BANJARMASIN, Kalimantanpost.com – Festival Kayutangi Pawai Budaya dengan tema “Ragam Pesona Budaya Kalimantan Selatan” mengawali kegiatan Karasmin Banua Seribu Sungai diselenggarakan oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Kalimantan Selatan melalui UPTD Taman Budaya. Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian perayaan Hari Jadi ke-75 Provinsi Kalimantan Selatan sekaligus menyambut Hari Kemerdekaan RI ke-80 pada Sabtu (16/8/2025).
Diawali pawai di depan Taman Budaya Provinsi Kalsel mulai pukul 15.00 Wita diikuti 26 komunitas seni dari berbagai daerah akan terlibat, melibatkan sekitar 500 peserta.
Usai pawai, setiap peserta diberita waktu tiga unjuk kebolehan. Ada yang menampilkan Tari Kuda Gepang, Tarian Mandi-mandi, fashion show dan lain-lain di depan dewan juri.
Selain itu, penonton juga dihibur dengan hiburan musik serta melibatkan pelaku UMKM yang berjualan diseputar lokasi acara.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Kalimantan Selatan, Dr Ir Hj Galuh Tantri Narindra, ST, MT disela-sela acara mengatakan kegiatan ini berlangsung selama tiga hari dengan melibatkan seniman, budayawan, komunitas seni, hingga masyarakat umum.
“Berbagai penampilan budaya ditampilkan untuk menunjukkan kekayaan tradisi Banua yang beragam, mulai dari kesenian tari, musik, hingga atraksi khas daerah. Kehadiran pawai budaya ini diharapkan bukan hanya menjadi hiburan, tetapi juga wadah memperkuat identitas serta persatuan masyarakat Kalsel,” ujarnya.
Dijelaskan Galuh Tantri, festival ini juga memiliki tujuan strategis, yakni meningkatkan Indeks Pembangunan Kebudayaan (IPK) melalui tingginya partisipasi masyarakat dalam kegiatan seni dan budaya.
“Pemerintah provinsi menilai jumlah pagelaran kebudayaan setiap tahunnya, baik di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota, sebagai acuan untuk evaluasi dan pengembangan di masa mendatang,” tandasnya.
Ditambahkan Galuh Tantri didampingi Kepala UPTD Taman Budaya Provinsi Kalsel, Suharyanti, pentingnya peran kegiatan ini sebagai bentuk penghargaan bagi para budayawan dan seniman lokal.
“Semakin banyak masyarakat yang terlibat dalam pagelaran kebudayaan, nilai pembangunan kebudayaan kita akan semakin meningkat. Kegiatan ini menjadi wujud nyata seni dan budaya Banua tidak boleh hilang, justru harus terus berkembang dan lestari.” ujarnya.
Selain pawai, lanjut dia, kegiatan ini juga menjadi momentum untuk menghidupkan kembali kesenian tradisional yang hampir punah.
“Dinas Pendidikan dan Kebudayaan berkomitmen melakukan revitalisasi dengan melibatkan para seniman dan budayawan agar warisan tersebut tidak sekadar menjadi catatan sejarah. Taman Budaya diposisikan sebagai “laboratorium” seni untuk melestarikan tradisi sekaligus mengemasnya agar relevan dengan zaman.
Lebih lanjut, Tantri menegaskan pelestarian budaya harus disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat masa kini tanpa menghilangkan nilai tradisinya.
“Kami ingin seni tradisi tidak dianggap kuno, oleh karena itu, kemasan baru, kolaborasi, dan kreativitas seniman menjadi kunci, lihat saja seni Madihin, yang kini dikenal luas karena kemampuannya beradaptasi dengan zaman, namun tetap mempertahankan ciri khasnya,” ungkapnya.
Ditambahkan Tanri, pawai budaya tahun ini juga tercatat mengalami peningkatan partisipasi dari komunitas seni dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
“Antusiasme tersebut membuka peluang besar agar festival ini bisa dikembangkan menjadi agenda berskala nasional, bahkan internasional, di masa depan. Pemerintah provinsi juga berencana melibatkan lebih banyak kabupaten/kota agar turut serta dalam rangkaian pawai mendatang,” tegasnya.
Tidak hanya itu, timpal Kepala Taman Budaya Kalsel, Suharyanti, serangkaian kegiatan seni lainnya pun sudah dijadwalkan. Pameran lukisan akan dipindahkan ke gedung baru Warga Sari yang saat ini tengah direnovasi, untuk kemudian digunakan dalam ajang Temu Karya Taman Budaya se-Indonesia pada November mendatang.
Sementara itu, Pameran Langkar, jelas dia, dijadwalkan berlangsung pada September sebagai bagian dari rangkaian acara menuju peringatan Hari Jadi Provinsi Kalimantan Selatan yang rutin digelar pada Oktober.
Dengan semangat kebersamaan, Festival Kayutangi Pawai Budaya membuktikan Kalimantan Selatan tidak hanya kaya akan sumber daya alam, tetapi juga memiliki pesona budaya yang memikat.
“Melalui revitalisasi, kolaborasi, dan dukungan penuh pemerintah, seni budaya Banua diyakini mampu terus hidup, beradaptasi, dan membawa nama Kalsel hingga ke kancah internasional,” pungkas Suharyanti. (nug/KPO-3)















