SAMARKAND- Seiring dengan semakin kompleknya integrasi teknologi digital dalam kehidupan manusia, kecerdasan buatan (AI) secara bertahap mulai memasuki dunia warisan budaya dan museum.
Hasilnya menjanjikan sekaligus mengejutkan, kehidupan museum yang awalnya jauh dari hal futuristik kini semakin inovatif dengan hadirnya katalogisasi digital, konservasi virtual hingga peningkatan pengalaman pengunjung melalui augmented reality.
Etika AI, inklusi budaya dan keberlanjutan menjadi salah satu topik yang menarik banyak kalangan pada Konferensi Umum ke-43 UNESCO yang berlangsung di Samarkand, Uzbekistan.
Kalimantan Post memantau langsung jalannya dialog dan diskusi yang mempertemukan para pemimpin museum dan pengembang AI antara lain Medea Ekner, Direktur Jenderal Dewan Museum Internasional, Direktur Museum Peradaban Asia dan Museum Peranakan di Singapura, Clement Onnm serta konsultan yang berspesialisasi dalam rekayasa bisnis, Mohamed Zoghlami.
Saat ini banyak museum kelas dunia telah memanfaatkan AI untuk membantu merestorasi artefak, mendigitalkan koleksi yang rapuh, atau mengendalikan lingkungan.
Direktur Museum Seni Deji di Tiongkok menyoroti bagaimana AI dapat membantu melibatkan pengunjung. Misalnya, museum mendigitalkan gulungan kuno sepanjang 10 meter dan menampilkannya di layar besar, yang memungkinkan pengunjung untuk “masuk ke dalam” lukisan dan menjelajahi pemandangan kota kuno secara interaktif.
Namun demikian Direktur Museum Peradaban Asia dan Museum Peranakan di Singapura, Clement Onnm, memperingatkan bahaya AI yang meratakan narasi dan perlunya mencegahnya menimpa tradisi lisan yang tidak akurat dalam sistem AI.
Bagaimana Indonesia menyambut keniscayaan masa depan konservasi warisan dan pemanfaatan AI ini ?
Prof. Ananto Kusuma Seta, Plt. Ketua Harian Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO (KNIU), menjelaskan kemajuan teknologi AI di Indonesia khususnya dibidang pelestarian budaya dan warisan merupakan sarana untuk mendorong perluasan akses informasi dan edukasi yang meningkatkan minat generasi muda.
“Melalui AI, masyarakat dapat berkunjung secara virtual sebelum mereka mengunjugi Candi Borobudur. Disisi lain naskah kuno yang hilang huruf atau pudar karena zaman juga dapat direkonstruksi melalui pemanfaatan AI” jelasnya pada Kalimantan Post disela kegiatan dialog Peran AI dan Museum (01/11) .
Lebih lanjut Ananto Kusuma Seta mengingatkan pemanfaatan AI harus diimbangi dengan etika dan adab yang memperhatikan hak intelektual yang terkait dengan “ownership” atau kepemilikan sumber informasi, kepentingan ahli waris hingga tidak menjadi masalah dikemudian hari.
Hal ini sejalan dengan Deklarasi MONDIACULT 2022 yang menegaskan bahwa budaya adalah barang publik global, dan Rekomendasi 2021 tentang Etika Kecerdasan Buatan yang menekankan bahwa sistem AI harus dikembangkan dan digunakan dengan cara yang menghormati, melindungi, dan memajukan hak asasi manusia serta martabat manusia. (rfz/KPO-1)














