Kalimantan Post - Aspirasi Nusantara
Baca Koran
Space Iklan
Space Iklan
Iklan Utama
Opini

Raya dan Ribuan Cacing Ditubuhnya: Alarm Buram Perlindungan Anak

×

Raya dan Ribuan Cacing Ditubuhnya: Alarm Buram Perlindungan Anak

Sebarkan artikel ini

Oleh : Bunda Khalis
Pemerhati Sosial dan Kemasyarakatan

Kabar tentang meninggalnya Raya, balita empat tahun yang tubuhnya dipenuhi ribuan cacing, mengejutkan publik dan menyayat nurani bangsa. Kronologi sakitnya Raya memperlihatkan betapa rapuhnya perlindungan negara terhadap anak-anak dari keluarga miskin. Ia tinggal di lingkungan yang jauh dari layak, minim fasilitas kesehatan, dan tanpa dukungan sosial yang memadai. Ayahnya sakit-sakitan, ibunya memiliki keterbatasan kondisi, sehingga Raya tumbuh dalam situasi yang rentan. Ironisnya, respon para pejabat dan pihak terkait baru muncul setelah kabar pilu ini mencuat ke publik. Sebelum itu, Raya hanyalah satu dari sekian banyak anak Indonesia yang luput dari radar kebijakan dan perhatian negara.

Kalimantan Post

Kasus Raya menjadi bukti telanjang bahwa pelayanan kesehatan di negeri ini belum mampu memberikan jaminan kesehatan bagi rakyatnya, termasuk anak-anak yang seharusnya mendapat prioritas perlindungan. Mekanisme layanan kesehatan yang ada masih sebatas formalitas; prosedur rumit, syarat administrasi berlapis, dan minimnya petugas lapangan membuat layanan kesehatan tak bisa diakses oleh semua orang. Mereka yang memiliki akses, jaringan, dan privilege mungkin bisa mendapat pelayanan kesehatan layak, sementara rakyat kecil seperti keluarga Raya dibiarkan hidup di kondisi sulit dan lingkungan yang tidak sehat. Inilah potret nyata abainya negara dalam memberikan perlindungan bagi rakyat miskin. Mereka dibiarkan menghadapi ancaman penyakit, kemiskinan, dan kematian tanpa intervensi yang berarti.

Situasi ini tak bisa dilepaskan dari dampak sistem kapitalisme yang diterapkan. Dalam sistem ini, pelayanan publik sering kali diukur dari untung rugi dan keberlanjutan finansial, bukan dari tanggung jawab moral atau kewajiban negara. Mereka yang punya uang dan akses bisa membeli layanan kesehatan terbaik; mereka yang miskin hanya bisa berharap belas kasihan. Sistem ini melahirkan ketidakadilan struktural yang terus-menerus menjerat masyarakat kecil. Kasus Raya adalah puncak gunung es dari lemahnya perlindungan negara terhadap anak dan rakyat lemah pada umumnya.

Baca Juga :  IBRAH

Dalam perspektif Islam, kesehatan adalah tanggung jawab negara, bukan sekadar layanan publik yang “dijual”. Negara wajib menjamin kesejahteraan, menyantuni kalangan yang lemah, dan memastikan setiap anak mendapat perlindungan serta layanan kesehatan terbaik. Di masa lalu, ketika pemerintahan Islam berdiri, layanan kesehatan disediakan gratis, dengan fasilitas terbaik dan prosedur yang mudah diakses oleh semua kalangan. Baitul Mal digunakan untuk membiayai kebutuhan dasar rakyat, termasuk kesehatan, tanpa diskriminasi kaya-miskin. Kepedulian masyarakat juga terbangun melalui nilai-nilai Islam. Seorang Muslim tidak akan membiarkan tetangga atau saudaranya berada dalam kesulitan; mereka bersegera menolong sebelum masalah membesar. Inilah yang hilang dalam masyarakat modern yang terkungkung sistem individualis.

Sirah Nabi dan para sahabat menunjukkan teladan nyata. Rasulullah SAW menetapkan negara sebagai penjamin kebutuhan rakyat. Umar bin Khattab RA misalnya, pernah berkeliling malam untuk memastikan tidak ada rakyatnya kelaparan atau sakit tanpa bantuan. Ia bahkan memikul gandum di pundaknya sendiri demi memastikan seorang ibu dan anaknya bisa makan. Di masa Khilafah Abbasiyah dan Utsmaniyah, rumah sakit dibangun megah dan modern untuk ukuran zamannya; semua layanan diberikan gratis, bahkan pasien yang sembuh mendapat bekal pulang. Teladan ini menunjukkan bahwa sistem Islam pernah menghadirkan perlindungan kesehatan yang komprehensif, tidak hanya mengandalkan belas kasihan individu tetapi melalui sistem negara yang terstruktur.

Kasus Raya seharusnya menjadi alarm keras bagi bangsa ini. Ia bukan sekadar kisah tragis seorang anak kecil, tetapi potret ketidakadilan sistemik yang terus terjadi. Negara harus kembali pada fungsinya sebagai pelindung rakyat, bukan sekadar regulator. Kita membutuhkan perubahan paradigma bahwa kesehatan adalah hak fundamental yang wajib dijamin negara, bukan komoditas. Dengan penerapan sistem Islam secara kaffah, anak-anak seperti Raya akan terlindungi, masyarakat saling peduli, dan negara hadir sebagai pelayan rakyat sejati. Hanya dengan perubahan sistemik yang berpihak pada kemanusiaan dan nilai-nilai Islam, tragedi seperti Raya tak akan terulang lagi.

Iklan
Iklan