Oleh : H AHDIAT GAZALI RAHMAN
Umat Islam tentu sudah tidak asing lagi dengan Firaun yang disebut-sebut menjadi raja dzalim dan sombong. Ia menolak ajaran Nabi Musa karena menganggap dirinya sebagai Tuhan. Namun, pernahkah kamu bertanya-tanya siapa nama asli Firaun? Faktanya, Firaun adalah istilah untuk menyebut seorang pemimpin, bukan nama seseorang secara spesifik. Dikutip dari Cambridge Dictionary, Firaun disebut sebagai pharaoh dalam bahasa Inggris yang berarti gelar untuk raja Mesir Kuno. Dirangkum dari laman The Metropolitan Museum of Art, World History Encyclopedia, serta Britannica, Firaun adalah gelar untuk penguasa Mesir kuno yang memegang kekuasaan politik sekaligus agama.
Kata ‘Firaun’ berasal dari bahasa Mesir pero or per-a-a, yang berarti ‘Rumah Besar’ atau istana kerajaan. Istilah Firaun baru digunakan secara resmi sejak periode Kerajaan Baru (sekitar 1539-1077 SM), sekarang istilah ini dipakai untuk semua raja Mesir kuno berdasarkan penggunaan dalam Alkitab Ibrani. Nama asli Firaun biasanya adalah nama Mesir yang mereka pakai saat penobatan, dan nama ini tercatat dalam hieroglif yang mewakili identitas sekaligus kekuasaan mereka. Para Firaun memerintah Mesir sejak masa Pradynasti hingga periode Romawi. Firaun bukanlah nama asli, melainkan gelar untuk raja Mesir kuno, mirip seperti “presiden” atau “raja”. Nama asli setiap firaun terdiri dari lima nama yang berbeda, seperti Narmer, atau Nenes, Ramses II, Ramessu Meriamon, untuk firaun pertama yang menyatukan Mesir.
Kita dunia tidak mempermalsahkan namanya, namun sejarah yang tertulis dalam kitab Al Quran, Firaun ini adalah salah satu Raja yangat benci Islam, karena Firaun menjadi masuh Nabi Musa yang menyebarkan agama Islam, maka dijelaskan dalam Al Quran siapa dan bagaimana sifat Firaun itu, dalam berbagai kesempatan para pejuang Islam dan tokoh-tokoh Islam menyimpul kan ada empat sifat melekat pada diri Firaun dalam mempertahankan kekuasaannya sebagai Raja Mesir saat itu, yakni Kesombongan. Mengaku sebagai tuhan yang harus disembah, oleh semua rakyat. Kekajaman. Memperlakukan kaum Bani Israil dengan kejam sebagai budak, tidak segan membunuh rakyat, dengan melahirkan peraturan yang membunuh setiap anak laki-laki yang lahir. Penolakan terhadap kebenaran. Menolak ajakan Nabi Musa untuk beriman kepada Allah SWT, meskipun telah menyaksikan mukjizat yang Allah berikan pada nabi Musa. Ancaman terhadap Bani Israil. Takut akan pengaruh Nabi Musa, ia memerintahkan pembunuhan terhadap semua bayi laki-laki, agar dia tetap berkuasa.
Dalam Al Quran banyak sekali ayat yang menjelaskan tentang Firaun sebanyak 74 kali, diantaranya, “(Ingatlah) ketika Kami membelah laut untukmu, lalu Kami menyelamatkanmu dan menenggelamkan (Fir‘aun dan) pengikut-pengikut Fir‘aun, sedangkan kamu menyaksikan(-nya)”. (QS. Al Baqarah : 50). “Sesungguhnya Firaun telah berbuat sewenang-wenang di bumi dan menjadikan penduduknya berpecah-belah. Dia menindas segolongan dari mereka (Bani Israil). Dia menyembelih anak laki-laki mereka dan membiarkan hidup anak perempuannya.
Sesungguhnya dia (Firaun) termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan”. (QS. Al Qasas : 4). Jika mau belajar dari sejarah yang benar yang bersumber dari kita yang benar yakni Al Quran tentu akan menemukan kisah sadis yang telah diperaktek oleh raja Firaun, pertanyaannya masih adakah pemimpin yang bersifat seperti atau mendekati Firaun? Tentu secara obyektif dengan sumber Al Quran tersebut yakni sombong, kejam, menolak kebenran, dan mengancam pada rakyatnya. Jika kita kembali kepada Negara kita yang disebut pemimpin mulai yang terkecil pemimpin keluarga, pemimpin warga (RT), pemimpin beberapa keluarga di suatu wilayah (RW) daerah dan Negara, apakah para pemimpin itu lepas dari sifat dan sikap yang dilakukan oleh Raja Mesir tersebut? Atau malah sebaliknya para peminpi yang berkuasa, mempunyai sifat lebih dari Firaun, sombongnya, kejamnya, tidak menerima suatu kebenaran, dia seolah pencipta kebenaran, dan selalu memikirkan diri sendiri dan keluarga, sedangkan keadaan rakyatnya, bangsanya menjadi nomor selanjutkan yang akan dipikirkannya, daerah, Negara seolah punya dia, tanpa melihat aturan yang dibuat oleh daerahnya, rakyat hingga Negara. Jika itu yang terjadi maka pemimpin seperti itu telah mewarisi sifat Firaun. Kayapa menurut pian para pembaca?












