BANJARBARU, Kalimantanpost.com – Rekonstruksi kasus pembunuhan wartawati Juwita (23) akhirnya digelar pada Sabtu (5/4) di kawasan Gunung Kupang, Banjarbaru, Kalimantan Selatan.
Sebanyak 33 adegan diperagakan untuk mengungkap kronologis aksi keji ini.
Pantauan media ini, tersangka Jumran hadir mengenakan kaus oranye, dengan tangan terborgol, kaki dirantai, dan kepala plontos.
Kopral TNI ini dikawal ketat saat memperagakan ulang adegan-adegan kejahatan yang dilakukannya. Ia terlihat lebih banyak menunduk.
“Ya, ada 33 adegan yang direka ulang dalam rekonstruksi hari ini,” ujar kuasa hukum keluarga korban, Muhammad Pazri, yang turut menyaksikan proses tersebut, via seluler.
Rekonstruksi berlangsung di bawah penjagaan ketat dari aparat gabungan TNI Angkatan Laut dan Kepolisian.
Sebanyak 106 personel dari Polres Banjarbaru dikerahkan untuk mengamankan lokasi serta membatasi akses keluar-masuk di sekitar Tempat Kejadian Perkara (TKP).
Salah satu adegan yang direka ulang menggambarkan aksi pelaku menunggangi sepeda motor milik korban hingga bagaimana Jumran menghabisi dan membuang jasad Juwita di tepi jalan.
Sampai saat ini rekon masih berlangsung.
Juwita sebelumnya ditemukan tewas di pinggir jalan menuju Desa Kiram, Kabupaten Banjar, pada Sabtu (22/3). Saat ditemukan, ia masih mengenakan helm, sementara sepeda motornya terperosok ke dalam semak-semak.
Warga yang menemukan jasadnya segera melaporkan temuan tersebut dan membawanya ke RSUD Idaman Banjarbaru.
Awalnya, kematian Juwita diduga sebagai kecelakaan tunggal. Namun, penyelidikan lebih lanjut mengungkap sejumlah kejanggalan. Luka lebam ditemukan di bagian leher, punggung, dan dagu korban. Barang-barang pribadi seperti ponsel dan dompet hilang, meski motor masih berada di lokasi.
Pembunuhan Berencana
Muhammad Pazri menegaskan berbagai bukti yang ditemukan mengarah pada dugaan kuat pembunuhan berencana.
Tersangka Jumran diketahui memesan tiket pesawat menggunakan identitas palsu, dan menghancurkan kartu identitasnya sendiri pascakejadian.
“Ada unsur kesengajaan dan perencanaan yang cukup matang. Bahkan, mobil yang digunakan oleh pelaku diduga menjadi tempat eksekusi korban,” ungkap Pazri.
Keluarga korban juga menaruh curiga bahwa motif pembunuhan ini tidak semata-mata soal hubungan pribadi. Hilangnya barang-barang pribadi Juwita membuka kemungkinan adanya motif lain yang lebih kompleks.
“Yang paling menjadi perhatian kami adalah ditemukannya cairan putih dalam jumlah cukup banyak di rahim korban, serta adanya luka-luka mencurigakan. Ini harus ditelusuri lebih dalam oleh pihak berwenang,” pungkas Paz.(Tim/KPO-1)