Oleh : ADE HERMAWAN
Dalam pandangan Islam, kata bala memiliki makna yang sangat dalam dan multidimensi. Berbeda dengan persepsi umum yang menganggap bala melulu sebagai hukuman, Al-Qur’an memandangnya sebagai instrumen pendidikan Ilahi bagi hamba-Nya. Allah SWT menegaskan bahwa hidup manusia tidak akan lepas dari ujian untuk menyaring siapa yang benar-benar beriman dan siapa yang dusta atau untuk menaikkan derajat seorang mukmin. Dalilnya, “Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan…” (QS. Al-Baqarah: 155).
Bala tidak hanya berbentuk penderitaan (keburukan), tetapi juga kesenangan (kebaikan). Seringkali, manusia gagal melewati bala yang berupa kekayaan atau jabatan karena membuat mereka lalai. Seperti bala Ujian keburukan untuk menguji kesabaran, bala ujian kebaikan untuk menguji kesyukuran. Dalilnya: “…Kami akan mengujimu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan. Dan kamu akan dikembalikan hanya kepada Kami.” (QS. Al-Anbiya: 35).
Bagi seorang mukmin, bala yang menimpanya bahkan sekecil tusukan duri sekalipunmerupakan cara Allah menggugurkan dosa-dosanya di dunia agar bebannya ringan di akhirat. Ini adalah bentuk kasih sayang Allah dalam balutan penderitaan. Dalam konteks tertentu, bala bisa menjadi tadzkirah (peringatan) bagi mereka yang melampaui batas, atau adzab (siksaan) bagi mereka yang mengingkari kebenaran secara total. Bala adalah Peringatan Allah Agar manusia kembali ke jalan yang benar sebelum ajal menjemput.
Kunci menghadapi bala adalah ikhtiar, tawakkal dan doa. Ikhtiar dengan berusaha mencari jalan keluar secara syar’i dan logis. Dan tawakkal dan doa dengan menyerahkan hasil akhir kepada Allah sembari memohon perlindungan (seperti doa tolak bala). Bala bukan tanda Allah benci. Justru Rasulullah SAW bersabda, “Besarnya pahala sesuai dengan besarnya ujian, dan jika Allah mencintai suatu kaum, Dia akan menguji mereka.” (HR. Tirmidzi).
Terjadinya bala bukanlah sebuah kebetulan atau peristiwa alam semesta yang berjalan tanpa kendali. Ada hukum sebab-akibat yang bersifat lahiriah (fisik) maupun batiniah (spiritual). Dunia diciptakan oleh Allah sebagai Darul Imtihan (Negeri Ujian). Secara fitrah, hidup manusia memang dirancang untuk berganti-ganti antara suka dan duka. Bala terjadi karena memang itulah tujuan dunia yaitu untuk membedakan siapa yang benar-benar beriman dan siapa yang hanya berpura-pura.
Banyak bala yang terjadi merupakan dampak langsung dari kemaksiatan atau pengrusakan yang dilakukan manusia. Islam memandang bahwa kerusakan di bumi seringkali merupakan “pantulan” dari kerusakan di dalam hati manusia. Kerusakan alam seperti banjir atau longsor karena keserakahan mengeksploitasi hutan. Kerusakan sosial karena konflik dan perang karena hilangnya keadilan. Dalilnya, “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS. Ar-Rum: 41).
Seringkali, Allah mendatangkan bala yang kecil untuk mencegah manusia terjerumus ke dalam bala yang besar (adzab akhirat). Bala berfungsi sebagai alarm atau pengingat agar manusia berhenti dari kesesatan dan segera bertaubat. Jika hidup seseorang terlalu mulus tanpa ujian padahal ia terus berbuat dosa, hal itu justru dikhawatirkan sebagai Istidraj (jebakan berupa kenikmatan).
Bala terjadi untuk menghancurkan sifat-sifat buruk dalam jiwa manusia, seperti sombong, kikir, dan merasa berkuasa. Bagaikan emas yang harus dibakar di api yang panas untuk memisahkannya dari kotoran, manusia seringkali perlu dibakar dengan ujian agar muncul sifat sabar, tawadhu, dan ketergantungan hanya kepada Allah.
Seringkali kemudahan besar hanya datang setelah kesulitan (bala) yang hebat. Bala terjadi untuk mempersiapkan mental dan spiritual seseorang sebelum menerima amanah atau nikmat yang lebih besar. Sebagaimana firman Allah: “Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” (QS. Al-Inshirah: 5).
Bala terjadi bukan karena Allah jahat atau sentimen kepada hamba-Nya. Bala adalah mekanisme keseimbangan baik untuk membersihkan dosa, menegur kelalaian, maupun menguji kualitas iman.
Sedekah dipercaya sebagai obat dan perisai paling ampuh melawan bala sebelum bencana itu terjadi. Rasulullah SAW bersabda bahwa sedekah dapat menutup 70 pintu keburukan. Sedekah melunakkan kemarahan Allah dan membantu sesama, sehingga doa-doa orang yang terbantu menjadi pelindung bagi pemberinya. “Bersegeralah bersedekah, karena bala tidak pernah bisa mendahului sedekah.” (HR. Thabrani).
Al-Qur’an menegaskan bahwa Allah tidak akan menurunkan adzab selama sebuah kaum masih memohon ampun. Dengan mengakui kesalahan dan berjanji tidak mengulanginya, kita mencabut alasan turunnya bala yang disebabkan oleh dosa. Dalilnya : “Dan Allah sekali-kali tidak akan mengazab mereka, sedang kamu berada di antara mereka. Dan tidaklah (pula) Allah akan mengazab mereka, sedang mereka meminta ampun.” (QS. Al-Anfal: 33).
Bala seringkali turun secara kolektif bukan hanya karena ada orang jahat, tapi karena orang baik yang diam melihat kezaliman. Mengantisipasi bala berarti berani menyuarakan kebenaran dan menjaga etika sosial agar tatanan masyarakat tidak rusak.
Islam mengajarkan doa-doa khusus tolak bala , seperti : “Allahumma ya Kaafiyal Balaa’i, Ikfinaal Balaa’, Qabla Nuzuulihi Minassamaa’i (Ya Allah, 7x)”, yang artinya “Ya Allah, wahai Dzat Yang Maha Kuasa untuk menyelamatkan hamba-Nya dari segala bala bencana, selamatkanlah kami dari bala bencana yang akan menimpa kami sebelum bala bencana itu turun dari langit (Ya Allah 7x)”.
Islam melarang sikap pasrah yang buta. Mengantisipasi bala juga berarti menggunakan ilmu pengetahuan. Membangun rumah yang kokoh di daerah gempa. Menjaga kebersihan untuk mencegah wabah. Tidak mendatangi tempat yang sedang dilanda penyakit menular dan lain-lain.












