UZBEKISTAN, Kalimantanpost. com – Dalam suasana penuh khidmat, peringatan Kesaktian Pancasila menggema di jantung Asia Tengah.
Upacara yang dipimpin langsung oleh Duta Besar Republik Indonesia untuk Uzbekistan dan Kyrgystan, Prof. Dr. Hj. Siti Ruhaini Dzuhayatin, M.A pada Rabu, 1 Oktober 2025 dan diikuti oleh puluhan diplomat yang bertugas di KBRI Tashkent terasa lebih dari sekadar rutinitas diplomatik, namun menjadi simbol korelasi antara jiwa kebangsaan Indonesia dan semangat persatuan yang khas nusantara diwilayah negara yang dijuluki “Negeri Para Imam”.
Kegiatan upacara yang dilaksanakan di Taman terbuka di lingkungan Wisma Kediaman Dubes RI di kawasan Chillonzor District Tashkent dimulai dengan pembacaan naskah Pancasila, mengheningkan cipta serta diakhiri dengan pembacaan ikrar yang berisi peneguhan kembali komitmen bangsa Indonesia agar terus menjaga Pancasila sebagai dasar negara, ideologi dan pandangan hidup bersama.
Prof Ruhaini, Duta Besar yang juga seorang intelektual dan aktivis hak asasi manusia, mempergunakan kesempatan upacara peringatan Kesaktian Pancasila sebagai ajang ramah tamah sekaligus berbagi hikmah Kesaktian Pancasila kepada keluarga para diplomat di Tashkent.
Walhasil, ibu-ibu berbusana Dharma Wanita beserta anak-anak serta remaja Indonesia juga turut diundang dalam ramah tamah untuk turut merasakan pentingnya momen reflektif mengenang sejarah perjalanan bangsa Indonesia dalam mempertahankan ideologi Pancasila dari berbagai ancaman dan tantangan, baik dari dalam negeri maupun dari pihak luar.
Dubes Prof. Ruhaini menekankan bahwa sebagai satu bangsa kita semua memiliki tugas dan tanggung jawab untuk terus mengawal pancasila yang telah menjadi falsafah dan landasan kebangsaan.
Nilai-nilai Pancasila, khususnya sila pertama — Ketuhanan Yang Maha Esa — bukan hanya landasan filosofis negara di Indonesia, melainkan juga prinsip universal yang memiliki kapasitas dialog dengan beragam budaya dan tradisi keagamaan.
“Keistimewaan Indonesia dalam mengelola kemajemukan menjadi keteladanan yang layak dicontoh negara lain. Seperti halnya pada Forum Internasional Dialogue of Declaration KBRI Tashkent dengan bangga memperkenalkan konsep Literasi Keagamaan Lintas Budaya (LKLB),” jelas Ruhaini saat ditemui Kalimantan Post biro Jakarta di Tashkent.
Menurutnya keimanan dan spiritualitas bukanlah entitas yang terbatas oleh wilayah geografis, melainkan nilai yang transendental, mampu menghubungkan hati manusia tanpa memandang asal-usul budaya,”.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa Pancasila tidak bersifat eksklusif, melainkan memancarkan ruang inklusi yang luas, sesuai dengan nalar filosofis yang telah diusung sejak awal perumusan oleh founding parents yaitu Soekarno dan para srikandi Indonesia seperti SK Trimurti dan Fatmawati.
Pancasila sebagai Ideologi Hidup dan Pemandu Hubungan Internasional dalam era global yang penuh kompleksitas — dari perubahan iklim, konflik geopolitik, hingga ketegangan antarbudaya — peran Pancasila sebagai perekat keutuhan nasional dan penuntun arah kebijakan negara semakin menonjol.
Upacara di Tashkent menjadi sarana penyampaian pesan bahwa Pancasila bukanlah ideologi kaku yang terpaku pada sejarah, melainkan living ideology yang adaptif dan mampu berdialog dengan berbagai konteks budaya.
Maksud, seorang diplomat berdarah Uzbekistan yang hadir dalam peringatan Kesaktian Pancasila menyampaikan bahwa pengabdian mereka dalam membangun hubungan bilateral antara Indonesia dan Uzbekistan menunjukkan bahwa Pancasila, meski lahir dari konteks Indonesia, memiliki daya tarik yang universal.
Dalam dunia yang semakin terhubung, Pancasila tetap menjadi sumber inspirasi, bahkan jauh di luar batas geografisnya — membuktikan bahwa nilai-nilai luhur yang berakar pada keimanan, keadilan, dan kesatuan dapat berdampak secara lintas budaya.
Dengan kata lain, diplomasi bukan hanya urusan politik, tetapi juga ekspresi dari nilai-nilai yang menjadi inti Pancasila.
Dari peringatan Kesaktian Pancasila di ibukota Uzbekistan, semangat Bhinneka Tunggal Ika tidak hanya relevan dalam konteks internal Indonesia, tetapi juga menjadi fondasi dalam hubungan internasional.
Indonesia, melalui diplomasi dan kerja sama bilateral, terus berupaya membina jembatan dengan bangsa-bangsa lain, termasuk Uzbekistan yang kaya akan warisan sejarah dan kebudayaan.(Rof/KPO-1)














