Oleh : Khairiyatus
Pemerhati Sosial Kemasyarakatan
Gelombang demonstrasi sejak akhir Agustus hingga awal September 2025 mencatat sejarah baru. Aksi massa terjadi di 107 titik di 33 provinsi. Sebagian berlangsung damai, sebagian lain berujung bentrokan hingga menelan korban jiwa. Presiden Prabowo bahkan menyinggung soal adanya makar dan terorisme oleh pihak yang ia sebut mafia.
Namun, bila dicermati, sesungguhnya keresahan rakyat muncul dari kebijakan negara yang dianggap zalim. Rancangan APBN 2026 dinilai semakin timpang. Layanan publik terus dipangkas atas nama efisiensi, sementara pajak makin digenjot. Ironisnya, alokasi belanja justru membengkak untuk program populis, termasuk rencana penambahan tunjangan anggota DPR di tengah maraknya kasus korupsi pejabat negara.
Kelompok buruh pun menyuarakan tuntutan: kenaikan upah minimum, penghentian PHK massal, reformasi pajak, hingga revisi UU Pemilu. Semua ini menunjukkan kekecewaan publik yang kian menumpuk.
Kesadaran Masih Parsial
Aksi-aksi ini menandakan bahwa umat mulai sadar atas kezaliman yang menimpa mereka. Namun kesadaran itu masih emosional dan parsial. Tuntutan yang muncul lebih banyak ditujukan pada rezim atau kebijakan tertentu, bukan pada akar sistemik yang melahirkan kezaliman.
Di sinilah pentingnya membedakan antara ishlah dan taghyir. Ishlah berarti perbaikan parsial, misalnya pergantian rezim atau perbaikan undang-undang. Sementara taghyir adalah perubahan mendasar, menyentuh sistem yang menjadi pangkal masalah.
Selama ini, gerakan rakyat lebih dekat pada ishlah. Mereka berharap rezim memperbaiki kebijakan, memberantas korupsi, atau menaikkan kesejahteraan. Padahal, akar masalahnya ada pada penerapan demokrasi.
Demokrasi: Sumber Kezaliman
Demokrasi menempatkan kedaulatan di tangan manusia. Undang-undang lahir dari kompromi kepentingan politik, bukan dari standar halal-haram. Akibatnya, kepentingan rakyat sering dikorbankan demi segelintir elite.
Selama asas ini yang dipakai, siapa pun pemimpinnya akan tetap terjebak dalam siklus kebijakan yang zalim. Pergantian rezim tanpa pergantian sistem hanyalah perubahan kosmetik. Karena itu, perubahan mendasar hanya mungkin dengan meninggalkan demokrasi dan menegakkan sistem Islam secara kâffah.
Prasyarat Perubahan Hakiki
Islam mengajarkan bahwa taghyir memiliki prasyarat penting.
- Asas ideologis. Islam harus menjadi dasar perubahan, bukan sekadar dorongan emosional.
- Kesadaran akar masalah. Problem bukan sekadar “rezim salah urus”, melainkan penerapan sistem yang keliru.
- Arah jelas dan terukur. Tujuan akhirnya adalah tegaknya sistem Islam, bukan reformasi parsial.
- Kepemimpinan ideologis. Dibutuhkan kelompok yang membina umat, mencerdaskan, dan mengarahkan perjuangan.
- Dukungan ahlul quwwah. Seperti Rasulullah saw. yang akhirnya mendapat dukungan Aus dan Khazraj, perubahan hakiki memerlukan dukungan pemilik kekuatan di tengah umat.
Jalan Rasulullah
Rasulullah SAW menempuh perubahan melalui dakwah yang konsisten: membina individu, membangun kesadaran kolektif, hingga memperoleh dukungan politik untuk menegakkan sistem Islam.
Allah Taala berfirman, “Apa yang diberikan Rasul kepadamu, terimalah; dan apa yang dilarangnya bagimu, tinggalkanlah” (QS Al-Hasyr: 7). “Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu” (QS Ali Imran: 31).
Mengikuti metode perubahan Rasulullah saw. adalah wujud iman dan bukti cinta kepada Allah.
PR Umat Hari Ini
Gelombang demonstrasi hari ini bisa menjadi momentum kebangkitan. Namun, agar tidak berakhir sia-sia, umat harus diarahkan pada perubahan mendasar. Bukan sekadar ishlah, melainkan taghyir.
Perubahan sejati tidak lahir dari pergantian tokoh, tetapi dari pergantian sistem menuju Islam kâffah. Tugas besar pengemban dakwah adalah mencerdaskan umat, membangun kesadaran kolektif, dan menyiapkan kepemimpinan ideologis yang mampu menuntun jalan perubahan.
Penutup
Aksi-aksi Agustus–September 2025 menunjukkan adanya kesadaran rakyat atas kezaliman. Namun, tanpa arah ideologis, kesadaran itu rawan diarahkan ke jalan buntu. Perubahan hakiki hanya mungkin terwujud jika umat bersatu menempuh jalan taghyir sebagaimana metode Rasulullah saw.
Inilah saatnya umat menyadari bahwa amanah perubahan ada di tangan mereka. Hanya dengan tegaknya Islam kâffah, keadilan dan kesejahteraan dapat benar-benar terwujud di negeri ini.












