BANJARMASIN, Kalimantanpost.com – Tape merupakan makanan tradisional khas Indonesia yang terbuat dari singkong atau beras ketan yang difermentasikan dengan ragi khusus untuk membuat tape. Di beberapa daerah di Indonesia punya makanan tape dengan ciri khas tersendiri baik nama, teknik pembuatan maupun cita rasanya.
Begitu juga di Kalimantan Selatan ada daerah pembuat tape atau kalau Urang Banjar menyebutnya Tapai yang cukup terkenal yakni di Desa Gambut, Kalimantan Selatan.
Tapai Gambut, terkenal dengan rasa manis, empuk dan kering atau tidak berair. Bahan baku utama yang biasa digunakan untuk membuat tape yaitu dari singkong putih, singkong kuning dan dari beras ketan putih yang diberi pewarna hijau yang berasal dari serbuk daun katu (sejenis daun yang biasa dipakai sayur bening oleh masyarakat suku Banjar) yang dikeringkan.
“Proses pembuatan tape di Desa Gambut masih menggunakan teknik manual yang diperoleh secara turun temurun dan produk tape ini masih bersifat industri rumah tangga (home industry) berskala mikro,” kata Ketua tim Pelaksana dan Pendampingan Manajemen Usaha Pengrajin Tapai Gambut dari STIE Nasional Banjarmasin, Diana Hayati, Minggu (26/10/2025).
Dijelaskannya, jumlah pengrajin tape di Kecamatan Gambut cukup banyak, secara keseluruhan jumlah sekitar 41 produsen tape, yang tersebar di tiap-tiap RT. Skala produksi kecil sekali karena hanya dijual sendiri secara berkeliling atau mangkal di pasar dengan menggunakan sepeda ontel.
“Permintaan pasar akan tape Gambut ini sebenarnya cukup besar, hal ini bisa dilihat dari tapai yang dijual selalu habis. Tidak ada tempat yang pasti di mana tapai Gambut ini bisa diperoleh, karena mereka menjual secara berkeliling dan kalau pun ada yang mangkal di pasar Gambut mereka tidak sampai sore, jam 11 siang sudah tidak ada lagi karena tapenya memang sudah habis,” paparnya.
Dijelaskan Diana, tapai Gambut belum masuk swalayan. Kemasan tape selama ini sangat sederhana yaitu hanya memakai plastik putih dan tidak ada kemasan yang lebih baik yang dapat melindungi kebersihan tape dan membuat tape lebih tahan lama.
“Harga dari tape Gambut ini cendrung sangat murah, pembeli bebas membeli dari Rp1.000, sampai berapa pun konsumen mau karena memang tidak ada kemasan (packing) atau istilah lokalnya dijual curai (curah),”ujar dosen STIE Nasional Banjarmasin,
Omzet penjualan tape per hari sekitar Rp 135. 000 dengan biaya produksi Rp 72.000,- sehingga ada laba kotor per hari Rp. 63.000. Jumlah produksi yang sangat kecil ini disebabkan karena modal yang dimiliki untuk berproduksi masih terbatas dan daerah pemasaran yang belum luas.
“Biasa tapai di produksi oleh para istri, sementara bapak-bapaknya menjualnya. Setelah itu menggarap sawah, ada juga ibu-ibu yang membuat tape dan juga menjualnya,” tandasnya.
Bahan baku singkong dan ragi serta bahan penunjang daun pisang sangat melimpah untuk daerah Gambut, karena Gambut sangat dekat daerah Pelaihari penghasil singkong yang besar di Kalimantan Selatan Selain itu di daerah sekitar banyak kebun pisang.
“Hasil pengamatan kami terhadap tapai Gambut sangat potensial untuk dikembangkan. Ini didukung oleh rasa tape Gambut yang enak, manis, empuk dan tidak berair serta baunya yang tidak menyengat, sehingga sangat diminati oleh masyarakat,” tandasnya.
Menurut Diana, jika sementara ini kurang berkembang, hal itu dikarenakan pengelolaan nya kurang profesional. Para penjual mengira yang senang tape hanya masyarakat bawah, identik dengan makanan orang kampung, jadi tidak terpikirkan orang kota (kaya) juga suka tape.
“Penampilan kemasannya yang kurang menarik dan terlihat kurang higienis (bersih) membuat produksi tape tidak berkembang.
Khusus untuk produksi makanan, kebersihan dan kesehatan harus diutamakan, penjualnya juga kurang meyakinkan pembeli, karena kualitas produk makanan identik dengan kebersihan. Selain itu pengusaha selama ini dalam menjalankan usahanya tidak melaksanakan fungsi manajemen secara profesional,” katanya.
Ditambahkan Diana, penerapan manajemen usaha yang tepat sangat mendukung kemajuan suatu usaha yang dijalankan. Di sisi lain usaha tape ini dapat memberdayakan ibu-ibu rumah tangga, menambah penghasilan keluarga dan melestarikan budaya kuliner tape yang menjadi makanan tradisional yang bisa diterima oleh semua kalangan masyarakat. Jika usaha tapainya maju, dampaknya tentu pada pembukaan kesempatan kerja dan pada akhirnya dapat mendukung pengentasan kemiskinan meskipun pada sekelompok masyarakat saja.
“Pengrajin tapai gambut selama ini penerapan manajemen hanya secara sederhana dan hanya mengikuti apa yang dilakukan oleh orang tua mereka dengan menjalankan fungsi manajemen seadanya, sehingga usaha tidak berkembang dan omzet penjualan tidak meningkat. Ini berdampak penghasilan dan laba yang mereka peroleh,” paparnya.
Berdasarkan pengamatan atau observasi itu, lanjut dia, dilakukannya kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini, pihaknya melakukan pelatihan dan pendampingan manajemen usaha dan diterapkan pada industri pengolahan tapai Gambut dengan harapan usaha mereka dapat mengalami kemajuan.
Dalam kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini, Diana
didampingi Raga Gustiana, Akhmad Julian Saputra sebagai anggota tim pelaksana serta dibantu dua mahasiswi Alvinna Wahmidah Fahrissa dan
Dewi Ayu Qurrota A’yun dalam memberikan pelatihan dan pendampingan dalam penerapan manajemen produksi, manajemen pemasaran, manajemen keuangan dan manajemen sumber daya manusia
“Tolak ukur keberhasilan suatu usaha khususnya pengrajin tape Gambut adalah peningkatan jumlah produksi dan penjualan yang nanti akan berimbas pada tingkat penghasilan dan laba yang diperoleh. Semakin tinggi tingkat produksi dan penjualan semakin berkembang juga perusahaan tersebut,” ujarnya.
Dengan adanya kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang didanai oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi Republik Indonesia ini, diharapkan akan memberikan perbaikan dalam manajemen usaha tapai Gambut
“Kemudian melakukan perbandingan hasil yang diperoleh antara pada saat sebelum dilakukan pelatihan dan pendampingan manajemen usaha dibandingkan dengan kondisi usaha sesudah dilakukan pelatihan dan pendampingan manajemen usaha,” ucapnya.
Dia menambahkan, kegiatan sosialiasi dan pelatihan manajemen usaha dalam meningkatkan tapai gambut di Desa Gambut pada tanggal 26 Agustus sampai 28 Agustus 2025 yang diikuti oleh ibu ibu pengrajin tapai gambut yang merupakan anggota industri rumah tangga tapai gambut “Manis” yang diketuai oleh ibu Siti Elliyana dengan jumlah anggota 41 orang.
“Pada tahap ini kami memberikan pengetahuan terkait, manajemen keuangan, manajemen pemasaran, manajemen produksi dan manajemen sumber daya manusia,” tandasnya.
Selanjutnya dilakukan kegiatan pendampingan dalam menerapkan materi yang diperoleh selama pelatihan yang terdiri manajemen produksi, manajemen pemasaran, manajemen sumber daya manusia dan manajemen keuangan dilaksanakan mulai 9 September sampai sekarang yang akan berakhir pada bulan Desember 2025,” tegasnya.
Alasan pemilihan industri pengolahan tape gambut sebagai tempat melaksanakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat di Kecamatan Gambut khususnya di jalan Pemajatan, karena hampir semua keluarga di desa ini mempunyai usaha sebagai produsen tapai gambut.
“Selama ini usaha yang sudah dijalankan turun temurun ini tidak mengalami perkembangan yang menggembirakan artinya selama berpuluh-puluh tahun skala usaha mereka tidak mengalami peningkatan yang sesuai harapan,” tegasnya.
Ditambahkan Diana, pihaknya juga memberikan bimbingan manajemen keuangan seperti menyusun pembukuan sederhana berupa catatan pemasukan, pengeluaran, stok barang, dan mengetahui laba dan rugi dari usaha yang mereka jalankan selama ini.
“Kami juga memberikan pemahaman mengenai strategi pemasaran dan pengembangan usaha, termasuk analisis peluang usaha. Kami juga memberikan pelatihan tentang digital marketing yang akan memudahkan mereka dalam mempromosikan tape gambut secara lebih luas dengan biaya yang relatif murah,” ucapnya.
Selain itu, diajarkan juga manajemen produksi seperti cara memperbaiki teknik produksi dan pengelolaan bahan baku dengan baik, begitu juga tentang peningkatan kualitas produksi dan pengemasan yang lebih menarik.
“Pada materi ini juga diberikan pemahaman tentang inovasi cara mengolah tape menjadi berbagai produk makanan lainnya seperti bolu tape, puding tapai dan lain-lain.
Pengelolaan sumber daya manusia. (ful/KPO-3)














