Oleh : Nailah, ST
Pemerhati sosial politik
Menteri Warisan Budaya Israel, Amichai Eliyahu, berpandangan Israel seharusnya tidak khawatir tentang kelaparan di Gaza, meski hal itu menuai beragam kecaman. Politisi sayap kanan dari Otzma Yehudit tersebut menyatakan Israel akan ‘berlomba-lomba’ untuk menghapus Jalur Gaza.
Ini menunjukkan kebiadaban Zionis Yahudi makin meningkat, bahkan tak dapat diungkapkan dengan kata-kata, seolah mereka bukan manusia, membiarkan krisis kelaparan yang sangat mengerikan. Bahkan nampak kelaparan sebagai cara genosida baru. Gaza, dengan 2 juta jiwa yang terjebak dalam blokade, merasakan kelaparan hebat.
Kelaparan yang nyata
Pihak zionis mengeklaim, blokade itu dilakukan karena khawatir jika bantuan kemanusiaan akan dimanfaatkan oleh Hamas. Lalu Zionis bersama Amerika Serikat mengusulkan sistem distribusi bantuan baru melalui sebuah lembaga bernama Gaza Humanitarian Foundation (GHF). Namun niat jahat mereka tidak mampu ditutup-tutupi. Rencana tersebut hanyalah upaya mereka agar bisa mengontrol distribusi bantuan dalam kerangka tujuan politik dan militer yang lebih besar.
Mereka tetapkan empat titik penyaluran bantuan yang memaksa penduduk Gaza berpindah dari utara ke selatan di perbatasan Mesir. Rencana ini sejalan dengan keinginan mereka mempercepat pengosongan Gaza dan mengusir warganya keluar dari sana. Gaza telah menjadi salah satu tempat yang penduduknya paling kelaparan di dunia. Setelah berbulan-bulan pengepungan brutal dan penghancuran lahan pertanian dan infrastruktur, Kelaparan bukanlah ancaman. Itu adalah kenyataan.
Penjahat sesungguhnya
Zionis kerap menjadikan alasan pembelaan diri sebagai legitimasi menyerang warga Gaza. Padahal, tujuan mereka sebenarnya ingin membumihanguskan Gaza hingga tidak bersisa. Bagi AS dan Zionis, penduduk Gaza seperti benda-benda tidak berharga dan bernyawa. Serangan militer yang mereka lakukan selalu menyasar tempat-tempat yang semestinya bebas dari zona perang, seperti rumah sakit, sekolah, permukiman dan sekarang tempat-tempat warga Gaza mendapatkan bantuan makanan. Jika dunia bertanya, “Siapakah penjahat dan pembunuh paling kejam di dunia?” Jawabannya adalah zionis dan AS.
Mereka (para penguasa muslim) adalah pengkhianat sejati. Ada genosida di depan mata, mereka diam. Ada keterlibatan AS dalam genosida, mereka menutup mata dan lebih memilih berjabat tangan dengan AS. Ada musuh bersama yang harus diperangi, mereka mengambil langkah aman dengan bersikap tidak acuh. Sungguh memalukan jika mengingat pembelaan tokoh atau aktivis nonmuslim yang justru lebih lantang melawan penjajahan dan genosida Zionis secara terang-terangan dibandingkan tokoh dan penguasa negeri muslim sendiri.
Gaza bagi dunia
Sejatinya, masyarakat dunia sudah memiliki kesadaran global menyangkut soal Gaza dan Palestina. Itu tampak dari berbagai aksi massa yang terus masif dan kolosal di berbagai negara, termasuk Aksi March to Gaza yang fenomenal. Begitu pun aksi boikot, bantuan dana dan logistik, dan lainnya, terus berlangsung hingga sekarang. Semua itu menunjukkan bahwa mayoritas masyarakat dunia berdiri membela Gaza-Palestina.
Masalah Gaza-Palestina adalah masalah politik yang berkelindan dengan konstelasi politik global. Sehingga solusi yang semestinya dituntut oleh masyarakat dunia adalah pengusiran penjajah Zionis dari setiap jengkal
Tanah Palestina.
Solusi strategis ini berupa jihad, yaitu berperang dalam kerangka meninggikan kalimat Allah di muka bumi. Jihad hakikatnya adalah menghilangkan penghalang fisik, berupa kekuatan negara dan militer, yang menghalangi manusia kenal dengan Allah sebagai Pencipta alam semesta beserta manusia dan kehidupannya, dan menghalangi manusia menerapkan aturan dari Allah SWT.
Jihad inilah yang akan mampu menghentikan kebiadaban, kebrutalan dan kesombongan kekuatan sekuler dan mewujudkan kehidupan yang manusiawi dengan tunduk patuh hanya kepada Al-Khalik, Allah Taala. Hanya saja, jihad ini tidak bisa dilakukan secara individual maupun kelompok individu. Jihad yang efektif harus di bawah komando pemimpin negara super power baru, yaitu Khilafah Islamiah.
Pergerakan politik global
Untuk bisa mengimplementasikan solusi strategis bagi masalah kelaparan Gaza, umat Islam perlu melakukan pergerakan politik global, untuk mengubah tata dunia sekuler menjadi tata dunia Islam. Sebagaimana dulu Rasul dan para sahabat juga melakukan aktivitas tersebut dalam periode Makkah. Periode Mekah adalah kondisi ketika umat Islam hidup dalam tatanan kehidupan kufur, berupa kemusyrikan. Umat Islam tidak punya kebebasan untuk tunduk patuh kepada Allah karena mereka hidup dalam sistem kufur.
Oleh karenanya Rasul sebagai pemimpin kaum muslim menggerakkan kaum muslim untuk melakukan perubahan tatanan kehidupan. Ini merupakan pergerakan politik umat Islam. Pertama, proses perubahan menuju diterapkannya Islam (dakwah Islam) harus dilakukan secara berjemaah yang dalam jemaah itu ada pemimpin dan ada ikatan akidah di antara anggotanya. Ikatan ini merupakan ikatan pemikiran, perasaan, dan hukum, yang memandu manusia dalam menjalani kehidupannya.
Kedua, mengedukasi masyarakat agar terjadi perubahan pemikiran, perasaan, dan aturan. Ini merupakan aktivitas pokok dan penting bagi pergerakan politik Islam, menjadikan ideologi Islam sebagai pengikat anggotanya, sekaligus terus menyebarkan ideologi Islam ke tengah masyarakat.
Ketiga, dilakukan aktivitas politik, berupa senantiasa mengkritisi dan mengevaluasi kebijakan penguasa yang kufur dan menawarkan Islam sebagai solusi permasalahan kehidupan bersama.
Pergerakan politik seperti itulah yang akan mampu mewujudkan kekuatan politik praktis umat Islam seluruh dunia, yaitu Khilafah Islamiah yang akan menjadi menyelesaikan seluruh permasalahan, menyatukan seluruh potensi Islam, hingga menjadi kekuatan yang diperhitungkan di panggung internasional.