BANJARBARU, Kalimantanpost.com — Di bawah langit pagi yang teduh di Taman Makam Pahlawan Bumi Kencana, Banjarbaru, langkah Troy Satria Taufik tampak tenang namun sarat makna. Dengan tangan gemetar, ia menaburkan bunga di atas pusara almarhum ayahandanya, H. Muhammad Taufik Effendie — sosok yang bukan hanya ayah, tetapi juga guru, panutan, dan tokoh yang menanamkan nilai-nilai perjuangan di tubuh Partai Golkar Kalimantan Selatan.
Didampingi Ketua Harian DPD Golkar Kalsel H Supian HK dan Ketua Panitia HUT Golkar H Maulana, Troy mengikuti kegiatan ziarah yang digelar dalam rangka peringatan HUT ke-61 Partai Golkar, Senin (20/10). Namun bagi Troy, momen itu bukan sekadar agenda tahunan partai, melainkan perjalanan batin — sebuah napak tilas yang membangkitkan kembali kenangan dan tanggung jawab besar sebagai penerus perjuangan sang ayah.
“Bagi saya, ini bukan hanya mengenang sosok beliau, tapi juga cara untuk terus menjaga api pengabdian yang beliau nyalakan,” ungkap Troy dengan suara lirih.
Almarhum H. Muhammad Taufik Effendie dikenal luas sebagai salah satu pilar penting Partai Golkar di Kalimantan Selatan. Ia bukan sekadar pengurus, tapi pejuang sejati yang mendedikasikan hidupnya untuk memperkuat organisasi dan membangun jejaring politik yang berakar di masyarakat Banua. Sebagai Bendahara DPD Golkar Kalsel dan penggagas berdirinya gedung partai yang kini menjadi simbol eksistensi Golkar di daerah, kiprahnya meninggalkan jejak sejarah yang dalam.
Lebih dari itu, almarhum dikenal sebagai sosok rendah hati dan pembimbing bagi kader muda. Ia menanamkan prinsip bahwa politik bukan tentang kekuasaan, melainkan tentang pengabdian yang tulus untuk kemaslahatan bersama. Nilai-nilai itulah yang kini berusaha dijaga dan diteruskan oleh Troy, baik dalam kapasitasnya sebagai Ketua AMPG Golkar Kalsel maupun sebagai anak dari seorang tokoh teladan.
Dalam suasana ziarah yang khidmat, Troy tampak larut dalam keheningan doa. Ia menyadari bahwa perjuangan politik yang diwariskan ayahandanya bukan sekadar catatan sejarah, melainkan amanah yang harus diteruskan dengan kerja nyata dan dedikasi yang konsisten.
“Setiap kali datang ke sini, saya selalu diingatkan bahwa semangat perjuangan itu tidak boleh berhenti di generasi beliau. Tugas kami adalah melanjutkan, bukan menggantikan,” ujarnya tegas.
Bagi keluarga besar Partai Golkar Kalsel, kegiatan ziarah bukan hanya ritual mengenang para pendahulu, melainkan wujud penghormatan dan penguatan nilai-nilai ideologis partai. Ketua Harian DPD Golkar Kalsel, H Supian HK, menyebut bahwa ziarah ini menjadi momen penting untuk meneguhkan komitmen seluruh kader agar tetap solid, beretika, dan berjiwa sosial seperti yang dicontohkan para tokoh sebelumnya.
Kegiatan kemudian ditutup dengan doa bersama bagi seluruh tokoh Golkar yang telah berpulang. Di tengah suasana tenang dan haru, tampak jelas bahwa tradisi seperti ini bukan sekadar seremonial — melainkan ruang refleksi, tempat generasi penerus belajar tentang arti ketulusan, tanggung jawab, dan kesinambungan perjuangan politik di Banua. (Nug/KPO-1)















