oleh: Noorhalis Majid
APAKAH anda pernah mendengar nama Dian Interfidei? Salah satu NGO yang mempelopori dialog antar iman di Indonesia, berdomisili di Yogyakarta, berdiri pada 20 Desember 1991, secara resmi dipublikasikan ke masyarakat pada 10 Agustus 1992.
Bila mengacu pada tanggal pendirian, tanpa terasa Dian Interfidei sudah memasuki usia 34 tahun. Usia yang cukup panjang bagi satu lembaga yang cara dan semangat kerjanya berbasis pada kerelawanan.
Nama lengkap lembaga ini Institute Dian Interfidei. Dian itu sendiri akronim dari dialog antar iman. Sengaja memilih kata iman, bukan agama, karena yang diharapkan berdialog adalah kesadaran terdalam dari agama, yang menjadi substansi atau inti dari agama berupa iman, di dalamnya pasti memiliki titik temu yang lebih lapang.
Bukan agama yang diajak berdialog. Sebab, bila agama yang dipilih dan bukan iman, sering kali berubah wujud menjadi institusi, kelembagaan dan bahkan simbol. Saat simbol yang berdialog, yang muncul justru ego, bukan kesetaraan, apalagi ketulusan untuk menerima siapa dan apapun yang berbeda.
Pendiri dari lembaga ini adala para tokoh, yang secara sadar membangun kesepakatan untuk berdialog melintasi batas-batas yang selama ini tabu didialogkan. Nama seperti Th Sumartana, Pdt Eka Darmaputera, Dr Daniel Dhakidae, Zulkifly Lubis, dan Dr Djohan Effendi, memang boleh dibilang menjadi pelopor dalam dialog lintas iman di Indonesia, dan Dian Interfidei adalah lembaga yang mereka bentuk untuk mewadahi dialog tersebut.
Bukti nyata keberbasilan Dian Interfidei sepanjang 34 tahun ini, ditandai dimana gagasan dan pikirannya telah menginspirasi gerakan yang sama di banyak tempat, mulai dari Papua hingga Aceh. Salah satunya dengan terbentuk forum-forum Dialog seperti di Makasar dan Banjarmasin, atau dengan nama lain seperti Jakatarub di Bandung, atau Jalin Harmoni di Sulawesi, serta dalam berbagai bentuk program interfaith seperti yang dilaksanakan Lembaga Kajian Keislaman dan Kemasyarakatan (LK3) Banjarmasin sejak tahun 2000.
Bahkan LK3 berhasil mengembangkannya lebih jauh dalam berbagai kegiatan inovatif berupa live in pemuda, dengan mengajak serta tinggal bersama di salah satu komunitas agama atau komunitas adat, untuk merasakan suasana hidup bersama dengan orang yang berbeda; Melakukan dialog teologi dengan mengangkat berbagai tema menarik yang dapat menjadi titik temu dan memahami titik pisah agama-agama; Melakukan dialog saat bulan puasa, untuk memahami bahwa di setiap agama juga memiliki tradisi dan kewajiban puasa; Menggelar expo religi yang di dalamnya menyelenggarakan pameran dan panggung budaya, untuk mengenalkan bahwa semua agama memiliki kiprah dan peran yang sangat besar dalam kehidupan sosial dan layak untuk bekerjasama serta berkolaborasi; Menggelar refleksi kemerdekaan beragama setiap tahun perayaan kemerdekaan, untuk mengevaluasi apakah ketika sudah merdeka sekian puluh tahun, kemerdekaan beragama juga turut terjamin; Melakukan pemberdayaan pelaku UMKM antar iman, untuk membangun kesadaran bahwa ekonomi dapat menjadi titik temu kebersamaan, berbuah pada kemajuan serta kesejahteraan bersama; Membentuk koperasi antar iman, sebagai wadah untuk saling menguatkan dan berbagi untuk terus bergotong royong dalam lapangan ekonomi; Melakukan advokasi kebijakan dengan melahirkan Perda toleransi kehidupan beragama dan bermasyarakat, sebagai peraturan payung untuk melindungi semua yang berbeda;
Dian Interfidei sendiri setelah melakukan penguatan kepada tokoh-tokoh agama untuk membangun kebersamaan dan saling bahu membangun membangun kerukunan. Setelah lama membangun dialog para tokoh, kemudian beralih membangun dialog pada kelompok sasaran yang dianggap strategis, dalam hal ini guru-guru, khususnya guru agama. Dengan asumsi, guru agama dapat menanamkan nilai-nilai toleransi sejak dini, dan bukan justru memprovokasi serta memupuk kebencian kepada orang yang berbeda agama. Dengan menumbuhkan kesadaran pada guru-guru agama, maka pengenalan terhadap orang yang berbeda keimanan ditopang kesadaran teologis, bahwa akar teologis semua agama menyembah pada satu Tuhan yang sama, sehingga dapat saling memahami dan menguatkan.
Setelah memperkuat guru-guru agama, Dian Interfidei kemudian menyadari bahwa ternyata tidak cukup pada guru-guru agama, sebab sering kali terdapat benturan kebijakan dari kepala sekolah dan keterbatasn guru lainnya untuk turut mempromosikan toleransi kepada anak didik. Akhirnya disasarlah semua guru, termasuk kepala sekolah dan wakil kepala sekolah, serta pengurus yayasan pendidikan, sehingga semua orang yang terlibat dalam pendidikan, bersama-sama menciptakan atmosfir kehidupan toleransi di dunia sekolah, sebagai laboratorium kehidupan yang dapat memperkenalkan dan menanamkan toleransi kepada seluruh anak didik tanpa kecuali.
Tidak berhenti di situ, Dian Interfidei juga masuk mengakrapi isu-isu kemanusiaan dan lingkungan hidup, sebagai titik temu agama-agama untuk dapat menyikapinya dengan bijak.
Isu perdagangan manusia, yang selama ini lalai disikapi tokoh agama-agama, kemudian disoroti dengan melakukan pembelaan dan pendampingan, serta penyadaran kepada semua pihak, bahwa manusia adalah makhluk mulia yang tidak pantas diperdagangkan atas dasar dan kedok apapun.
Pun terhadap lingkungan hidup, terutama terkait perubahan iklim, Dian Interfidei membangun kesaran di kalangan pemuka agama, bahwa semua agama harus bahu membahu menghentikan pengrusakan alam yang memberi pengaruh pada rusaknya rumah bersama yaitu bumi, tempat tinggal semua umat beragama atau pun yang memilih tidak beragama. Bila tidak dihentikan, bencana akan menimpa siapa saja tanpa kecuali.
Terbayang, seandainya yang dilakukan Dian Interfidei juga menginspirasi banyak lembaga dan kelompok lain untuk turut melakukan hal yang sama di seluruh Indonesia, pastilah memberi efek besar bagi kesadaran dan kemaslahatan bersama.
Betul masih banyak masalah terkait hubungan antar iman, terutama dalam soal izin pendirian rumah ibadah atau soal diskriminasi atas nama agama dan kepercayaan, tapi gerakan ini sudah berkembang sedemikian rupa, sudah menginspirasi, sudah mengubah pola pikir banyak orang. Tinggal gerakan tersebut dikembangan, dimodifikasi, agar sesuai dengan situasi dan kondisi tempatan, dimana program tersebut dilaksanakan.
Dian Interfidei selama ini tanpa lelah berkeliling mengenalkan dialog, sebagai cara paling beradab dalam membangun kerukunan. Tanpa dialog, mungkin sangat sulit untuk bisa saling memahami di tengah multidimensi keragaman, yang harus bertemu dan berinteraksi di bumi dan di negara yang sama.
Maka dengan segala persoalan keragaman yang begitu komplek, kata Dian di depan nama Interfidei, mengandung makna, dari pada mengutuk kegelapan, lebih baik nyalakan lilin. Dari pada mencaci maki berbagai tindak intoleransi dan kebencian antar sesama yang masih begitu banyak, lebih baik kita membangun kesadaran untuk terus membangun budaya toleransi melalui dialog, agar semua bisa hidup damai dalam keragaman.