Oleh : Hasan Ashari
Mahasiswa Program Doktoral Perbanas Institute
Indeks Harga Saham Gabungan Posisi saat artikel ini dibuat 8 Desember 2025 sebesar 8.710 atau kembali menghijau. “Hijau royo-royo” IHSG Bursa sejak bulan-bulan terakhir ini merupakan sebuah capaian yang diberitakan luas oleh media nasional yang mencatat bahwa reli indeks domestik didorong oleh meningkatnya partisipasi investor ritel yang sebagian besarnya anak-anak muda. Di linimasa Gen Z, grafik hijau makin sering muncul, merefleksikan optimisme yang oleh analis ekonomi disebut sebagai “Purbaya Effect.” Optimisme dan sentimen positif investor muda di Indonesia tidak hanya bersumber dari dinamika global, tetapi juga dari persepsi stabilitas domestik.
Saat ini anak muda menganggap investasi bukan hanya milik generasi tua. Dengan kemudahan teknologi, meningkatnya literasi keuangan, dan kesadaran akan masa depan, generasi milenial dan gen Z mulai menjadikan investasi sebagai bagian dari gaya hidup.
“Purbaya Effect” di Kalangan Muda
Istilah “Purbaya Effect” merujuk pada dorongan optimisme pasar yang dikaitkan dengan konsistensi sinyal kebijakan stabilitas ekonomi Indonesia. Dalam sejumlah wawancara, Menteri Keuangan Purbaya berulang kali menegaskan bahwa fundamental ekonomi Indonesia tetap kuat di tengah gejolak global. Penjelasan ini sejalan dengan laporan Asian Development Bank Outlook (2025) yang menilai Indonesia berada pada jalur pertumbuhan stabil dengan risiko fiskal terkendali.
Tidak heran kalau optimisme semacam ini akhirnya menular ke masyarakat luas, terutama anak muda yang selalu cepat menangkap sinyal perubahan. Begitu mendengar ekonomi dinilai stabil dan prospeknya cerah, banyak dari mereka mulai berani “coba-coba serius” masuk pasar modal. Apa yang awalnya hanya sekadar scroll informasi di lini masa, berubah menjadi keputusan nyata untuk membuka akun investasi dan ikut menanam modal.
Fenomena ini juga didukung data KSEI tahun 2024 yang menunjukkan lebih dari 55% investor pasar modal adalah Millenial dan Gen Z. Sedangkan di posisi 2 Sept 2025, beberapa media massa menyebutkan bahwa Investor Pasar Modal RI tembus 18 Juta, 54,23% adalah usia di bawah 30 tahun.
IHSG yang menguat, reksa dana yang kembali dibeli masyarakat, serta peningkatan investasi aset digital sebagai tanda bahwa generasi muda semakin memusatkan preferensi investasi pada instrumen pasar.
Dinamika Gen Z
Profil gaya investasi generasi muda di Indonesia ini relevan dengan temuan OECD (2023), yang menyebut bahwa Gen Z global memiliki orientasi kuat pada financial independence serta cepat mengadopsi teknologi investasi. Penelitian ilmiah juga semakin memperkuat gambaran tersebut, bahwa literasi digital, kemudahan aplikasi, serta motivasi kemandirian finansial menjadi pendorong utama minat Gen Z untuk masuk ke pasar modal.
Tersedianya micro-investing platforms, fintech, serta “provokasi” dari influencer keuangan menjadi katalis adopsi investasi di emerging markets bagi investor anak muda (McKinsey Global Institute, 2024). Narasi yang bersliweran di dunia maya yang mengklaim bahwa “ekonomi Indonesia adalah tanah yang subur untuk menanam masa depan finansial” diperkuat oleh pesan publik Menteri Purbaya. Ia meminta generasi muda atau Gen Z tidak perlu mengkhawatirkan masa depan karena pemerintah punya kebijakan baru agar Indonesia cerah di masa mendatang. Dalam satu artikel di media Purbaya menyatakan kepada Gen Z bahwa jika sudah mulai jago, segera mulai investasi di capital market langsung investasi saham. Tapi jangan lupa untuk mempelajari ilmunya.
Tren Pasar & Pembuktian Empiris
Kenaikan IHSG dalam 12 bulan terakhir berasal dari kontribusi signifikan transaksi ritel. Selain itu terjadi juga pertumbuhan aset kelolaan reksa dana yang tercatat dalam Statistik Reksa Dana OJK (2025), yang menunjukkan adanya pemulihan aliran dana masyarakat ke instrumen kolektif. Selain itu terungkap pula bahwa tren saham teknologi dan infrastruktur juga mencatat pertumbuhan kuat dan menjadikan saham pada sektor-sektor tersebut laksana magnet bagi Generasi millenial dan Gen Z yang saat ini menjadi kelompok demografis dominan di pasar modal Indonesia. Analis pasar juga menyebut bahwa stabilitas kebijakan fiskal serta komunikasi ekonomi pemerintah dan lembaga pemerintah seperti Lembaga Penjamin Simpanan telah menjadi faktor pembentuk market confidence.
Risiko dan Catatan Kritis
Namun optimisme ini bukan tanpa risiko. Penelitian ilmiah menunjukkan bahwa Gen Z lebih rentan terhadap perilaku FOMO (Fear of Missing Out). Dalam bertransaksi mengalami gejala impulsive buying (membeli secara spontan, tanpa perencanaan, dan didorong oleh emosi), dan herd mentality (meniru perilaku, mengikuti tren, atau menyelaraskan dengan kelompok mayoritas). Fenomena serupa juga telah dibahas oleh Bloomberg Intelligence (2024), yang mengingatkan bahwa lonjakan investor muda di emerging markets sering disertai peningkatan risiko spekulatif. Karena itu, pertanyaan “kritisnya” adalah: Apakah ‘Purbaya Effect’ cukup kuat untuk menjadi fondasi jangka panjang, atau sekadar dorongan psikologis sesaat?
Optimisme penting, tetapi tanpa edukasi dan disiplin investasi, euforia dapat berubah menjadi volatilitas yang berbahaya.
Dari Euforia ke Fondasi
Purbaya Effect adalah momentum psikologi pasar yang berharga. Namun kekuatan “orisinalnya” ditentukan oleh apakah Gen Z mampu membangun “habit” investasi yang bertanggung jawab dan berkelanjutan. Purbaya pernah mengingatkan anak muda untuk tidak asal ikut-ikutan atau FOMO dalam berinvestasi. Dia mengatakan anak muda harus terlebih dahulu mempelajari dalam-dalam sebelum memutuskan untuk melakukan investasi.
Akhirnya, jika Purbaya Effect menyalakan semangat baru, maka Gen Z adalah bahan bakarnya, generasi yang berani melangkah, dan kini harus belajar melangkah dengan tepat. Dengan fondasi kebijakan yang stabil dan literasi finansial yang semakin membaik, Gen Z akan menjadi ruh baru di Pasar Modal Indonesia dan menjadi momentum transformasi masa depan ekonomi Indonesia. Semoga!












