Kalimantan Post - Aspirasi Nusantara
Baca Koran
Space Iklan
Space Iklan
Iklan Utama
Opini

Orang Berilmu Tidak Akan Berdebat

×

Orang Berilmu Tidak Akan Berdebat

Sebarkan artikel ini

Oleh : Ade Hermawan
Dosen Uniska MAB

Orang Berilmu

Kalimantan Post

Ilmu dalam pandangan Islam tidak hanya sebatas informasi, tetapi juga mencakup kebijaksanaan, akhlak, dan amal perbuatan. Seseorang tidak bisa disebut berilmu hanya karena ia pandai berbicara atau menguasai banyak teori, melainkan karena ia mengamalkan ilmunya.

Al-Qur’an secara eksplisit menyatakan bahwa ilmu yang bermanfaat akan menumbuhkan rasa takut (khauf) kepada Allah SWT. Ketakutan ini bukanlah rasa takut seperti kita takut pada bahaya, melainkan rasa takut yang didasari oleh kekaguman, penghormatan, dan kesadaran akan kebesaran Allah.

Semakin seseorang belajar dan tahu, ia akan semakin sadar betapa sedikitnya ilmu yang ia miliki dibandingkan dengan luasnya ilmu Allah. Sifat sombong dan merasa paling tahu adalah ciri orang yang ilmunya belum matang atau tidak berkah. Imam Syafi’i rahimahullah berkata : “Setiap kali aku bertambah ilmu, aku semakin tahu akan kebodohanku.”

Orang berilmu akan menghindari perdebatan yang hanya bertujuan untuk menang, merusak persaudaraan, atau memuaskan ego. Mereka memahami bahwa tujuan ilmu adalah mencari kebenaran, bukan mencari kekuasaan lisan.

Orang berilmu dalam Islam adalah orang yang mempelajari ilmu agama dan dunia, menggunakan ilmunya untuk lebih dekat kepada Allah, mengamalkan ilmunya dalam setiap aspek kehidupan, bersikap rendah hati dan tidak sombong, dan menjadi sumber manfaat bagi orang lain.

Tidak Berdebat

Debat menjadi salah satu kegiatan yang paling mudah kita temui, baik di televisi maupun obrolan sehari-hari. Seolah-olah, berdebat menjadi tolok ukur kecerdasan dan kemampuan seseorang dalam mempertahankan pendapat. Ada pepatah bijak yang mengatakan, “Orang berilmu tidak akan berdebat.” Sepintas, pernyataan ini terdengar kontradiktif. Bukankah ilmu itu seharusnya diuji dan dipertahankan ? Namun, jika kita telusuri lebih dalam, pernyataan ini justru mengandung kebenaran yang mendalam.

Banyak dari kita menyamakan debat dengan diskusi. Padahal, keduanya memiliki tujuan yang sangat berbeda. Diskusi bertujuan mencari kebenaran, memahami sudut pandang yang berbeda, dan memperluas wawasan. Sementara itu, debat, terutama yang kita lihat saat ini, lebih sering bertujuan untuk menang. Sering kali, debat bergeser dari adu argumen logis menjadi ajang adu vokal, adu emosi, dan bahkan adu serang pribadi. Pihak yang berdebat sibuk mencari celah kelemahan lawan daripada mencoba memahami esensi masalah.

Di sinilah letak ironinya. Seseorang yang benar-benar berilmu tidak akan merasa perlu untuk “menang” dalam sebuah perdebatan. Karena ilmu bukan soal siapa yang paling benar, tetapi soal kebenaran itu sendiri. Orang berilmu tahu bahwa kebenaran itu luas dan sering kali tidak mutlak. Mereka menyadari bahwa pengetahuan yang mereka miliki hanyalah setitik air di samudra yang sangat luas. Dengan kesadaran ini, mereka akan lebih memilih untuk mendengarkan, bertanya, dan mencari pemahaman baru, alih-alih mati-matian mempertahankan apa yang sudah mereka ketahui.

Baca Juga :  Sandiwara Gencatan Senjata dan Ilusi Perdamaian

Ciri utama orang berilmu adalah kerendahan hati. Mereka tahu bahwa setiap orang memiliki pengalaman dan perspektif yang unik. Mereka tidak menganggap remeh pandangan orang lain, bahkan jika pandangan tersebut bertentangan dengan keyakinan mereka. Daripada berdebat untuk membuktikan siapa yang lebih pintar, mereka akan menggunakan kesempatan untuk berdialog. Dialog adalah jembatan untuk saling berbagi dan mengoreksi pemahaman.

Di sisi lain, orang yang “merasa” berilmu, atau lebih tepatnya sombong dengan pengetahuannya, akan sangat mudah terpancing untuk berdebat. Mereka berdebat bukan karena mencari kebenaran, melainkan karena ingin pengakuan. Mereka ingin terlihat hebat dan pintar di mata orang lain. Alhasil, energi dan waktu mereka habis hanya untuk hal-hal yang tidak substansial.

Ilmu sejati akan mendorong pemiliknya untuk menjadi pribadi yang lebih baik, lebih bijaksana, dan lebih bermanfaat bagi orang lain. Ilmu bukan untuk dipajang atau dipamerkan dalam perdebatan. Ilmu adalah bekal untuk menyelesaikan masalah, bukan untuk menciptakan keributan. Maka, ketika kita melihat seseorang yang begitu gigih berdebat untuk hal-hal yang sepele, mungkin kita bisa merenungkan kembali, apakah yang ia miliki benar-benar ilmu, atau sekadar informasi yang belum matang ? Orang yang benar-benar berilmu akan lebih memilih untuk diam dan mendengarkan. Mereka berbicara hanya saat diperlukan dan setiap kata yang keluar memiliki makna.

Perdebatan bukanlah sesuatu yang dilarang secara mutlak. Namun, Islam memberikan rambu-rambu yang sangat jelas mengenai kapan dan bagaimana perdebatan itu dilakukan. Perdebatan yang paling buruk adalah ketika seseorang berdebat untuk membenarkan sesuatu yang jelas-jelas salah. Ini adalah perbuatan tercela yang bisa membawa kepada kekufuran. Allah SWT berfirman, “Tidak ada yang memperdebatkan ayat-ayat Allah, kecuali orang-orang yang kafir. Oleh karena itu, janganlah engkau (Muhammad) tertipu oleh gerak-gerik mereka di seluruh negeri.” (QS. Ghafir: 4)

Perdebatan yang dilarang adalah perdebatan yang didasari oleh keinginan untuk menang, unjuk kehebatan, atau menjatuhkan lawan. Ini adalah perdebatan yang tidak mencari kebenaran, melainkan mencari pengakuan dan superioritas. Dalam Hadis, Rasulullah SAW bersabda:

“Sesungguhnya orang yang paling dibenci oleh Allah adalah orang yang paling keras perdebatan (jidal)-nya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Islam sangat menjunjung tinggi akhlak dan etika dalam berinteraksi, termasuk dalam perdebatan. Berdebat tanpa dasar ilmu yang kuat adalah hal yang sangat dicela. Seseorang yang berdebat tanpa ilmu hanya akan menyebarkan kebodohan dan kesesatan. Allah SWT berfirman, “Dan di antara manusia ada yang membantah tentang (hakikat) Allah tanpa ilmu pengetahuan, tanpa petunjuk, dan tanpa kitab yang menerangi.” (QS. Al-Hajj: 8)

Berdebat dengan cara yang kasar, menghina, memaki, atau menyebarkan fitnah sangat dilarang. Islam mengajarkan bahwa bahkan dalam berhadapan dengan lawan yang berbeda agama, perdebatan harus dilakukan dengan cara yang terbaik. Allah SWT berfirman, “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang paling baik.” (QS. An-Nahl: 125).

Baca Juga :  Belajar Dari Perjalanan Hidup Chen Kuan Tai

Ayat ini menjadi landasan etika berdebat dalam Islam. Kata “bil-lati hiya ahsan” (dengan cara yang paling baik) mencakup : Menggunakan argumen yang logis dan kuat, Bersikap lemah lembut dan sabar, Tidak menyinggung perasaan atau kehormatan lawan bicara, Menghormati perbedaan pendapat.

Salah satu bahaya terbesar dari perdebatan yang buruk adalah merusak ukhuwah (persaudaraan). Rasulullah SAW menekankan pentingnya menjaga hubungan baik antar sesama Muslim. Perdebatan yang membuat hati menjadi keras dan menumbuhkan dendam adalah perdebatan yang harus dihindari. “Aku menjamin sebuah rumah di pinggir surga bagi orang yang meninggalkan perdebatan meskipun ia berada di pihak yang benar.” (HR. Abu Daud)

Hadis ini menunjukkan bahwa mengalah dan menghindari perdebatan, bahkan ketika kita tahu kita benar, bisa jadi merupakan pilihan yang lebih mulia jika perdebatan tersebut berpotensi merusak hubungan dan menimbulkan permusuhan.

Para ulama membedakan antara jenis perdebatan yang tercela (jidal atau mira’) dan perdebatan yang diperbolehkan (munazharah atau munaqasyah). Jidal/Mira adalah Perdebatan yang tujuannya untuk mengalahkan lawan, tanpa peduli apakah argumennya benar atau tidak. Perdebatan ini seringkali didorong oleh hawa nafsu dan kesombongan. Ini adalah jenis perdebatan yang dicela dalam Hadis.

Sedangkan Munazharah/Munaqasyah adalah Diskusi atau perdebatan yang tujuannya adalah untuk mencari kebenaran, memahami suatu masalah secara lebih dalam, dan memperjelas argumen. Perdebatan jenis ini dilakukan dengan etika tinggi, saling menghormati, dan fokus pada substansi masalah, bukan pada individu. Ini adalah jenis perdebatan yang diizinkan dan bahkan dianjurkan dalam Islam.

Pada dasarnya, Al-Qur’an dan Hadis tidak melarang perdebatan secara total. Justru, perdebatan yang bertujuan untuk menegakkan kebenaran (amar ma’ruf nahi munkar) dan membantah kebatilan adalah bagian dari dakwah. Namun, perdebatan tersebut harus memenuhi syarat-syarat tertentu seperti didasari niat tulus, dilakukan dengan ilmu, dan menggunakan cara-cara yang beradab dan mulia.

Sebaliknya, perdebatan yang dicela dan sangat dimurkai oleh Allah adalah perdebatan yang berdasar hawa nafsu dan kesombongan, bertujuan untuk menang, bukan mencari kebenaran, Dilakukan dengan cara-cara yang kasar dan merusak persaudaraan.

Orang yang berilmu dalam Islam cenderung menghindari perdebatan yang tidak bermanfaat karena mereka tahu bahwa nilai sebuah ilmu terletak pada kemanfaatannya dan bukan pada kekuatan perdebatan. Mereka lebih memilih berdialog untuk saling berbagi dan mencari kebenaran, bukan bertarung untuk saling menjatuhkan.

Iklan
Iklan