Kalimantan Post - Aspirasi Nusantara
Baca Koran
Space Iklan
Space Iklan
Iklan Utama
Opini

MENGAPA MASIH RAGU?

×

MENGAPA MASIH RAGU?

Sebarkan artikel ini

Oleh : NURMADINA MILLENIA

Hidup ini sangat indah,jika seseorang sangat mendalami dan mengerti serta mengajarkan kembali apa yang disebut dengan Asmaul Husna. Mungkin untuk hidup di dunia ini saja, belum cukup waktunya untuk mendalami makna Asmaul Husna. Ternyata juga jika kita semuanya, atau seseorang itu ternyata datang ke dunia ini hanyalah untuk mengenal siapa Tuhan itu sebenarnya? Sungguh sangatlah merugi jika seseorang itu sampa saat ini masih meragukan tentang bahwa Tuhan itu sebenarnya adalah “Maha Esa”. Jika seseorang itu secara jujur mengikuti dialog-dialog Ketuhanan, dari semua perbandingan agama, sampai kepada agama Islam. Ternyata Tuhan itu sangat kasih sayang kepada makhluknya yang namanya manusia itu.

Kalimantan Post

Apalagi jika dipikir-pikir,manusia hanyalah menikmati keindahan Tuhan, serta mengucapkan Tasbih, Tahmid, Tahlil serta Takbir serta Hauqalah. Jadi manusia itu hanyalah menikmati serta menghayati dan menyaksikan saja, tentang karya Tuhan di muka bumi ini. Tetapi mengapa begitu banyak manusia yang belum beriman kepada jalan Islam? Apalagi jika Islam menurut arti yang sesungguhnya artinya jalan keselamatan dan kesejahteraan. Artinya jika menempuh jalan Islam, maka seseorang itu ada di jalan yang sesat atau menyimpang. Karena itu, jalan dakwah itu sangat penting, untuk disampaikan kepada seluruh ummat manusia itu. Coba bayangkan jika jalan kenikmatan itu hanyalah menguntungkan diri kita sendiri saja, bagaimana ayah bunda kita, sanak saudara kita, teman-teman kita semua, serta manusia kebanyakan ternyata masuk neraka. Lalu apakah kita sendiri saja atau sebagian orang saja yang masuk surga? Tentunya kita sangat kasihan dengan banyaknya manusia yang belum bisa meyakini tentang “Tuhan Yang maha Esa”. Tuhan Yang Maha Esa, serta tidak ada syarikat bagiNya.

Baca Juga :  Saat Halal Dinegosiasikan di Meja Perdagangan

Dialog-dialog tentang Ketuhanan itu memang perlu selalu ada. Maka itulah makna arti kemanusiaan di dalam arti yang sesungguhnya. Bahwa sesama manusia itu memang perlu saling tolong menolong, artinya tolong menolong di dalam pengertian Tauhid. Agar setiap orang itu bisa terselamatkan di dalam kehidupan yang sesungguhnya. Itulah ternyata makna arti yang sesungguhnya makna globalisasi. Bukan makna pluralisme, manusia mempunyai keyakinan Tuhan yang berbeda-beda. Dimana masyarakat pluralisme, saling berinteraksi, namun Tuhan di dalam keyakinannya masih berbeda-beda. Lalu mereka saling tolong menolong, dengan makna seperti semua agama itu sama saja. Maka pada akhirnya sampai akhir hayat, mereka masih belum mengerti jika Tuhan itu Maha Esa. Maka semestinya menangislah kita karena belum bisa meyakinkan orang lain, jika Tuhan itu Maha Esa.

Makna toleransi, jika terlalu fanatik, akan membawa kepada kesia-siaan saja. Karena di dalam arti yang sesungguhnya kehadiran kita ke dunia ini mencari makna yang sesungguhnya dari Tuhan itu. Jika manusia belum mengerti serta memang mungkin belum dapat petunjukNya, maka adakah yang lebih baik daripada pembicaraan itu selalu mengarah kepada makna Tuhan dan Tauhid. Dimana sesama manusia semestinya saling menolong untuk menjelaskan arti Tuhan dan Tauhid itu sendiri.

Di dalam logika dunia ada kebenaran serta ada kebathilan. Ada kebenaran serta ada kesesatan. Serta jalan Tauhid itu hanya ada satu jalan. Hanya ada satu agama yang benar, tidak ada semua agama itu benar. Jika manusia itu masih ragu akan hal itu, hanya ada satu agama yang benar, sudah semestinya manusia itu prihatin akan dirinya sendiri. Sebelum akhir hayat menjemputnya.

Iklan
Iklan