Kalimantan Post - Aspirasi Nusantara
Baca Koran
Space Iklan
Space Iklan
Iklan Utama
HEADLINE

Dari Stop Kontak Rumah Warga, Banjarmasin Bangkit Menuju Kota Energi Hijau

×

Dari Stop Kontak Rumah Warga, Banjarmasin Bangkit Menuju Kota Energi Hijau

Sebarkan artikel ini
IMG 20251023 WA0012 e1761190172943

BANJARMASIN, Kalimantanpost.com – Asap tipis yang membumbung dari puing rumah di Teluk Tiram, Banjarmasin Barat, masih menjadi pengingat betapa berbahayanya satu percikan listrik yang terabaikan. Di balik tragedi itu, muncul kesadaran baru: bahwa keselamatan dan masa depan energi bersih bisa dimulai dari hal paling sederhana, sebuah stop kontak di rumah.

Kini, Banjarmasin tidak hanya berbicara tentang menekan angka kebakaran, tetapi juga tentang menyalakan harapan menuju kota energi hijau.
PLN bersama Pemerintah Kota berupaya mengubah cara pandang masyarakat, dari sekadar pengguna listrik menjadi penjaga keberlanjutan energi.

Kalimantan Post

Program “Instalasi Aman” pun lahir, mengajak warga menjaga keselamatan rumah sekaligus menapaki babak baru transisi energi di tingkat lokal.

Dalam beberapa tahun terakhir, Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Disdamkarmat) Kota Banjarmasin mencatat peningkatan signifikan kasus kebakaran akibat korsleting listrik.

Sepanjang tahun 2024, terjadi 134 kasus kebakaran dan hampir separuh di antaranya disebabkan oleh hubungan arus pendek.
Angka ini bukan sekadar statistik, melainkan deretan kisah kehilangan yang nyata di tengah padatnya permukiman kota.

IMG 20251023 WA0013

Peristiwa paling baru terjadi Minggu (21/9/2025) di Jalan Sepakat, Gang Berdikari, Kelurahan Teluk Tiram. Tiga rumah hangus dilalap api, dua orang meninggal dunia setelah tersengat aliran listrik yang terputus ketika mencoba membantu memadamkan kobaran. Api bermula dari ruang tengah sebuah rumah, diduga akibat kabel tua yang korslet dan memicu ledakan kecil.

Kepala Disdamkarmat Kota Banjarmasin, Hendro, M.Pd, menyebut kebakaran akibat korsleting listrik masih menjadi ancaman utama di kota ini.
“Banyak rumah masih pakai kabel lama dan tanpa pelindung arus seperti MCB. Padahal, pemeriksaan sederhana bisa mencegah petaka besar,” ujarnya.

Menurutnya, keselamatan energi harus dimulai dari rumah, sebab dari satu sambungan kecil bisa muncul bencana besar. Ia mengingatkan, arus listrik yang aman bukan hanya soal kenyamanan, tetapi tanggung jawab bersama menjaga nyawa dan lingkungan.

Merespons hal itu, PLN menggencarkan program Instalasi Aman di berbagai wilayah padat penduduk seperti Teluk Tiram, Pekapuran, Sungai Andai, dan Basirih.

Petugas PLN turun langsung memeriksa sambungan listrik warga, mengganti kabel rapuh, serta memberikan edukasi tentang beban daya yang sesuai dengan standar keamanan. Langkah ini dilakukan agar warga tidak lagi menganggap remeh kabel usang dan sambungan listrik yang tidak sesuai kapasitas.

Baca Juga :  ‎UPTD Laboratorium Lingkungan Provinsi Kalimantan Selatan dan UPT Lab Banjarbaru Teken MoU Perkuat Pengujian Lingkungan

Adriyansyah Ekosaputro, Manager Unit Layanan Pelanggan (ULP) Lambung Mangkurat PLN UP3 Banjarmasin, menuturkan bahwa perubahan perilaku kecil bisa berdampak besar bagi keselamatan. “Kalau satu keluarga sadar tentang listrik aman, berarti mereka ikut menjaga lingkungan dari potensi kebakaran,” ucapnya.

Selain itu, PLN menyediakan layanan inspeksi gratis bagi pelanggan yang ingin menambah daya atau memasang home charging kendaraan listrik. Layanan ini memastikan sistem kelistrikan rumah tangga mampu menanggung beban baru tanpa risiko panas berlebih. PLN ingin memastikan setiap langkah menuju elektrifikasi berjalan seiring dengan keamanan pelanggan.

Kesadaran akan pentingnya efisiensi energi kini juga mulai merambah ke sektor transportasi.
Pemerintah Kota Banjarmasin melalui Dinas Perhubungan dan Dinas Lingkungan Hidup kini menggunakan motor dan mobil listrik untuk kegiatan operasional harian. Langkah ini menjadi contoh nyata bahwa penggunaan energi bersih bukan lagi wacana, tetapi sudah diterapkan dalam aktivitas pemerintahan.

Untuk mendukungnya, PLN membangun Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) di sejumlah titik strategis seperti Balai Kota dan kawasan Ahmad Yani. Sebagian SPKLU bahkan telah disuplai oleh Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS), yang menandai integrasi nyata antara teknologi pintar dan sumber energi terbarukan.

Adriyansyah menilai, jika rumah tangga sudah aman, kendaraan bebas emisi mulai digunakan, dan listriknya bersumber dari energi hijau, maka rantai energi berkelanjutan akan terbentuk di Banjarmasin. “Kita sedang menyalakan perubahan dari bawah,” katanya.

Pemanfaatan PLTS atap kini juga mulai diterapkan di sekolah, kantor pemerintahan, dan rumah ibadah di kota ini. Selain menghemat biaya listrik, langkah itu memperkuat komitmen Banjarmasin terhadap pengurangan emisi karbon dan ketahanan energi lokal.

Wali Kota Banjarmasin, H. Muhammad Yamin HR, menegaskan bahwa kebijakan energi bersih tidak boleh berhenti sebagai wacana. “Energi hijau harus jadi budaya baru masyarakat kita, dimulai dari rumah, dari sekolah, bahkan dari masjid,” katanya.

Tragedi kebakaran di Teluk Tiram pun menjadi momentum lahirnya perubahan.
Banyak warga kini mulai memeriksa ulang sambungan listrik di rumah masing-masing dan mengganti instalasi lama dengan standar baru PLN. Gerakan kecil ini menjadi bukti bahwa kesadaran bisa tumbuh dari pengalaman pahit yang menyentuh kehidupan sehari-hari.

Baca Juga :  ‎Kalsel Catat Inflasi 5,97 Persen, Pemprov Perketat Pengawasan Jelang Idul Fitri

Gerakan ini juga sejalan dengan kebijakan nasional untuk mempercepat transisi energi bersih. Akselerasi energi hijau dilakukan dengan membangun sistem kelistrikan rendah emisi melalui pemanfaatan energi baru terbarukan (EBT), elektrifikasi lintas sektor, dan integrasi teknologi pintar. Melalui langkah ini, Indonesia bergerak menuju sistem energi yang andal, ramah lingkungan, dan berkelanjutan.

Adriyansyah menilai, transformasi energi tidak bisa hanya bergantung pada kebijakan pusat, tetapi harus dimulai dari gerakan masyarakat. “Banjarmasin sudah di jalur yang tepat. Dari instalasi aman di rumah, kendaraan listrik di jalan, hingga PLTS di atap gedung—semuanya adalah rantai energi hijau Indonesia,” jelasnya.

Ia menambahkan, energi hijau bukan sekadar teknologi, tapi amanah moral untuk menjaga keselamatan manusia dan bumi.“Energi adalah titipan. Mengelolanya dengan benar berarti menjaga kehidupan,” ujarnya.

PLN berharap, gerakan menuju energi hijau juga menciptakan keadilan energi, agar semua lapisan masyarakat dapat menikmati listrik yang aman, terjangkau, dan ramah lingkungan.
Energi bersih, katanya, adalah bentuk keberkahan sosial yang harus dirasakan bersama.

“Ketika listrik dikelola dengan aman dan bersumber dari energi terbarukan, itu bukan hanya efisiensi, tapi keberkahan. Kita menjaga alam, dan alam menjaga kita,” tutur Adriyansyah.

Kini, stop kontak di rumah bukan lagi sekadar sumber arus listrik, melainkan simbol kesadaran baru warga Banjarmasin. Dari kabel yang tertata rapi, dari motor listrik yang melaju tanpa asap, hingga sinar matahari yang menyalakan masjid dan sekolah, semua mengarah pada satu cita-cita yang sama.

Banjarmasin sedang bergerak menuju kota energi hijau, kota yang selamat, sejahtera, dan membawa kemaslahatan bagi umat.
Sebuah perubahan besar yang berawal dari hal kecil di rumah-rumah sederhana di tepi sungai.

“Kalau setiap rumah aman, maka setiap kota akan selamat,” tutup Adriyansyah Ekosaputro dengan senyum sembari menegaskan dari stop kontak kecil itulah, cahaya perubahan besar bermula. (Sfr)

Iklan
Iklan