final bagaimana program itu akan dijalankan. Tetapi yang jelas, itu adalah ikhtiar juga untuk menuntaskan persoalan stunting,” kata Sultan dalam diskusi daring yang digelar oleh Suku Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan dan Perikanan (Sudin KPKP) Jakarta Selatan, Selasa.

Sultan berpendapat program ini perlu dirancang sebaik-baiknya agar masyarakat dapat merasakan manfaatnya. Sebab beberapa negara lain seperti India dan Inggris juga sudah melakukan program serupa. Sehingga diharapkan, program pemberian makanan bergizi gratis juga dapat berhasil di Indonesia.

Sebagai informasi, Presiden terpilih Prabowo Subianto mengoreksi nama program Makan Siang Gratis menjadi Makan Bergizi Gratis.

Menurut Prabowo, istilah tersebut lebih tepat karena pemberian makan siang terlalu lama untuk anak sekolah. Sehingga pemberian makanan harus dilakukan di pagi hari.

Sultan pun mengatakan perubahan nama itu sesuai untuk program yang diusung oleh Prabowo. Sebab titik permasalahan yang dihadapi masyarakat khususnya anak-anak di Indonesia adalah gizi.

“Berkaitan dengan program itu, yang menjadi landasan persoalan kenapa berubah dari makanan gratis jadi makanan bergizi, karena titik persoalannya ada pada konteks soal gizi dan nutrisi kita. Di Indonesia sendiri sedang dirancang karena tentu banyak sekali membutuhkan anggaran,” kata Sultan. (Antara/Tim Kalimantanpost.com)

Iklan
Baca Juga:  Walhi Sampaikan Indikasi Perusakan Lahan Gambut Tiga Perusahaan
Iklan