KOTABARU, Kalimantanpost.com – Suara hentakan kaki, irama musik tradisional, dan lantunan naskah penuh emosi terdengar dari aula SMAN 1 Kelumpang Hilir, Kabupaten Kotabaru, Kalimantan Selatan, Rabu (13/8/2025).
Persiapan pentas ini disutradarai oleh Anggi Pradana Irfansyah, guru seni SMAN 1 Kelumpang Hilir dikenal lewat karyanya yang sarat nilai sejarah seperti Panglima Tanpa Kepala (Demang Lehman) dan Kaminting Pijakan (Tumenggung Jalil).
Anggi kembali berusaha memadukan keahliannya bercerita dengan sentuhan teatrikal dan visual yang memukau.
“Kehadiran Sang Garuda” mengangkat kisah perjuangan rakyat Indonesia sebelum kemerdekaan. Adegan pembuka menampilkan suasana damai dan makmur masyarakat. Namun, ketenangan itu pecah saat penjajah datang membawa penindasan, pajak memberatkan, dan siasat licik untuk memecah persatuan. Narasi ini dibangun dengan detail, membuat penonton seolah kembali ke masa lampau,” papar Anggi.
Di titik terendah rakyat, muncul harapan lewat legenda tentang “Sang Garuda” simbol keberanian dan kemerdekaan. Kehadirannya mengobarkan semangat untuk bangkit, bersatu, dan melawan penindasan, meski nyawa menjadi taruhannya.
“Kami ingin para siswa bukan sekadar menari, tapi juga memahami makna perjuangan dan persatuan.” ujar peraih gelar Pemuda Pelopor Nasional bidang budaya, sosial, dan agama pada 2022.
Persiapan pertunjukan ini dilakukan intensif selama dua bulan. Para siswa berlatih setiap hari, memadukan gerak tari tradisional dan kontemporer dengan silat dan akting teatrikal. Kostum dirancang menyerupai busana pejuang dan rakyat pada masa penjajahan, lengkap dengan properti yang menambah kesan otentik.
Pementasan ini akan menjadi pembuka upacara peringatan 17 Agustus di Lapangan 11 Maret, Desa Tegal Rejo, Kecamatan Kelumpang Hilir, Kotabaru. Ribuan warga, pelajar, dan tokoh masyarakat diperkirakan hadir menyaksikan.
“Kami ingin pertunjukan ini menghidupkan kembali semangat kemerdekaan di hati generasi muda.” tegasnya Anggi.
Tidak hanya mengandalkan kekuatan gerak, pertunjukan ini juga diperkaya musik live yang menggabungkan instrumen tradisional dengan komposisi modern. Perpaduan ini diharapkan mampu menggetarkan penonton dari awal hingga akhir.
Bagi Anggi, drama tari ini adalah bentuk penghormatan kepada para pahlawan yang berjuang dengan darah dan air mata.
“Semoga ‘Kehadiran Sang Garuda’ menjadi pengingat bahwa kemerdekaan tidak datang begitu saja, melainkan melalui pengorbanan tanpa pamrih,” tutupnya.
Dengan konsep megah dan pesan yang menyentuh, pertunjukan ini diyakini tidak hanya akan menjadi hiburan, tetapi juga menjadi ruang refleksi bagi semua yang menyaksikannya. (nug/KPO-3)