Kalimantan Post - Aspirasi Nusantara
Baca Koran
Space Iklan
Space Iklan
Iklan Utama
Opini

AROGAN

×

AROGAN

Sebarkan artikel ini

Oleh : ADE HERMAWAN

Rasulullah SAW bersabda, “Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya ada kesombongan (arogan) seberat biji sawi.” (HR. Muslim).

Kalimantan Post

Sifat arogan merujuk pada sikap sombong, angkuh, dan merasa lebih unggul dari orang lain. Seseorang yang arogan biasanya menunjukkan perilaku seperti mereka cenderung menganggap remeh kemampuan, pendapat, atau perasaan orang lain, sulit menerima kritik atau masukan karena mereka merasa apa yang mereka lakukan atau pikirkan selalu yang paling benar, seringkali mereka butuh pengakuan dan pujian dari orang lain untuk merasa puas, mereka lebih suka berbicara tentang diri sendiri dan jarang mau mendengarkan orang lain dengan sungguh-sungguh, dan mereka tidak peduli dengan perasaan atau kesulitan orang lain.

Banyak orang menjadi arogan karena berbagai alasan yang seringkali lebih dalam dari sekadar kesombongan. Seseorang yang merasa arogan sering kali sebenarnya sedang menutupi rasa tidak aman. Mereka membangun “dinding” arogansi untuk melindungi diri dari penilaian atau kritik orang lain. Dengan bersikap sombong dan merendahkan, mereka mencoba meyakinkan diri sendiri dan orang lain bahwa mereka lebih baik, padahal sebaliknya.

Pengalaman traumatis atau masa kecil yang sulit juga bisa memicu arogansi. Misalnya, seseorang yang sering diremehkan atau diabaikan mungkin tumbuh dengan keyakinan bahwa mereka harus selalu menunjukkan kekuatan dan superioritas agar tidak lagi menjadi korban. Arogansi menjadi mekanisme pertahanan diri yang mereka gunakan untuk merasa berkuasa.

Lingkungan tempat seseorang tumbuh sangat berpengaruh. Jika seseorang dibesarkan dalam keluarga atau lingkungan yang selalu memuji tanpa dasar, atau diajarkan bahwa mereka lebih unggul dari orang lain, mereka cenderung mengembangkan sifat arogan. Sebaliknya, jika mereka dibesarkan di lingkungan yang sangat kompetitif dan menuntut, mereka mungkin merasa harus selalu membuktikan diri untuk mendapatkan pengakuan.

Ketika seseorang mencapai kesuksesan besar atau memiliki kekuasaan, mereka bisa saja menjadi arogan. Kekuasaan bisa membuat mereka merasa kebal dari konsekuensi dan menganggap remeh orang lain. Mereka mungkin mulai percaya bahwa kesuksesan itu semata-mata karena keunggulan diri mereka, bukan karena faktor lain seperti keberuntungan atau dukungan dari orang lain.

Baca Juga :  Praktik Kerja Lapangan : Peluang Emas dan Potensi Generasi Tergerus

Beberapa orang menjadi arogan karena mereka memang tidak memiliki kemampuan untuk berempati atau memahami perasaan orang lain. Tanpa empati, mereka kesulitan melihat dampak dari perilaku sombong mereka dan merasa bahwa kebutuhan serta pandangan mereka adalah yang paling penting.

Pada dasarnya, arogansi adalah perisai yang digunakan untuk menutupi kelemahan atau luka batin. Sering kali, orang yang paling arogan adalah mereka yang paling rapuh di dalam.

Perilaku yang sering ditunjukkan oleh orang arogan adalah sering kali meremehkan ide, pendapat, atau pencapaian orang lain. Mereka bisa menggunakan nada bicara yang sinis, membuat lelucon yang merendahkan, atau bahkan secara terang-terangan mengatakan bahwa apa yang dilakukan orang lain tidak sebanding dengan yang mereka lakukan. Karena merasa paling benar, orang arogan sangat sulit menerima masukan atau kritik dari orang lain. Mereka akan langsung bereaksi defensif, menyalahkan orang lain, atau menolak kritik tersebut mentah-mentah. Bagi mereka, kritik adalah serangan terhadap harga diri, bukan kesempatan untuk berkembang. Perilaku ini berakar pada kebutuhan akan validasi. Orang arogan sering kali membanggakan diri sendiri dan keberhasilan mereka secara berlebihan. Mereka butuh orang lain mengakui kehebatan mereka untuk merasa puas. Di media sosial, mereka mungkin sering memamerkan kekayaan, status, atau pencapaian pribadi.

Dalam percakapan, orang arogan cenderung mendominasi. Mereka lebih suka berbicara tentang diri mereka sendiri dan jarang memberikan kesempatan kepada orang lain untuk bicara. Ketika orang lain berbicara, mereka mungkin tidak benar-benar mendengarkan, tetapi hanya menunggu giliran untuk kembali berbicara tentang diri mereka.

Sikap arogan membuat seseorang kurang peduli terhadap perasaan dan pengalaman orang lain. Mereka mungkin tidak peka terhadap penderitaan atau kesulitan orang lain, dan bahkan bisa terlihat tidak simpati. Mereka cenderung menganggap perasaan orang lain sebagai sesuatu yang sepele atau tidak penting.

Baca Juga :  KEYAKINAN

Orang yang arogan sering merasa bahwa aturan tidak berlaku bagi mereka. Mereka bisa melanggar batas pribadi orang lain, seperti datang terlambat tanpa meminta maaf, atau merasa berhak mendapatkan perlakuan khusus. Bagi mereka, standar dan norma sosial berlaku untuk orang lain, bukan untuk mereka yang “istimewa.”

Sikap Arogans adalah racun yang membunuh kreativitas dan pertumbuhan. Seseorang yang arogan akan menutup diri dari kritik dan saran. Mereka merasa sudah paling benar, paling pintar, dan tidak butuh masukan dari siapa pun. Akibatnya, mereka akan berhenti belajar, berhenti berkembang, dan akhirnya tertinggal oleh zaman. Mereka terjebak dalam gelembung ilusi kehebatan yang mereka ciptakan sendiri.

Lebih dari itu, arogan menciptakan lingkungan yang tidak sehat. Dalam tim, seorang pemimpin yang arogan akan membuat bawahannya merasa tertekan, tidak dihargai, dan enggan untuk berinovasi. Mereka akan takut untuk berbicara, takut untuk mencoba hal baru, karena setiap kesalahan akan dianggap sebagai kegagalan pribadi. Lingkungan seperti ini tidak akan pernah melahirkan karya-karya besar, hanya sekadar tumpukan tugas yang diselesaikan tanpa jiwa.

Apapun alasannya, arogan bukanlah sesuatu sikap yang patut dibanggakan. Ia adalah luka batin yang membusuk, yang tidak hanya menyakiti orang lain, tapi juga menghancurkan diri sendiri dari dalam. Jika kita ingin terus tumbuh dan berkembang, kita harus belajar untuk melepas ego dan membuka hati. Kita harus belajar untuk menghargai setiap orang di sekitar kita, karena kita tidak akan pernah bisa sukses seorang diri.

Dalam ajaran Islam, perilaku arogan sangat dicela dan dipandang sebagai salah satu penyakit hati yang paling berbahaya. Sifat ini dikenal dengan istilah takabbur atau al-kibr. Sikap ini tidak hanya sekadar sombong, tetapi juga mencerminkan penolakan terhadap kebenaran dan peremehan terhadap orang lain.

Iklan
Iklan