Kalimantan Post - Aspirasi Nusantara
Baca Koran
Space Iklan
Space Iklan
Iklan Utama
Banjarmasin

Membawa Nilai Filosofi “Kayuh Baimbai” pada Level International

×

Membawa Nilai Filosofi “Kayuh Baimbai” pada Level International

Sebarkan artikel ini
IMG 20250525 WA0034
Konferensi Internasional Lembaga Pendidikan Tinggi Indonesia dan Malaysia

Banjarmasin, Kalimantanpost.com – Kearifan lokal kembali menjadi sorotan dalam dunia pendidikan, kali ini melalui sebuah ajang bergengsi bertaraf internasional. Universitas Islam Kalimantan (Uniska) Muhammad Arsyad Al Banjari sukses menggelar seminar internasional bertajuk “Malaysian-Indonesian International Conference on Education and Social Science”, Sabtu (24/5/2025), di kampus utama Uniska, Banjarmasin.

Mengusung semangat kolaborasi lintas negara, acara ini menggandeng dua universitas ternama dari Malaysia, yakni Universitas Putra Malaysia dan Universitas Pendidikan Sultan Idris. Fokus utama dalam diskusi ini adalah falsafah Banjar yang mendalam dan sarat makna: Kayuh Baimbai sebuah filosofi kebersamaan dan kerja sama yang menjadi fondasi kehidupan sosial masyarakat Kalimantan Selatan.

Kalimantan Post

Rektor Uniska, Assoc. Prof. Dr. H. Mohammad Zainul, dalam sambutannya yang diwakili Wakil Rektor IV Dr. Ilisa Fajriati, menekankan pentingnya penguatan identitas budaya melalui jalur pendidikan. Ia menyebut bahwa filosofi Kayuh Baimbai tidak hanya menjadi warisan budaya, tetapi juga dapat dijadikan pilar dalam membangun karakter siswa yang unggul.

“Ini merupakan langkah strategis. Kita tidak hanya memperkenalkan kearifan lokal Kalimantan Selatan ke dunia internasional, tetapi juga berusaha mengintegrasikannya ke dalam sistem pendidikan agar nilai-nilai luhur ini tetap hidup dan relevan,” ujar Rektor.

Ia menambahkan bahwa Kota Banjarmasin sebagai jantung Kalimantan Selatan memiliki potensi besar dalam menerapkan nilai-nilai Kayuh Baimbai dalam konteks pendidikan modern.

“Nilai-nilai seperti gotong royong, kerja sama, dan solidaritas menjadi landasan kuat untuk membentuk generasi muda yang tidak hanya cerdas secara akademis, tetapi juga berkarakter kuat dan berbudaya,” imbuhnya.

Wakil Rektor III Uniska, Dr. Didi Susanto, yang juga menjadi narasumber utama dalam konferensi ini, memaparkan secara mendalam makna dari filosofi Kayuh Baimbai. Menurutnya, filosofi ini mencerminkan semangat kebersamaan dalam menghadapi tantangan dan mencapai tujuan bersama.

Baca Juga :  Pemko Banjarmasin dan BCSR Gelar Pasar Murah untuk Stabilkan Harga Bahan di Kecamatan Banjarmasin Tengah.

“Dalam pendidikan, Kayuh Baimbai bukan hanya slogan. Ini adalah cara hidup yang bisa ditanamkan dalam kurikulum, kegiatan ekstrakurikuler, hingga dalam tata kelola dan interaksi sosial di sekolah. Nilai-nilainya begitu kaya: kerja sama, empati, tolong-menolong, dan tanggung jawab sosial,” jelasnya.

Ia menekankan bahwa sekolah berkarakter unggul tidak cukup hanya mengandalkan prestasi akademik. Lebih dari itu, perlu ada penanaman nilai-nilai moral dan sosial yang berpijak pada budaya lokal. “Dengan integrasi filosofi ini, kita membentuk siswa yang tidak hanya berpikir global tetapi tetap berpijak pada akar budaya lokalnya,” ujarnya.

Dr. Didi juga menyampaikan rencana Uniska untuk melakukan kajian mendalam di beberapa sekolah unggulan di Banjarmasin terkait penerapan nilai-nilai Kayuh Baimbai dalam sistem pembelajaran. Ia menilai bahwa integrasi ini mampu meningkatkan keterlibatan siswa, memperkuat rasa memiliki terhadap budaya lokal, serta membangun iklim pembelajaran yang lebih harmonis dan inklusif.

“Filosofi ini seolah tak lekang oleh waktu. Ia terus hidup dan menjadi kekuatan kolektif masyarakat Banjar,” tutur Dr. Didi dengan nada penuh semangat. Ia juga menambahkan bahwa penerapan Kayuh Baimbai dalam pendidikan bisa menjadi model pembelajaran karakter yang efektif, bukan hanya di Kalimantan, tetapi juga untuk diterapkan di berbagai daerah di Indonesia.

Di akhir paparannya, dosen yang dikenal low profile ini berpesan bahwa kearifan lokal dan tradisi adalah warisan berharga yang patut dijaga dan diwariskan. “Kekayaan lokal ini mengajarkan kesederhanaan, kebersamaan, dan kebijaksanaan. Jika ditanamkan sejak dini, generasi muda kita tidak hanya tumbuh menjadi insan yang cerdas, tetapi juga memiliki adab, etika, dan jati diri sebagai bangsa yang besar,” pungkasnya.

Seminar internasional ini tidak hanya menjadi ajang pertukaran gagasan antara akademisi Indonesia dan Malaysia, tetapi juga membuka cakrawala baru bagi pengembangan pendidikan karakter yang berakar pada kearifan lokal. Dengan mengangkat filosofi Kayuh Baimbai, Uniska menegaskan posisinya sebagai pelopor dalam menjembatani nilai-nilai budaya dan kemajuan pendidikan.

Baca Juga :  DLH Banjarmasin Klaim Fokus Perbaikan Pengelolaan Sampah

Di tengah arus globalisasi yang deras, pendidikan berbasis budaya lokal menjadi tameng sekaligus kekuatan untuk menjaga identitas bangsa. Dan Kayuh Baimbai, dengan segala kedalaman maknanya, telah membuktikan bahwa filosofi lokal mampu menembus batas zaman dan geografis, menjadi sumber inspirasi dalam membangun masa depan pendidikan yang lebih manusiawi, inklusif, dan bermakna.(fin)

Iklan
Iklan