Kalimantan Post - Aspirasi Nusantara
Baca Koran
Space Iklan
Space Iklan
Iklan Utama
Opini

Perpustakaan: Kunci Sukses “Banua Bauntung”

×

Perpustakaan: Kunci Sukses “Banua Bauntung”

Sebarkan artikel ini

(Refleksi HUT ke-75 Provinsi Kalimantan Selatan)

Oleh : Ahmad Syawqi
Pustakawan UIN Antasari Banjarmasin

Pada 14 Agustus 2025, Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel) berusia 75 tahun. Momen istimewa ini bukan sekadar perayaan temporal, melainkan refleksi atas capaian dan tantangan ke depan. Salah satu tonggak penting dalam pembangunan berkelanjutan adalah literasi dan akses pengetahuan, di mana perpustakaan memainkan peran sentral. Dalam konteks visi “Bagawi Tuntung, Banua Bauntung, Rakyat Himung” (Bekerja Keras, Daerah Makmur, Rakyat Sejahtera), perpustakaan harus menjadi jembatan yang menghubungkan masyarakat dengan ilmu pengetahuan, inovasi, dan kearifan lokal.

Kalimantan Post

Dalam memperingati Hari Ulang Tahun ke-75 Provinsi Kalsel ini, kita perlu memikirkan bagaimana peran berbagai institusi dalam mewujudkan visi “Bagawi Tuntung, Banua Bauntung, Rakyat Himung”. Salah satu institusi yang sering kali terlupakan namun memiliki peran penting adalah perpustakaan. Perpustakaan bukan hanya tempat penyimpanan buku, tetapi juga pusat pengetahuan dan informasi yang dapat membantu masyarakat dalam meningkatkan kualitas hidup.

Perpustakaan memiliki peran krusial dalam mewujudkan “Banua Bauntung”(negeri yang beruntung) di Kalimantan Selatan dengan menyediakan akses informasi dan pengetahuan yang luas kepada masyarakat, sehingga mereka dapat bekerja dengan lebih efektif dan efisien, serta menjadi agen perubahan dalam pembangunan daerah.

Perpustakaan dapat berperan dalam meningkatkan literasi masyarakat melalui berbagai program dan layanan, seperti pelatihan literasi digital, penyediaan koleksi buku dan sumber daya online, serta kegiatan literasi komunitas. Dengan demikian, masyarakat dapat meningkatkan pengetahuan dan keterampilan mereka, sehingga dapat bekerja dengan lebih efektif dan efisien. Contohnya, perpustakaan dapat menyediakan koleksi buku dan sumber daya online tentang pertanian, sehingga petani dapat meningkatkan pengetahuan dan keterampilan mereka dalam mengelola lahan dan meningkatkan hasil panen. Selain itu, perpustakaan juga dapat menyediakan informasi tentang kesehatan, sehingga masyarakat dapat meningkatkan kesadaran dan pengetahuan mereka tentang kesehatan dan pencegahan penyakit (WHO, 2019).

Baca Juga :  DUA PENANGGALAN

Kehadiran Perpustakaan

Di era digital, perpustakaan tak lagi sekadar gudang buku, melainkan pusat pembelajaran inklusif yang mendorong partisipasi masyarakat. Hadirnya perpustakaan tentunya dapat meningkatkan literasi digital masyarakat, dengan menyediakan akses internet gratis bagi masyarakat sehingga mereka dapat mengakses informasi dan pengetahuan yang luas melalui teknologi digital. Dengan demikian, masyarakat dapat meningkatkan kemampuan mereka dalam menggunakan teknologi digital untuk meningkatkan kualitas hidup.

Hadirnya Perpustakaan juga dapat meningkatkan kualitas hidup masyarakat melalui penyediaan akses informasi dan pengetahuan yang luas. Dengan demikian, masyarakat dapat meningkatkan pengetahuan dan keterampilan mereka, sehingga dapat bekerja dengan lebih efektif dan efisien. Contohnya, perpustakaan dapat menyediakan informasi tentang pendidikan, sehingga masyarakat dapat meningkatkan pengetahuan dan keterampilan mereka dalam mengelola pendidikan anak-anak (OECD, 2019). Selain itu, perpustakaan juga dapat menyediakan informasi tentang ekonomi, sehingga masyarakat dapat meningkatkan pengetahuan dan keterampilan mereka dalam mengelola keuangan dan meningkatkan pendapatan (World Bank, 2020).

Lantas, bagaimana perpustakaan di Kalsel dapat menjadi penggerak visi “Banua Bauntung” tersebut? Perpustakaan modern harus dioptimalkan sebagai “agent of change” untuk mewujudkan Banua Bauntung dan Rakyat Himung. Dengan memperkuat fungsi perpustakaan sebagai pusat literasi, riset, dan pelestarian budaya, Kalsel dapat mempercepat pembangunan SDM yang unggul dan berdaya saing.

Studi UNESCO (2021) menunjukkan bahwa negara dengan indeks literasi tinggi memiliki pertumbuhan ekonomi lebih stabil. Di Kalsel, perpustakaan dapat menjadi “hub” inovasi dengan menyediakan akses ke bahan bacaan mutakhir, pelatihan keterampilan digital, dan ruang kolaborasi bagi UMKM. Contoh sukses ada di Perpustakaan Daerah Jawa Barat, yang menggabungkan layanan konvensional dengan “digital library” untuk mendukung wirausaha muda (Purnomo, 2023).

Kalsel kaya akan kearifan lokal, seperti sastra lisan “Madihin” dan filosofi “Huma Betang”. Perpustakaan harus menjadi garda depan pelestariannya dengan mengoleksi naskah-naskah kuno dan mengadakan program edukasi budaya. Penelitian dari Universitas Lambung Mangkurat (2024) membuktikan bahwa generasi muda lebih tertarik mempelajari budaya lokal ketika disajikan secara interaktif di perpustakaan.

Baca Juga :  Menghidupkan Kearifan Lokal: Belajar dari Pedalaman untuk Masa Depan Pendidikan Indonesia

Masih ada kesenjangan akses literasi antara wilayah perkotaan dan pedesaan di Kalsel. Data BPS Kalsel (2024) menunjukkan bahwa 60% desa di daerah terpencil belum memiliki perpustakaan layak. Solusinya adalah mengembangkan “perpustakaan keliling” dan “rumah baca komunitas”, seperti yang sukses dilakukan di Kabupaten Tabalong melalui program “Pustaka Bergerak”.

Kolaborasi dengan Stakeholder menjadi hal yang penting dalam membangun kemitraan antara pemerintah, swasta, dan komunitas vital untuk pengembangan perpustakaan. Contohnya, program CSR PT Adaro dalam membangun “smart library” di Kabupaten Balangan patut diapresiasi dan diperluas ke daerah lain.

Membangun perpustakaan bukan sekadar urusan infrastruktur, melainkan investasi jangka panjang bagi kemandirian masyarakat. Dengan literasi yang baik, warga Kalsel akan lebih adaptif terhadap perubahan, mampu menciptakan lapangan kerja, dan menjaga kelestarian budaya. Visi Bagawi Tuntung, Banua Bauntung, Rakyat Himung hanya bisa tercapai jika pengetahuan mudah diakses oleh semua lapisan masyarakat.

Di usia ke-75 ini, mari jadikan perpustakaan sebagai landmark kemajuan Kalsel. Pemerintah perlu meningkatkan anggaran untuk pengembangan perpustakaan berbasis digital; memperkuat kolaborasi dengan akademisi dan pelaku usaha untuk program literasi, dan melibatkan generasi muda dalam pengelolaan perpustakaan yang kreatif.

Mari kita songsong HUT Kalsel dengan semangat baru: “Dengan Buku, Kita Membangun Peradaban Banua yang Unggul.”

Iklan
Iklan