Kalimantan Post - Aspirasi Nusantara
Baca Koran
Space Iklan
Space Iklan
Iklan Utama
Opini

PERJUANGAN MENDIRIKAN PERGURUAN TINGGI

×

PERJUANGAN MENDIRIKAN PERGURUAN TINGGI

Sebarkan artikel ini
Ahmad Barjie B
Ahmad Barjie B

Oleh : AHMAD BARJIE B

Rektor ULM periode 2014-2022 Prof Dr H Sutarto Hadi MSc MSi, dalam sebuah pidato wisuda, mengungkap kilas balik sejarah berdirinya ULM, lebih 60 tahun lalu. Pak Soetarto membaca secara lengkap teks Proklamasi 17 Mei 1949, yang dahulu dikumandangkan Hassan Basry di Kandangan. Bapak Gerilya Kalimantan dan Pahlawan Nasional ini bersama para tokoh Banjar di Kalimantan adalah pendiri ULM.

Kalimantan Post

Menurut Sutarto, ketika pemerintah RI terpaksa menandatangani Perjanjian Lingga Jati (Linggarjati), wilayah RI yang diakui Belanda baru pulau Jawa, Madura dan Sumatra. Kalimantan belum dimasukkan, bahkan ingin dijadikan sebagai negara bagian (Federal) oleh Belanda, dengan nama Negara Borneo.

Namun para pejuang dan tokoh Banjar menolak, mereka terus melakukan perlawanan gerilya dalam kesatuan ALRI Divisi IV Pertahanan Kalimantan, dan melalui Proklamasi 17 Mei 1949 ditegaskan bahwa Kalimantan tetap setia dalam NKRI di bawah Presiden Soekarno – Hatta yang diproklamasikan 17 Agustus 1945. Mahasiswa, sarjana dan alumni ULM perlu sekali mengingat kembali sejarah berdirinya ULM, sebab dari situ dibangun semangat kebangsaan dan tekad memajukan banua.

Hal penting dan menarik yang perlu kita garisbawahi dari pendiri bangsa yang ada di Kalimantan adalah semangat berjuang, tidak saja untuk kemerdekaan dan bersatunya Kalimantan dalam NKRI, tetapi juga untuk mendirikan perguruan tinggi. Mereka sangat bervisi ke depan, sehingga tak hanya bergerak dalam perjuangan fisik dan berhenti dengan kemerdekaan, tetapi juga memajukan intelektualitas masyarakat banua untuk mengisi kemerdekaan dengan pembangunan.

Menurut Ikrimah Laily Harun, pada 3-10 Maret 1957 diadakan reuni Kesatuan TNI Divisi Lambung Mangkurat di Kandangan. Reuni bertujuan memperingati Proklamasi Gubernur Militer ALRI Divisi IV Pertahanan Kalimantan, sekaligus merencanakan pembangunan Kalimantan sebagai sumbangan langsung untuk mencapai tujuan negara RI. Reuni membentuk Dewan Lambung Mangkurat yang bertugas merencanakan pembangunan Kalimantan, salah satunya mendirikan perguruan tinggi yang diberi nama Universitas Lambung Mangkurat.

Dewan ini selanjutnya menyusun Panitia Persiapan Pembentukan ULM pertengahan 1958. Pelindung/ Penasihat DR KH Idham Chalid (Wakil Perdana Menteri II RI), Pangeran Ir Mohammad Noor (Menteri Pekerjaan Umum dan Tenaga RI), Kol Kusno Utomo (Panglima TT IV Divisi Tanjung Pura), Milono (Kepala Daswati I Jawa Timur), Mr Burhanuddin (Direktur Bank Indonesia) dan HM Hanafiah (mantan Menteri Agraria).

Baca Juga :  Mensyukuri Nikmat Kemerdekaan

Pengurus terdiri dari Ketua Umum Let Kol H Hassan Basry, Ketua I Syarkawi (Gubernur Kalimantan Selatan), Ketua II H Maksid (Kepala Daswati I Kalimantan Selatan), Ketua III Tjilik Riwut (Gubernur Kalimantan Tengah), Sekretaris Umum Notaris Kho Boen Tian, Sekretaris I Drs Aspul Anwar, Sekretaris II Drs Baderun Aran, Sekretaris III Drs AD Pattianom, Bendahara I Djantera (Anggota DPD Tk I Kalimantan Selatan), Bendahara II WA Narang, Pembantu Umum Aidan Sinaga (Walikota Banjarmasin), Drs Tan Tjin Kie, Mr Soejono Hadidjojo, Mr Ong Tjong Hauw, H Abdurrachman Ismail, MA, Agus Iberahim dan Abdurrivai BA.

Pada 21 September 1958, Panitia meresmikan berdirinya ULM yang saat itu masih berstatus swasta, berlokasi di Jalan Lambung Mangkurat sekarang. Saat itu ULM terdiri atas Fakultas Hukum, Ekonomi, Sosial dan Politik, dan Islamologi. Tugas Panitia selesai dan selanjutnya diserahterimakan kepada Yayasan Perguruan Tinggi Lambung Mangkurat yang didirikan dengan Akte Notaris Nomor 57 tanggal 12 Februari 1959, diketuai H Maksid, Sekretaris Gt Nasrudin dan Bendahara Kho Sek Beng.

ULM mempunyai Dewan Kurator, diketuai Syarkawi (Gubernur Kalimantan Selatan) dengan Sekretaris H Abdurrahman Ismail MA (salah seorang pendiri IAIN Antasari). Pimpinan paling awal ULM, diistilahkan dengan Presiden, adalah Letkol H Hassan Basry, Wakil Presiden Mayor Abdul Wahab Syakranie, dan Sekretaris Drs Aspul Anwar.

Tepat 1 November 1960, atas usaha Pemerintah Daerah Tingkat I Kalimantan Selatan dan Yayasan Perguruan Tinggi Lambung Mangkurat, ULM diremikan menjadi Universitas Negeri di Kalimantan oleh Menteri Pendidikan, Pengajaran, dan Kebudayaan RI (PP No. 41 Tahun 1960 tanggal 29 Oktober 1960), dengan Rektor (Presiden) ULM pertama Brigjen H Hassan Basry (1960-1963). Selanjutnya digantikan oleh Raden Tumenggung Ario Milono (1963-1967), dan seterusnya.

Di era Orde Baru, penamaan perguruan tinggi ada dengan vernom (singkatan dengan awal kata), dan ada dengan akronim (singkatan dengan mengambil/memotong suku kata). Dengan vernom seperti UGM (Universitas Gajah Mada), UI (Universitas Indonesia), ITB (Institut Teknologi Bandung), dan sebagainya. Dengan akronim seperti Undip (Universitas Diponegoro), Unri (Universitas Riau), Unmul (Universitas Mulawarman), USU (Universitas Sumatra Utara), Unair (Universitas Airlangga), Universitas Lampung (Unila) dan sebagainya, termasuk Unlam. Di masa kepemimpinan Sutarto Hadi kembali dipopulerkan vernom, yaitu ULM. Yang konsisten dengan vernom sejak Orde Baru sampai sekarang adalah perguruan tinggi Islam, baik IAIN (UIN), STAI, STIT dan sejenisnya.

Baca Juga :  Solusi Penanganan Stunting

Tidak lama setelah berdirinya ULM, berdiri pula IAIN (sekarang UIN) Antasari pada 20 November 1964, yang cikal bakalnya sudah dirintis puluhan tahun sebelumnya. Para tokoh pendiri diantaranya KH Zafry Zamzam, KH Abdurrahman Ismail, KH Hanafie Gobit dan banyak lagi.

Dari fakta sejarah di atas, tampak para tokoh di Kalimantan dulu telah memiliki semangat dan tekad kuat untuk membangun negara dan daerah. Setidaknya mereka menempuh tiga ranah utama. Pertama, perjuangan fisik militer untuk merebut dan mempertahankan kemerdekaan. Ini tentu merupakan kata kunci, sebab kita tidak mungkin bisa menjadi bangsa dan masyarakat maju kalau masih hidup terjajah. Bung Karno mengatakan, kemerdekaan adalah jembatan emas bagi bangsa untuk mencapai cita-citanya.

Kedua, memperkuat religiusitas masyarakat melalui pendidikan agama, dari madrasah dan pondok pesantren hingga perguruan tinggi, sehingga lahirlah IAIN. Sebelum IAIN Antasari berdiri 1964, telah ada fakultas-fakultas Islam di daerah, seperti Fakultas Ushuluddin di Amuntai, Fakultas Syariah di Kandangan, Fakultas Tarbiyah di Barabai dan Fakultas Islamologi di ULM Banjarmasin, yang kemudian berintegrasi menjadi IAIN Antasari.

Ketiga, para tokoh kita dulu juga sangat menyadari pentingnya sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas, yang ditandai dengan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi. Mereka kemudian mendirikan ULM, yang harini sudah semakin berkembang dan membanggakan dengan sejumlah fakultas, jurusan dan program studi, S0, S1, S2 hingga S3. Menurut Soetarto, ULM saat ini berada pada ranking 50 dari 4.000-an PT yang ada di Indonesia.

Semua capaian ini tentu tidak akan terwujud tanpa adanya kerja keras, semangat kuat dan tekad luhur, yang diwarisi pula dari para pejuang terdahulu, haram manyarah dalam berjuang dan waja sampai ka puting. Selamat Harijadi Provinsi Kalimantan Selatan dan HUT Proklamasi RI.

Iklan
Iklan