BANJARMASIN, Kalimantanpost.com – Ketua Badan Pengelola Masjid Raya Sabilal Muhtadin, Dr H Muhammad Tambrin menegaskan, perubahan warna tulisan nama masjid yang belakangan ramai diperbincangkan warganet tidak mengandung maksud tersembunyi apa pun.
Ia memastikan perubahan tersebut murni bagian dari pemeliharaan dan renovasi ringan menyambut datangnya bulan suci Ramadhan.
Penegasan itu disampaikan Tambrin menanggapi viralnya unggahan di media sosial yang memicu ratusan komentar dan ribuan tanda suka, dengan sebagian netizen mengaitkan warna biru pada tulisan nama Masjid Raya Sabilal Muhtadin dengan tafsir simbolik tertentu.
“Masjid ini memang sedang dalam tahap pemeliharaan dan renovasi ringan menjelang Ramadhan. Jadi jangan ditarik ke mana-mana,” ujar Tambrin.
Ia menjelaskan, perubahan warna tulisan tersebut belum bersifat final dan masih merupakan bagian dari proses penataan yang berjalan. Bahkan, warna tulisan sudah mengalami dua kali perubahan sejak pengerjaan dimulai.
“Awalnya biru muda, kemudian menjadi biru seperti sekarang. Ini masih tahapan. Tunggu saja nanti sampai 1 Ramadhan, akan menjadi warna apa,” katanya.
Lebih jauh, Tambrin mengimbau masyarakat agar tidak mempolitisasi atau mengelompokkan masjid ke dalam kepentingan tertentu. Menurutnya, Masjid Raya Sabilal Muhtadin adalah masjid umat Islam, terbuka dan digunakan oleh semua kalangan.
“Masjid ini milik umat Islam. Semua orang bisa menggunakan masjid ini, dari berbagai suku, bangsa, dan daerah. Kalau salat Jumat, jamaahnya bukan hanya dari Banjarmasin, tapi juga ada dari Kotabaru, Tabalong, dan daerah lainnya,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa pengelola masjid hadir untuk melayani semua umat, bukan golongan tertentu. “Kami di sini melayani semua orang, bukan melayani kelompok atau golongan,” tegas Tambrin.
Terkait adanya kritik atau anggapan keliru di tengah masyarakat, Tambrin menegaskan pihak pengelola tidak ingin larut dalam polemik yang tidak produktif.
“Kalau nanti ada yang dianggap keliru, kami tidak masuk sampai ke dalam situ. Tapi kami tetap terus melakukan perbaikan demi perbaikan,” ujarnya.
Tambrin juga memastikan seluruh kebijakan pengelolaan masjid dilakukan secara internal dan profesional, tanpa intervensi pihak luar, serta tanpa muatan politik, ideologi, maupun simbol tertentu.
Pihak pengelola pun mengimbau masyarakat agar lebih bijak menyikapi informasi di media sosial dan tidak mudah terprovokasi oleh asumsi yang tidak didukung fakta, terlebih ketika menyangkut rumah ibadah yang menjadi ruang persatuan umat. (sfr/KPO-4)















