Kalimantan Post - Aspirasi Nusantara
Baca Koran
Space Iklan
Space Iklan
Iklan Utama
Opini

Nasib Pilu Gaza, Kebutuhan Akan Khilafah Makin Mendesak

×

Nasib Pilu Gaza, Kebutuhan Akan Khilafah Makin Mendesak

Sebarkan artikel ini

Oleh : Devi
Pemerhati Sosial Kemasyarakatan

Aksi brutal Israel sudah tidak terbilang melakukan tindakan melanggar hukum Internasional. Aksi yang baru-baru saja terjadi adalah pembunuhan para jurnalis yang meliput berita di Gaza. Sebanyak enam orang jurnalis Syahid dalam serangan udara Israel di Gaza City pada 10 Agustus 2025. Lima jurnalis Al-Jazeera dan seorang reporter, pihak zionis mengeklaim salah satu dari jurnalis itu sebagai teroris yang berafiliasi dengan Hamas dan telah berpura-pura menjadi jurnalis. Dujarric, juru bicara (jubir) Sekretaris Jenderal (Sekjen) Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Antonio Guterres mengungkapkan telah tewas sebanyak 242 jurnalis Palestina di Gaza sejak perang dimulai (antaranews.com, 12/08/25)

Kalimantan Post

Motif pembunuhan jurnalis hakikatnya untuk membungkam media agar tidak menyiarkan kejahatan genosida di Gaza yang semakin massif. Jurnalis Palestina selama ini bersama rakyat Palestina menyampaikan berita obyektif terkait kondisi mereka, ditengah gempuran pemutar balikkan fakta yang merupakan perang misinformasi untuk mengubah opini global yang selama ini selalu di gencarkan oleh zionis Israel. Mulai narasi militer Israel tentang rumah sakit sebagai markas Hamas namun ternyata hal tersebut tidak terbukti(spiritofaqsa.or.id, 14/11/25), hingga mengopinikan tidak dilakukan blockade total terhadap bantuan kemanusiaan padahal tersebut telah terjadi sejak Maret 2025 hingga membuat kematian akibat kelaparan mencapai 217 jiwa, termasuk 100 jiwa di antaranya adalah anak-anak. Setidaknya 200.000 anak Palestina di Jalur Gaza menderita malnutrisi parah. Pada Juli 2025, WHO mencatat hampir 12.000 anak yang berusia kurang dari lima tahun mengalami malnutrisi akut(muslimahnews.net,21/08/25).

Pembunuhan jurnalis tak hanya menghilangkan nyawa seorang manusia tapi juga zionis ingin membunuh nyawa perjuangan rakyat Gaza hingga kejahatan yang mereka lakukan sunyi senyap. Namun, realitas ini sekaligus menunjukkan kepada dunia bahwa Zionis sejatinya sudah putus asa dengan perlawanan rakyat Gaza yang selama hampir dua tahun ini seolah-olah tidak kunjung padam. Perilaku ini menunjukkan ketidakmampuan mereka mengalahkan perjuangan rakyat Gaza secara kesatria.

Baca Juga :  Menghidupkan Kearifan Lokal: Belajar dari Pedalaman untuk Masa Depan Pendidikan Indonesia

PBB sebagai Lembaga dunia tertinggi dimasa sekarang dan sejumlah badan kemanusiaan selama ini hanya mampu mengutuk tindakan kejahatan yang dilakukan oleh zionis. Diam seribu bahasanya para penguasa negeri kaum muslimin atas kebiadapan tersebut. Kaum muslimin dipastikan tidak dapat berharap kesiapapaun kecuali kepada Institusi Independen kaum muslimin yaitu Institusi Khilafah. Khilafah yang akam mengerahkan militer untuk memerangi Militer Zionis yang pengecut.

Wilayah Palestina pertama kali dibebaskan pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin Khaththab ra. Kemudian Palestina dibebaskan untuk yang kedua kalinya oleh Shalahuddin al-Ayyubi. Sepanjang sejarah, Palestina tetap berada dalam kesatuan wilayah Khilafah hingga tetes darah penghabisan pada masa pemerintahan Sultan Abdul Hamid II yang melindunginya dari segala upaya busuk zionis yang ingin menguasainya. Jelas, kemuliaan Palestina hanya akan kembali terwujud dengan tegaknya Khilafah.

Oleh sebab itu, hendaklah kita berpegang teguh pada metode dakwah Rasulullah SAW, juga mencontoh khulafaurasyidin dan khulafa sepanjang peradaban Islam yang mulia. Kemuliaan itu hanya akan diraih dengan tegaknya Islam kafah melalui institusi Khilafah. Perjuangan menuju tegaknya Khilafah membutuhkan kepemimpinan sebuah jemaah dakwah Islam ideologis yang tulus mengajak umat untuk berjuang.

Perjuangan para jurnalis yang terus berada di garis depan memberitakan nasib saudara muslim kita di Gaza dan Palestina pada umumnya hendaknya menjadi motivasi besar bagi kita untuk berkontribusi menuju pembebasan hakiki bagi mereka. Jangan ragu untuk meneladan as-sayyidusy syuhada (penghulu para syuhada), sebagaimana sabda Rasulullah SAW, “Pemimpin para syuhada adalah Hamzah bin Abdul Muthalib dan orang yang melawan penguasa kejam, ia melarang dan memerintah, tetapi akhirnya ia mati terbunuh.” (HR Ath-Thabrani).

Juga hadis dari Abu Sa’id al-Khudri ra, “Jihad yang paling utama ialah mengatakan kebenaran (berkata yang baik) di hadapan penguasa yang zalim.” (HR Abu Daud). Wallahualam bissawab.

Iklan
Iklan