Kalimantan Post - Aspirasi Nusantara
Baca Koran
Space Iklan
Space Iklan
Iklan Utama
Opini

Menghidupkan Kearifan Lokal: Belajar dari Pedalaman untuk Masa Depan Pendidikan Indonesia

×

Menghidupkan Kearifan Lokal: Belajar dari Pedalaman untuk Masa Depan Pendidikan Indonesia

Sebarkan artikel ini
culture 1

Penulis:

Dr. Husnul Madihah, M.Pd

Kalimantan Post

Dosen Magister Administrasi Pendidikan Fakultas Pascasarjana UNISKA MAB Banjarmasin

Dr. Didi Susanto, S.Sos., M.I.Kom., M.Pd

Dosen Magister Administrasi Pendidikan Fakultas Pascasarjana UNISKA MAB Banjarmasin

Wakil Rektor 3 Universitas Islam Kalimantan (UNISKA) MAB Banjarmasin

Dr. Rico, S.Pd., M.I.Kom

Dosen Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UNISKA MAB Banjarmasin

Pendidikan di Indonesia masih menghadapi tantangan besar, terutama di wilayah pedalaman yang kerap terpinggirkan dari akses, infrastruktur, dan kualitas sumber daya. Dalam situasi ini, kearifan lokal hadir sebagai modal sosial (cultural capital) yang berharga bagi pendidikan. Pierre Bourdieu (1986) menekankan bahwa modal budaya berfungsi membentuk identitas dan memengaruhi keberhasilan individu dalam masyarakat. Jika dimanfaatkan dengan tepat, nilai-nilai budaya lokal seperti gotong royong, solidaritas sosial, dan harmoni dengan alam dapat menjadi fondasi pendidikan karakter yang tidak hanya relevan secara lokal, tetapi juga memberi kontribusi pada pembangunan bangsa.

Relevansi kearifan lokal dalam pendidikan semakin terasa di era globalisasi yang sering kali menyeragamkan cara pandang generasi muda. UNESCO (2021) melalui agenda Education for Sustainable Development menegaskan pentingnya pendidikan yang tidak hanya fokus pada capaian akademik, tetapi juga keberlanjutan sosial, budaya, dan lingkungan. Di sinilah nilai-nilai lokal dapat menjadi penopang untuk melahirkan generasi yang beretika, berempati, dan berakar pada identitas bangsa.

Lebih jauh, filsuf pendidikan John Dewey menekankan bahwa proses belajar harus berangkat dari pengalaman nyata masyarakat. Hal ini sejalan dengan praktik di daerah pedalaman Indonesia, di mana pendidikan berbasis kearifan lokal mampu memperkuat ikatan sosial, menanamkan rasa tanggung jawab, serta membentuk karakter siswa yang lebih tangguh menghadapi tantangan modern. Dengan demikian, menghidupkan kembali kearifan lokal bukanlah sekadar romantisme masa lalu, melainkan strategi penting menuju masa depan pendidikan Indonesia yang berkelanjutan.

Kearifan Lokal sebagai Fondasi Pendidikan Karakter

Kearifan lokal pada hakikatnya adalah nilai-nilai yang hidup dan diwariskan dari generasi ke generasi. Dalam konteks pendidikan, ia berfungsi sebagai fondasi pembentukan karakter yang lebih kuat dan kontekstual. Nilai gotong royong, misalnya, tidak sekadar mengajarkan kerja sama, tetapi juga menanamkan kesadaran akan tanggung jawab sosial. Paulo Freire (1970) dalam Pedagogy of the Oppressed menekankan bahwa pendidikan harus membebaskan manusia melalui dialog dan kesadaran kritis. Dalam kerangka ini, kearifan lokal menjadi sarana dialog antara siswa dengan budaya mereka sendiri, sehingga pendidikan tidak terlepas dari realitas sosial.

Filsuf pendidikan John Dewey juga menegaskan bahwa pengalaman sosial adalah inti dari proses belajar. Pendidikan yang berakar pada kehidupan nyata memungkinkan siswa mengembangkan pengetahuan sekaligus membangun karakter. Hal ini sejalan dengan temuan Peterson & Seligman (2004) yang menyatakan bahwa pendidikan karakter efektif bila didasarkan pada kekuatan dan kebajikan yang sudah tertanam dalam komunitas. Nilai solidaritas sosial yang tumbuh di pedalaman, misalnya, mengajarkan siswa tentang kepedulian, empati, dan keberanian untuk berbagi.

Baca Juga :  Solusi Penanganan Stunting

Pengalaman internasional menunjukkan bahwa pendidikan berbasis budaya lokal memiliki dampak positif. Hofstede (2022) menyoroti bagaimana Jepang melalui filosofi Bushido menanamkan etos kerja dan loyalitas; sementara di Afrika, konsep Ubuntu memperkuat ikatan sosial dan solidaritas (Gade, 2019). Studi Kim & Lee (2021) juga menemukan bahwa di Korea Selatan, integrasi nilai budaya lokal dalam kurikulum meningkatkan keterikatan sosial siswa.

Dengan demikian, kearifan lokal bukan sekadar pelengkap, tetapi fondasi penting untuk menciptakan generasi yang beretika, berempati, dan memiliki identitas budaya yang kokoh. Pendidikan karakter berbasis nilai lokal dapat menjadi jembatan antara tradisi dan modernitas, sekaligus memperkuat keberlanjutan pendidikan nasional.

Belajar dari Pedalaman: Praktik Baik dan Tantangan

Wilayah pedalaman Indonesia, seperti Desa Artain dan Rantau Balai di Kabupaten Banjar, memperlihatkan bagaimana kearifan lokal dapat terintegrasi dalam pendidikan sehari-hari. Nilai gotong royong tampak nyata dalam kegiatan sekolah: siswa terbiasa bekerja dalam kelompok, bergotong royong membersihkan lingkungan, hingga berpartisipasi dalam proyek sosial komunitas. Praktik ini selaras dengan gagasan Amitai Etzioni (1995) dalam teori Communitarianism, bahwa masyarakat adalah agen moral yang membentuk individu melalui keterlibatan kolektif. Melalui pengalaman sosial tersebut, siswa tidak hanya belajar akademik, tetapi juga menginternalisasi nilai solidaritas dan tanggung jawab.

Namun, penerapan pendidikan berbasis kearifan lokal di pedalaman tidak lepas dari tantangan. Sebagian siswa cenderung memandang kegiatan gotong royong atau kepedulian sosial hanya sebagai kewajiban rutin, bukan sebagai refleksi nilai filosofis yang lebih dalam. Kondisi ini menegaskan pandangan Bandura (1977) dalam Social Learning Theory bahwa pembelajaran tidak cukup hanya melalui pengulangan perilaku, melainkan memerlukan pemodelan yang disertai pemahaman makna. Di sisi lain, guru menghadapi dilema antara mengejar target akademis yang tinggi dan mengintegrasikan nilai budaya lokal ke dalam pembelajaran.

Studi internasional memperkuat tantangan ini. Kim & Lee (2021) menunjukkan bahwa meski pendidikan berbasis nilai budaya di Korea Selatan mampu meningkatkan identitas sosial, keberhasilannya tetap bergantung pada dukungan kurikulum dan pelatihan guru. Begitu pula di Afrika Selatan, konsep Ubuntu baru berhasil memperkuat komunitas setelah dilengkapi dengan strategi pendidikan yang sistematis (Gade, 2019).

Dari pedalaman, kita belajar bahwa kearifan lokal dapat menjadi kekuatan pendidikan yang otentik. Namun, tanpa strategi pedagogis yang tepat, nilai-nilai ini berisiko direduksi menjadi sekadar aktivitas formal, bukan fondasi karakter yang membentuk masa depan bangsa.

Baca Juga :  Indonesia Sudahkah Benar-benar Merdeka?

Masa Depan Pendidikan Indonesia: Strategi dan Refleksi

Menghidupkan kearifan lokal dalam pendidikan bukanlah sekadar upaya melestarikan tradisi, tetapi strategi membangun generasi yang berkarakter, berempati, dan berdaya saing. Untuk mewujudkannya, diperlukan langkah konkret. Pertama, kurikulum nasional perlu memberi ruang lebih luas bagi integrasi nilai budaya lokal dalam pembelajaran. Hal ini sejalan dengan gagasan Thomas Lickona (2019) bahwa pendidikan karakter harus ditopang oleh kebajikan yang kontekstual agar membentuk warga negara yang etis dan bertanggung jawab.

Kedua, pelatihan guru menjadi kunci. Guru harus diperlengkapi tidak hanya dengan keterampilan pedagogis, tetapi juga pemahaman filosofis tentang nilai-nilai lokal. Sebagaimana ditegaskan oleh John Dewey, guru adalah fasilitator pengalaman belajar yang menghubungkan siswa dengan kehidupan sosialnya. Tanpa kesiapan guru, kearifan lokal berisiko hanya menjadi simbol tanpa makna substantif.

Ketiga, kolaborasi antara sekolah, keluarga, dan komunitas harus diperkuat. UNESCO (2021) menekankan pentingnya whole community approach dalam pendidikan berkelanjutan. Nilai gotong royong dan solidaritas hanya dapat hidup bila didukung oleh ekosistem sosial yang konsisten.

Kearifan lokal merupakan aset bangsa yang relevan dengan cita-cita Indonesia Emas 2045. Belajar dari pedalaman mengajarkan bahwa pendidikan tidak boleh tercerabut dari akar budaya. Sebaliknya, ia harus menjadi jembatan antara tradisi dan modernitas. Dengan strategi terarah, kearifan lokal dapat menjadi fondasi pendidikan yang tidak hanya mencerdaskan, tetapi juga memanusiakan.

Menghidupkan kearifan lokal adalah menghidupkan jiwa bangsa itu sendiri. Dari pedalaman kita belajar bahwa pendidikan sejati bukan hanya tentang angka di rapor, melainkan tentang membentuk manusia yang berakar pada nilai, berbuah dalam tindakan, dan bernafas dengan empati. Masa depan Indonesia tidak akan ditentukan oleh seberapa cepat kita mengejar modernitas, tetapi oleh seberapa teguh kita menjaga pijakan budaya yang memberi arah pada modernitas itu.

Seperti yang dikatakan filsuf George Santayana, “A society that forgets its past is doomed to repeat it.” Maka, jika bangsa ini melupakan kearifan lokal, kita berisiko kehilangan arah dalam arus globalisasi. Sebaliknya, bila kita merawat dan mengajarkannya, kearifan itu akan menjadi cahaya penerang jalan bagi generasi emas 2045.

Mari menjadikan sekolah bukan sekadar ruang belajar ilmu, tetapi juga taman nilai dan kebajikan. Sebab bangsa yang besar bukan hanya dibangun oleh teknologi dan ekonomi, tetapi oleh karakter warganya yang kokoh. Dan di situlah kearifan lokal kita bersemayam.

“Pendidikan yang berakar pada budaya akan melahirkan generasi yang tak hanya cerdas berpikir, tetapi juga arif bertindak. Dari kearifan lokal, Indonesia belajar berdiri tegak di hadapan dunia.”(Madihah, Susanto, Rico, 2025)

Iklan
Iklan