Kalimantan Post - Aspirasi Nusantara
Baca Koran
Space Iklan
Space Iklan
Iklan Utama
Opini

Pemuda dan AI

×

Pemuda dan AI

Sebarkan artikel ini

(Refleksi Hari Sumpah Pemuda 2025)

Oleh: Nor Hasanah, S.Ag, M.I.Kom.
Pustakawan UIN Antasari Banjarmasin

Di tengah gelombang disrupsi digital yang mengubah lanskap informasi, pemuda Indonesia berdiri di persimpangan penting. Setiap hari, lebih dari 5.000 pesan digital membanjiri ruang hidup generasi muda, sementara kecerdasan buatan (AI) hadir sebagai pisau bermata dua – di satu sisi menjadi penyumbang arus deras informasi, di sisi lain menawarkan alat penyaring yang canggih. Dalam konteks memperingati Hari Sumpah Pemuda 28 Oktober 2025, momentum ini menjadi tepat untuk merefleksikan apakah pemuda kita akan tenggelam sebagai konsumen pasif atau bangkit sebagai kurator informasi yang cerdas dan kritis.

Kalimantan Post

Korban Manipulasi

Pemuda Indonesia adalah pasar terbesar bagi platform digital, dengan rata-rata menghabiskan 5-8 jam per hari di ruang digital. Namun, gelombang informasi yang mereka serap tidaklah netral. Algoritma media sosial, yang didukung AI, dirancang untuk mempertahankan perhatian kita, seringkali dengan mempromosikan konten sensasional, polarisasi, dan misinformasi. Riset terbaru menunjukkan bahwa 62% mahasiswa di Asia Tenggara telah menggunakan AI generatif untuk tugas akademik tanpa verifikasi mendalam. Ketergantungan ini bukan hanya mempersoalkan orisinalitas, tetapi yang lebih berbahaya adalah pembentukan mentalitas instan dan pelemahan kemampuan berpikir kritis.

Fenomena ini semakin mengkhawatirkan ketika melihat kondisi literasi dasar Indonesia. Skor PISA 2022 menempatkan Indonesia di peringkat bawah dalam literasi membaca. Dalam ekosistem seperti ini, pemuda yang tidak dibekali kemampuan kurasi akan mudah menjadi sasaran disinformasi, deepfake, dan konten bias yang diperkuat oleh echochamber algoritmik. Mereka tidak lagi sekadar pengguna tetapi mereka adalah objek yang dikurasi oleh mesin.

Relevansi Semangat Sumpah Pemuda

Dalam perspektif Sumpah Pemuda 2025, peralihan dari konsumen ke kurator informasi sesungguhnya adalah manifestasi modern dari semangat “Satu Nusa, Satu Bangsa, Satu Bahasa”. Jika pada 1928 pemuda bersumpah untuk bersatu melawan penjajahan fisik, maka di era digital ini, “penjajahan” hadir dalam bentuk baru – penjajahan algoritmik dan cognitive bias yang mengancam persatuan bangsa.

Baca Juga :  Antara “Kuyang” Pengusaha dan Pejabat Negara

Semangat Sumpah Pemuda mengajarkan tentang pentingnya kesadaran kolektif dan tanggung jawab sosial. Nilai-nilai inilah yang harus dihidupkan kembali dalam konteks kekinian. Pemuda masa kini ditantang untuk tidak hanya bersumpah dengan kata-kata, tetapi dengan aksi nyata membersihkan ruang digital dari konten-konten yang memecah belah bangsa. Mereka harus menjadi gatekeeper yang menjaga integritas informasi sekaligus bridge builder yang menjembatani perbedaan melalui narasi yang konstruktif.

Lalu, apa itu kurator informasi? Ini lebih dari sekadar “pengguna melek digital”. Seorang kurator secara aktif menyeleksi, mengontekstualisasi, dan menyajikan informasi dengan penuh pertimbangan etis. Mereka tidak hanya mencari kebenaran, tetapi juga mempertanyakan motif di balik sebuah pesan, melacak asal-usul informasi, dan menyintesis berbagai perspektif untuk menghasilkan narasi yang utuh dan bertanggung jawab.

Peran ini menjadi sangat krusial karena AI generatif bekerja tanpa pemahaman sejati. Sistem ini memproduksi teks berdasarkan pola statistik dari data pelatihannya, tanpa memahami nuansa moral, konteks budaya, atau emosi manusia. Sebuah kutipan indah atau analisis politik yang dihasilkan AI bisa saja terdengar meyakinkan, tetapi ia hampa makna dan nilai. Hanya kurator manusia yang dalam hal ini, pemuda yang terampil yang dapat menyuntikkan hikmat, empati, dan pertimbangan etis ke dalam aliran informasi.

Tiga Pilar Literasi

Transisi dari konsumen ke kurator membutuhkan penguasaan tiga literasi dasar yaitu Literasi Data dan Algoritma. Pemuda harus memahami “dapur” AI. Bagaimana data pribadi mereka digunakan untuk melatih model? Bagaimana algoritma media sosial membentuk realitas yang mereka lihat? Pemahaman ini mendasari sikap kritis bahwa setiap informasi yang diterima bukanlah cerminan realitas objektif, melainkan hasil seleksi mesin.

Kemudian Literasi Verifikasi dan Bernalar. Kemampuan ini adalah senjata utama kurator. Pemuda perlu dilatih melakukan pembacaan lateral guna membuka tab browser baru untuk memverifikasi klaim dengan sumber independen. Mereka harus mahir menggunakan alat fact-checking dan memahami logika kesesatan berpikir.

Baca Juga :  Anang Syakhfiani, Kebijakan yang Dikriminalisasi

Terakhirnya adalah Literasi Etika dan Kontribusi. Kurasi bukanlah tindakan egois. Seorang kurator sejati bertanggung jawab atas pesan yang disebarkan ke ruang digital. Ini mencakup kesadaran untuk tidak menyebarkan konten bias, menghargai hak kekayaan intelektual, dan aktif membagikan informasi yang akurat.

Menuju Sumpah Pemuda Digital

Menguasai keterampilan kurasi adalah bentuk baru kepemimpinan dan aktualisasi Sumpah Pemuda di abad ke-21. Dalam konteks kekinian, “menjunjung bahasa persatuan” berarti berani menyaring informasi yang memecah belah; “berbangsa yang satu” adalah membangun narasi bersama yang inklusif di atas dasar kebenaran.

Bayangkan kekuatan 60 juta pemuda Indonesia jika mereka menjadi jaringan kurator yang andal. Mereka dapat secara kolektif meredam gelombang hoaks, mendorong diskusi berbasis bukti, dan membangun ekosistem informasi yang sehat. Inilah perjuangan intelektual zaman now – peralihan dari konsumen ke kurator informasi bukan lagi pilihan, melainkan keharusan moral** untuk memastikan kemajuan teknologi tidak menggerus kemanusiaan, justru menguatkannya.

Pada akhirnya, semangat Sumpah Pemuda 2025 harus diwujudkan dalam bentuk baru yaitu Sumpah Pemuda Digital, di mana pemuda Indonesia bersatu menjaga martabat bangsa di ruang digital, menjadi kurator informasi yang bijak, dan mewariskan ekosistem informasi yang sehat untuk generasi mendatang. Inilah tantangan terbesar pemuda abad ini, dan inilah panggilan zaman yang harus kita jawab bersama.

Iklan
Iklan