BANJARMASIN, Kalimantanpost.com – Di tengah keterbatasan fasilitas belajar, seorang guru SD di pedalaman Hulu Sungai Selatan membuktikan bahwa kreativitas bisa menutup banyak celah. Ahmad Hadianor, S.Pd., dari SD Negeri Habau Hulu, merilis sebuah media pembelajaran interaktif bernama MPI Jaringan Ajaib SISMA yang langsung mengubah cara siswa memahami materi IPA, khususnya sistem saraf manusia. Ia memulai inovasi ini karena melihat anak-anaknya kerap pasif, mudah bosan, dan kesulitan menangkap konsep IPA yang abstrak.
Masalah makin terasa ketika sekolah baru menerima Papan Interaktif Digital (PID), dan akses penggunaannya belum merata. Alih-alih menunggu, Ahmad memilih membuat solusi sendiri lewat media berbasis PowerPoint yang kemudian ia ubah ke format web agar bisa diakses kapan saja.
“MPI Jaringan Ajaib SISMA ini benar-benar portabel, anak-anak bisa buka pakai HP di rumah kapan pun mereka butuh remedial atau pengulangan, tanpa bergantung alat sekolah,” ujar Ahmad.
Media ini tidak sekadar tayangan visual. Ahmad merancangnya sebagai paket lengkap yang menggabungkan Discovery Learning, visualisasi interaktif, dan gamifikasi melalui Kahoot. Pendekatan ini terbukti membantu tiga tipe gaya belajar sekaligus audio, visual, dan audiovisual, sesuatu yang sebelumnya sulit tercapai dengan media lama yang serba terbatas.
Hasilnya langsung terlihat di kelas. Siswa yang biasanya pasif mulai menunjukkan perubahan. Mereka lebih fokus, lebih aktif bertanya, bahkan lebih cepat memahami bagian-bagian tubuh yang selama ini hanya mereka lihat lewat buku teks. Efeknya bukan hanya pada pemahaman, tapi juga perilaku. Kebiasaan melamun dan hilang fokus berangsur berkurang, digantikan oleh suasana kelas yang lebih hidup.
Anak-anak dengan kemampuan belajar lebih lambat juga terbantu. Mereka bisa mengulang materi berulang kali dengan ritme sendiri. Di sisi lain, murid-murid yang hiperaktif justru lebih terarah karena ada unsur permainan, tantangan, dan konten autentik yang memancing energi positif.
“Sifatnya yang visual dan self-paced sangat membantu anak slow learning, sedangkan Kahoot dan konten suara asli siswa sendiri terbukti bikin anak hiperaktif lebih fokus,” jelas Ahmad.
Yang membuat inovasi ini semakin menarik, semuanya dibuat tanpa biaya. Ahmad memaksimalkan apa yang tersedia seperti PowerPoint, koneksi web sederhana, dan perangkat yang sudah dimiliki siswa. Konsep zero-cost ini membuat guru lain bisa meniru tanpa rasa terbebani. Format PPT/Web-based membuatnya mudah diperbanyak untuk materi IPAS lain.
Efek jangka panjangnya ikut terasa. Siswa mulai terbiasa mengakses materi lewat gawai mereka, memperkuat literasi digital tanpa harus menunggu fasilitas besar dari sekolah. Ahmad menyebut inovasi ini sebagai cara sederhana memperluas kesempatan belajar, terutama di wilayah yang akses teknologinya masih belum stabil.
“Yang paling penting, anak-anak sekarang punya kendali belajar mereka sendiri, mereka bisa ulangi materi kapan pun, dan itu benar-benar mengubah cara mereka memahami IPA,” kata Ahmad.
MPI Jaringan Ajaib SISMA kini dianggap sebagai salah satu praktik baik yang siap diterapkan di sekolah lain, terutama yang menghadapi kendala infrastruktur serupa. Dari kelas kecil di Habau Hulu, inovasi ini membuktikan bahwa perubahan besar bisa lahir dari kreativitas sederhana seorang guru. (nug/KPO-3)















