Banjarmasin, Kalimantanpost.com – Gadis bernama Ahla Karima, anak pedagng kue Kelemben ini, di mana ia duduk, tangannya selalu menggoreskan pensil hingga mewarnai.
Pelukis sketsa ini mengidolakan Gubernur Kalsel H Muhidin dan Wakil Gubernur Hasnuryadi Sulaiman.
Diketahui sketsa adalah teknik menggambar yang ada dalam ilmu seni rupa. Di Kota Banjarmasin khususnya, tak banyak seniman pelukis sketsa, utamanya yang ditekuni oleh seorang anak.
Namun lain bagi Ahla Karima, masih berumur 14 tahun (jalan 15 tahun) ini, yang duduk di bangku sekolah kelas 9G SMPN 6 Banjarmasin, selalu tekun dan cita-citanya ingin menjadi desainer.
“Ulun ingin ahli dalam merancang busana dan aksesoris.
Mama juga inginkan seperti ini,” ucap Ahla Karima.
Selama Ramadan, hingga usai Idul Fitri Ahla Karima, turut membantu duduk di warung kecil, tempat ibunya menjualkan kue, yang dibuat oleh orang lain, berlokasi dekat depan Kantor Kelurahan Melayu Banjarmasin Tengah.
Dan kadang pula duduk bersama sang ayah yang berjualan Bahan Bakar Minyak (BBM) eceran tak jauh dari lokasi sang ibu berjualan.
“Ulun (saya) sudah sejak SD kelas 4 sudah suka sketsa.
Pada awal melihat kakak ulun, Siti Afifah yang saat ini sudah bersekolah di SMK, yang pernah iseng mengambar mata simple.
Dan lama-lama jadi ingin melukis terus hingga kini jadi tekun,” ucap Ahla Karima, ketika ditemui di sela menunggu warung, kemarin.
Gadis ini beralamat tinggal di Jalan Kampung Melayu Darat, Gang Garuda RT 5 RW 5 nomor 1, tak jauh dari rumah almarhum H Sulaiman HB, orangtua Hasnuryadi Sulaiman.
Ketika diperlihatkan kedua tokoh pemimpin, ia langsung gembira dengan meminta fotonya dan berjanji melukisnya.
“Ini aja, keren dan idola,” ucap Ahla Karima kegirangan.
Ahla Karima, buah hati pasangan Wardah dan Abdul Hai inipun, di sekolahnya, banyak yang sudah tahu akan bakat seninya.
“Iya, pernah juga Kepala Sekolah ulun minta lukiskan dan semua ulun kerjakan paling cepat tiga jam dan paling lama dua hari,” ucapnya.
Ahla Karima, selama libur sekolah di Bulan Ramadan, kemana-mana membawa tas yang isinya buku gambar, pensil untuk sketsa hingga pensil pewarna.
Dan saat duduk, tak lain melukis bermacam wajah para tokoh.
“Dari kami sebagai orang tua, hingga keluarga yang lain tak ada keturunan seniman.
Tak tahu kenapa Ahla jadi bisa seperti ini.
Kadang pensil dan buku itu dibeli sendiri, ketika mendapat rezeki.
Tapi kami merasa bangga, asalkan pula ia tekun bersekolah, dan semoga pula kelak ada seniman yang bisa membimbingnya agar menjadi profesional dalam seninya,” sambung Wardah, sang ibu. (K-2)