Space Iklan
Space Iklan
Space Iklan
OPINI PUBLIK

Menyongsong Tahun Baru Islam 1446 HAbad Kebangkitan yang Terlupakan

×

Menyongsong Tahun Baru Islam 1446 HAbad Kebangkitan yang Terlupakan

Sebarkan artikel ini

Oleh : Ahmad Barjie B
Komisi Informasi dan Komunikasi MUI Kalsel

Saat ini kita sudah memasuki Tahun Baru Hijriyah 1446. Jika dihitung angka tahunnya, berarti sudah masuk 46 tahun umat Islam berada di abad ke-15 H, hampir setengah abad lamanya. Tinggal 4 tahun lagi kurun setengah abad dari abad ke-15 H kita lalui. Bagi kita yang sudah berusia di atas 50 tahun tentu masih ingat, awal abad ke-15 H tahun 1401 H silam disambut dengan sangat meriah dan gegap gempita di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Sebab abad ke-15 H dianggap, diyakini dan diharapkan sebagai Abad Kebangkitan Islam (The Islamic Revival Century).

Mengapa ada anggapan dan harapan tersebut, tentu tidak terlepas dari perspektif normatif dan historis. Secara normatif, memang ada ayat Alquran menegaskan bahwa kejayaan dan kemunduran, kemenangan dan kekalahan suatu umat dan bangsa akan dipergilirkan oleh Allah. Siklusnya bisa puluhan tahun, bisa juga ratusan tahun.

Secara historis, abad ke-19 dan 20 M adalah era kemunduran umat Islam. Di mana-mana bangsa muslim banyak hidup terjajah. Kesultanan Turki Utsmani yang berpusat di Istambul sesudah melewati masa jayanya dan kemudian berada di ambang kehancuran. Bahkan pada abad 18-19 Turki dianggap sebagai orang sakit di Eropa (The Sick Man of Europe). Banyak wilayahnya memisahkan diri dan berada di bawah jajahan atau dominasi bangsa-bangsa barat yang sejak awal berusaha menggerogoti dan memecah-belah.

Memasuki abad ke-20 M, sempat tumbuh semangat Pan Islamisme untuk menyatukan dan membangkitkan umat Islam dunia. Tetapi lagi-lagi semangat ini layu sebelum berkembang. Bahkan Turki Usmani yang ingin memimpin gerakan Pan Islamisme runtuh di perempat pertama abad ke-20 M. Beberapa kali pertemuan tingkat dunia untuk membangkitkan kembali Kekhalifahan Islam yang runtuh, seperti pertemuan di Makkah dan Mesir (1926), yang dihadiri berbagai utusan negeri muslim, termasuk Indonesia. Utusan Indonesia saat itu diantaranya HOS Tjokroaminoto dan KH Agoes Salim. Namun pertemuan itu gagal menyamakan persepsi dan mengumpulkan energi untuk bangkit dan bersatu secara global.

Akhirnya para utusan pulang ke negeri masing-masing dan disepakati umat Islam berjuang di bawah payung nasionalisme Islam. Alasannya, masih banyak negeri muslim saat itu hidup terjajah, jadi lebih produktif berfokus memerdekakan negeri masing-masing. Negeri-negeri muslim tidak mungkin bangkit kalau masih hidup tenjajah. Namun disepakati, semangat persaudaraan dan solidaritas Islam tetap harus terjaga, meskipun pada akhirnya negeri-negeri Islam berdiri sebagai national states.

Baca Juga:  Membantu Anak Kuper Dalam Belajar dan Berinteraksi Sosial

Pembinaan Internal

Mengapa setelah hampir 50 tahun abad ke-15 H berjalan, belum ada tanda-tanda kebangkitan. Tentu beragam opini dan analisis dapat kita kemukakan. Tetapi tidak dapat dipungkiri, ada kesalahan atau kelemahan kita dalam mempersepsikan kemunduran yang dialami. Juga kelemahan menafsirkan posisi agama yang kita anut.

Di awal abad ke-20 M, saat umat Islam sedang terpuruk, banyak kalangan sudah gundah dan prihatin. Suatu kali seorang tokoh dari Sambas Indonesia, Syekh Basuni Imran, bertanya kepada Syekh Muhammad Rasyid Ridha, pengasuh majalah Al-Manar Mesir, limadza taakhkharal muslimuna wa taqaddama ghairuhum (mengapa umat Islam mundur dan umat lain maju). Rasyid Ridha tidak langsung menjawabnya, melainkan meminta temannya ulama besar Syria, Syekh Ahmad Syakib Arselan untuk menjawabnya. Setelah merenung lama, Syekh Arselan menjawab: al-Islam mahjubun bil muslimin (Islam mundur disebabkan oleh orang Islam sendiri).

Jawaban ini sebagai antitesis kebanyakan umat Islam yang lebih senang menyebut kemunduran mereka akibat konspirasi asing atau golongan lain. Kalau di era penjajahan, keterpurukan umat dan bangsa memang tidak terlepas dari penjajahan. Tetapi ketika rerata negeri-negeri muslim sudah merdeka, maka tidak bisa lagi kemunduran umat ditimpakan kepada pihak eksternal. Memang mungkin saja ada yang namanya konspirasi dan infiltrasi asing tersebut, tetapi mereka tidak akan bisa berbuat banyak kalau umat Islam solid dan bersatu. Bahasa agamanya, singa tidak akan memangsa domba yang bersatu dengan kawannya. Belajar dari era penjajahan dulu, sebenarnya kekuatan mereka kecil saja, tetapi karena banyak anasir bangsa kita berkhianat, menjadi penjilat asing, akibatnya kita hidup terjajah selama berabad-abad.

Pilar Agama

Agar umat Islam bisa bangkit, hendaknya ada perubahan pola pikir, bahwa keterpurukan memang kesalahan dan kelemahan kita sendiri. Karena itu perlu dilakukan penguatan di tubuh umat Islam sendiri. Pertama, umat Islam harus kuat di segi keimanan dan dakwah. Belajar dari era Rasulullah saw dan para sahabat, hanya butuh 10 tahun ketika hijrah ke Madinah, umat Islam sudah mampu bangkit dari keterpurukan di Makkah. Tak hanya bangkit, umat Islam ketika itu mampu berkuasa secara politik, ekonomi dan sosial. Allah swt memujinya sebagai khaira ummah (umat terbaik), kuncinya karena mereka melaksanakan amar ma’ruf dan nahi munkar secara optimal, dan pada saat yang sama keimanan umat sangat teguh (QS Ali Imran: 110).

Baca Juga:  Refleksi Idul Adha : Belajar dari Keluarga Nabi Ibrahim AS

Bukti keimanan yang sangat kuat itu, mereka berani berjuang all-out dengan harta dan jiwa raga. Para sahabat berani mengorbankan sebagian besar harta untuk agama, tidak ada yang kikir, sayang dan rakus menumpuk harta untuk pribadi. Ketika diminta berjihad, semua turut serta, bahkan wanita, anak-anak dan orang tua-tua juga ingin ikut, kalau tidak dilarang oleh Nabi (at-Taubah: 122). Mereka semua tidak takut miskin dan tidak takut mati. Ketika Saad bin Abi Waqqash memimpin pasukan kecil untuk melawan pasukan Persia yang besar, ia menulis surat kepada panglima Rustam. “Kami adalah tentara yang menyintai kematian, sebagaimana kalian menyintai khamar…”. Itu sebabnya Rustam yang terkenal hebat sudah gentar, dan atas desakan Raja Kisra Yazdajir ia terpaksa berperang sampai akhirnya tewas. Jadi, kalau umat Islam terlalu cinta dunia dan takut mati, keterpurukan akan selalu melingkupi. Meskipun jumlah umat Islam sangat banyak, kekuatan mereka lemah dan gampang dipermainkan. Lihat saja, hanya Hamas Palestina dan Hizbull
ah Lebanon yang berani berperang melawan Israel. Yang lain belum kelihatan, dan seolah membiarkan Palestina berperang dengan kekuatan apa adanya, dan membiarkan puluhan ribu rakyat sipil Palestina tewas.

Kedua, umat Islam harus berkuasa di segi ekonomi, sosial, politik dan iptek. Sesuai kehendak Allah, umat Islam harus berkuasa di bumi, bukan sebagai pihak yang dikuasai. Ini berarti harus ada pembenahan, pendidikan ditingkatkan, ekonomi dikuatkan, dan perlu redefinisi posisi. Kalau ulama dan umat menjauhi politik, maka yang akan berkuasa adalah orang-orang yang tidak peduli kepada umat Islam, bahkan merugikan kepentingan Islam.

Ulama dan dai hendaknya aktif menyampaikan pesan-pesan dakwah yang berisi ajakan agar umat Islam mengambil peran-peran strategis di bidang politik, ekonomi dan sosial. Jangan menjauhi kehidupan dunia yang berkaitan dengan ekonomi dan politik, sebab urusan publik dan kata kunci kejayaan umat ada di situ. Politik berkaitan dengan urusan negara, masyarakat dan daerah. Segenggam kekuasaan politik jauh lebih berarti dibanding sekeranjang kebenaran. Biar ulama berceramah berbusa-busa, tapi kalau tak punya kekuatan politik tidak akan efektif.

Baca Juga:  Mengendalikan Harga Demi Keterjangkauan Pemenuhan Pangan

Sekadar contoh saja, dulu di masa judi legal SDSB, umumnya ulama menolak dengan keras, tetapi judi ini tetap bergeming. Tetapi begitu Presiden Soeharto melarang tegas, maka judi ini pun langsung berhenti. Dulu Kramat Tunggak Jakarta adalah lokasi WTS terbesar di Asia Tenggara, selama puluhan tahun ulama dan juru dakwah serta masyarakat berteriak menolaknya, tetap bertahan. Tetapi begitu Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso menutupnya sejak 2000, Kramat Tunggak pun berhenti beroperasi, dan selanjutnya justru berdiri di atas tanahnya Jakarta Islamic Center dengan masjidnya yang besar dan megah nomor dua sesudah Istiqlal.

Kelemahan kita selama ini, belum-belum berkuasa secara politik dan ekonomi, kita sudah menekankan kehidupan bertasawuf, misalnya zuhud dan menjauhkan diri dari kehidupan dunia karena akhirnya kita akan mati. Mestinya kita bercermin kepada Khalifah Umar bin Khattab, Kerajaan Persia dan sebagian Romawi sudah mampu ditaklukkan oleh kaum muslimin, namun beliau tetap hidup sangat sederhana.

Sekarang terkesan ada yang mengajak umat untuk tidak mengurus urusan politik, cukup beribadah saja, padahal justru dari kekuatan politik itulah kehidupan masyarakat diperbaiki. Bagaimana memperbaiki dan membangun umat agar sejalan dengan ajaran Islam kalau umat Islam sendiri tidak menguasai kekuatan politik strategis yang menjadi kata kunci suatu bangsa dan negara. Agama dan negara sesungguhnya adalah dua saudara kembar yang tidak dapat dipisahkan. Jangan melulu berbicara akhirat, bukankah Allah menghendaki umat Islam hasanah di dunia dan akhirat.

Islam memang mengajarkan zuhud, tidak menyintai dunia, maksudnya kekuasaan politik dan ekonomi tetap ada di tangan, hanya saja tidak dimasukkan ke hati karena tidak akan dibawa mati. Artinya kita boleh kaya dan perlu berkuasa secara politik, asalkan cara memperoleh dan menggunakannya benar. Dan tidak takut kehilangan sekiranya semua itu hilang dan berpindah tangan. Bahkan sekiranya pengganti kita lebih baik, maka kita harus legowo dan memberi dukungan. Semua yang kita miliki di dunia ini hanya sementara, karena itu hendaknya digunakan untuk kepentingan agama dan negara. Wallahu A’lam.

Iklan
Iklan