BANJARMASIN, Kalimantanpost.com – Dinas Sosial Kota Banjarmasin memastikan bahwa setiap warga kota yang mengalami keterlantaran, termasuk Orang dengan Gangguan Jiwa (ODGJ), mendapatkan penanganan yang manusiawi dan terukur.
Hal tersebut disampaikan Kepala Bidang Rehabilitasi Sosial Dinsos Kota Banjarmasin, Lufi Fadillah, saat menjelaskan peran strategis rumah singgah dalam pelayanan sosial di kota berjuluk Seribu Sungai tersebut.
Menurut Lufi, prinsip utama yang dipegang pihaknya adalah tidak ada warga kota yang dibiarkan terlantar.
Bagi ODGJ yang ditemukan di lapangan, Dinsos langsung memfasilitasi penanganan medis berupa pengantaran ke RSJ Sambang Lihum bekerja sama dengan TRC yang mana menjadi pilar sosial bagi Dinas Sosial.
“Biasanya mereka menjalani perawatan sekitar kurang lebih 14 hari. Kalau pun ternyata ODGJ tersebut memiliki keluarga namun tidak mampu, tetap kami bantu melalui Tim Reaksi Cepat,” ujarnya.
Selain ODGJ, rumah singgah juga menjadi tempat perlindungan bagi orang-orang terlantar dari berbagai daerah. Misalnya, warga luar kota yang ingin kembali ke kampung halaman dan membutuhkan tempat bernaung sementara.
“Untuk kondisi seperti itu, rumah singgah tetap kami fasilitasi. Mereka bisa tinggal sementara sampai proses pemulangan ke daerah asalnya selesai,” jelas Lufi.
Rumah singgah Dinsos Kota Banjarmasin memiliki kapasitas maksimal 60 orang, meski pada kondisi tertentu jumlahnya bisa lebih.
Bangunan rumah singgah juga dirancang dengan sistem pemisahan yang jelas, baik antara laki-laki dan perempuan maupun antara warga dalam kondisi sehat dan ODGJ. Area khusus (los) juga disiapkan untuk keperluan antar-jemput dari petugas Satpol PP ketika terjadi razia penertiban.
Tak hanya menampung, rumah singgah juga memberikan layanan pembinaan terpadu. Para penghuni mendapatkan makanan, bimbingan, serta penyuluhan agama bekerja sama dengan KUA Banjar Selatan. Sementara urusan kesehatan warga ditangani melalui kolaborasi dengan Puskesmas Pekauman.
Pengelolaan rumah singgah yang terstruktur ini bahkan menarik perhatian daerah lain.
“Sudah beberapa kali ada tamu dari luar kota yang ingin melihat langsung sistem pengelolaan rumah singgah kita untuk dijadikan contoh,” kata Lufi.
Dengan berbagai layanan dan penanganan terpadu tersebut, rumah singgah Kota Banjarmasin terus menjadi garda terdepan dalam memastikan tidak ada warga yang hidup tanpa arah dan tanpa bantuan. Dinsos menegaskan komitmennya untuk terus memberikan perlindungan dan pelayanan sosial bagi seluruh masyarakat yang membutuhkan. (sfr/KPO-4)














