Oleh : AHMAD BARJIE B
Allah SWT berfirman, “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”. (QS. Al Hujurat : 13)
Imam Ibnu Katsir dalam Tafsir Al-Qur’anul Azhim (Tafsir Ibnu Katsier) menerangkan bahwa Allah SWT menciptakan manusia yang banyak ini pada mulanya adalah dari seorang manusia yaitu Adam dan Hawwa. Kemudian Dia jadikan manusia itu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Ada yang berkulit putih, kuning dan hitam, ada yang besar dan kecil, ada yang lebih maju peradabannya dan ada yang terbelakang. Tujuannya agar maanusia itu saling mengenal, saling bergaul dan berinteraksi, saling membantu dan melengkapi. Namun pada akhirnya yang dinilai Allah bukanlah penampilan lahir dan bentuk fisiknya, melainkan isi hati dan ketakwaannya saja. Sebab ketaqwaan inilah yang bernilai abadi dan akan dibawa mati.
Pelajaran yang dapat diambil dari ayat ini adalah; Pertama, kita tidak boleh sombong karena kelebihan fisik yang kita miliki, misalnya orang yang gagah, tampan, cantik dan rupawan tidak boleh sombong karena kelebihannya itu, sebagaimana sabda Rasulullah SAW, dari Abi Hurairah ra, “Sesungguhnya Allah tidak akan melihat atau menilai dari bentuk-bentuk tubuhnya ataupun rupa-rupa kamu, melainkan Allah hanya akan menilai isi hati dan amal-amal kamu”. (Imam Muslim).
Kedua, ayat di atas menegaskan pula bahwa semua manusia itu hakikatnya bersaudara, terlepas dari suku dan bangsa apa pun mereka. Dalam arti luas, persaudaraan itu mencakup sesama manusia, ukhuwah basyariyah. Sesama manusia kita harus saling menghormati dan menghargai identitas dan keragaman masing-masing. Dalam arti luas pula, persaudaraan itu juga mencakup persaudaraan sesama warga bangsa Indonesia, ukhuwah wathaniyah. Konsekuensinya kita juga harus saling menghargai, tolong menolong, menjaga persatuan dan kesatuan dan jangan berpecah belah hanya karena perbedaan suku, agama, partai politik, aliran dan mazhab. Kita harus mengutamakan persamaan dan tidak mencari-cari perbedaan yang mengarah kepada konflik dan perpecahan. Kita harus berusaha membangkitkan dan memajukan kehidupan berbangsa dan bernegara sesuai dengan kemampuan dan profesi kita masing-masing.
Ketiga, persaudaraan sesama muslim, ukhuwah islamiyah. Kepada saudara seagama harus saling bersatu padu, kompak, memiliki semangat ukhuwah, solidaritas dan soliditas yang tinggi. Kita tidak boleh saling mengejek, menyindir, menghina dan menjatuhkan. Kita hanya boleh berlomba, tetapi hanya musabaqah bil-khairat, berlomba dalam berbuat kebajikan dan ketakwaan.