BANJARMASIN, Kalimantanpost.com – Banjir yang berpotensi muncul setiap tahun menjadi momok yang menakutkan bagi masyarakat Kalimantan Selatan (Kalsel).
Bagi wilayah-wilayah pemukiman yang kerap jadi langganan banjir tiap tahun seperti di Kabupaten Banjar, tentunya sangat berharap ada penangan permanen soal antisipasi banjir ini.
” Ini suara warga masyarakat di Kabupaten Banjar yang terdampak banjir, minta agar pemerintah bersama instansi terkait dan stake holder lainnya dapat menuntaskan persoalan banjir secara jangka panjang dan bukan bersifat sementara,” ujar Anggota Komisi III DPRD Kalsel, Habib Farhan BSA, Rabu (28/2/2026).
Penanganan komprehensif seperti pengerukan kanal-kanal sungai juga perlu dilakukan secara rutin, termasuk percepatan pembangunan Bandungan Riam Kiwa, sebagai bak raksasa yang mampu menampung debit tinggi air hujan saat turun.
Seperti yang disampaikan dalam rapat pertemuan pekan lalu, bendungan Riam Kiwa di Kabupaten Banjar ini mampu menampung air sekitar 90 juta meter kubik
” Volume sebanyak ini tentu sangat luar biasa untuk mengurangi genangan jika air meluber, dan saat musim aman, dapat dilepas secara perlahan,” katanya.
Anggota komisi membidangi infrastruktur dan pembangunan ini menilai, pendekatan penanganan banjir yang selama ini dilakukan masih bersifat sementara melalui bantuan konsumsi maupun penyediaan penampungan.
Padahal, masyarakat kini membutuhkan solusi jangka panjang agar dapat menjalani kehidupan secara lebih layak dan aman salah satunya seperti di Desa Keliling Benteng Kabupaten Banjar.
“Warga sudah jenuh. Mereka tidak butuh bantuan yang sifatnya sementara dan tidak merata. Mereka butuh solusi agar tidak lagi tenggelam setiap tahun,” tandasnya Habib Farhan
Adapun dampak fisik banjir kali ini tergolong cukup berat. Di sejumlah desa, rumah panggung tradisional yang selama ini menjadi penopang kehidupan warga tidak lagi mampu menahan tingginya debit air.
Untuk bagian dapur, posisinya sudah tidak kelihatan lagi karena terendam air sepenuhnya. Warga terpaksa memasak di luar rumah, mencari tanah yang masih terlihat atau bangunan yang posisinya lebih tinggi.
Kondisi tersebut, lanjutnya, memunculkan persoalan lanjutan, terutama terkait sanitasi dan kesehatan. Tidak sedikit warga yang harus bertahan hidup di tengah genangan air selama tiga hingga enam bulan hingga banjir benar-benar surut.
Lebih dari sekadar kerugian materi, banjir tahunan ini juga berdampak pada kehidupan sosial dan spiritual masyarakat Kabupaten Banjar yang dikenal religius.
“Sudah beberapa tahun belakangan, jika banjir datang, masyarakat terpaksa meniadakan acara keagamaan di bulan tertentu. Mereka hanya fokus memikirkan nasib dan bagaimana cara bertahan hidup. Ini sangat memprihatinkan,” paparnya.
Berkait penanganan komprehensif harus melibatkan lintas sektor juga pihak ketiga, Habib Farhan mendorong pemerintah untuk mengambil langkah yang lebih konkret. Salah satunya melalui pemanfaatan dana Corporate Social Responsibility (CSR) perusahaan pertambangan yang tersebar di Kalsel.
Ia mengusulkan agar ratusan perusahaan tambang dan perkebunan di Kalsel yang telah diaudit oleh Kementerian Lingkungan Hidup RI dapat diarahkan untuk mengalokasikan sebagian dana CSR bagi pembangunan infrastruktur pengendali banjir.
Sebab, dananya cukup besar dan bisa dimanfaatkan untuk pembangunan kanal, normalisasi sungai, atau penguatan tanggul. Namun pengelolaannya harus dilakukan langsung oleh perusahaan agar lebih tepat sasaran.
Sehingga sangat berharap dan mendukung penanganan jangka panjang seperti penuntasan bendungan Riam Kiwa,
“Jadi pemerintah harus tegas, tanpa kebijakan yang tegas dan berorientasi jangka panjang, warga Kabupaten Banjar dan beberapa titik wilayah lainya, akan terus berada dalam siklus bencana yang sama dari tahun ke tahun,” pungkasnya.(nau/KPO-1)















