PALANGKA RAYA, Kalimantanpost.com – Terkesan “mengerikan” Organisasi Masyarakat (Ormas) Kapakat Dayak Bersatu lagi menggelar rapat umum terbuka, diiringi ritual “manawur behas bahenda” di Tugu Soekarno, Jalan S Parman, Senin (29/7/2024).
Manawur behas bahenda atau menabur beras kuning disertai doa dan permintaan kepada penjaga alam dan roh leluhur mengabulkan apa yang sampaikan ormas tersebut, agar parpol menolak mencalonkan kepala daerah pada pilkada mendatang yang bukan asli putra-putri Dayak asli, bukan yang blasteran.
Sebelum ritual digelar, mereka melakukan penyembelihan hewan korban sebagai sesembahan kepada alam gaib, penjaga alam semesta. Tiga jenis hewan berupa sapi satu ekor, dan beberapa ekor babi serta ayam kampung.
Darah ketiga jenis hewan itu dicampur dengan beras kuning yang telah didoakan secara agama Kaharingan, asli Ritual Dayak.
Gelaran ritual tabur behas bahenda oleh Ormas Kapakat Dayak Bersatu tersebut merupakan lanjutan tuntutan serupa sebelumnya agar parpol tidak mengusung bakal kepala daerah yang bukan asli Dayak.
Menurut Panjung Silai koordinator aksi, pertemuan di tugu Soekarno tersebut merupakan “aksi damai” yang konsisten dan bermartabat menolak bakal calon kepala daerah pada Pilkada mendatang.
Harapannya, aksi dengan diisi orasi dari masing-masing perwakilan ormas Dayak parpol pengusung calon kepala daerah dari putra-putri Dayak Asli. Pasalnya warga Dayak sudah mampu memimpin daerahnya sendiri, tidak harus orang luar.
Agenda yang dihadiri sejumlah politisi dan tokoh Dayak Asli Kalteng, juga diisi dengan do’a bersama, tarian khas Dayak “Nganjan”, hiburan serta makan bersama hewan korban.(drt/KPO-3)















