Kalimantan Post - Aspirasi Nusantara
Baca Koran
Space Iklan
Space Iklan
Iklan Utama
Hukum & Peristiwa

Dua Pelajar SD di Kotim, Kalteng Diduga Terpapar Paham Radikal Akibat Game Online

×

Dua Pelajar SD di Kotim, Kalteng Diduga Terpapar Paham Radikal Akibat Game Online

Sebarkan artikel ini
IMG 20260106 WA0016
Wakil Bupati Kotim Irawati saat mengungkapkan hasil temuan Densus 88 mengenai paparan paham radikalisme di wilayah setempat, Senin (5/1/2026). (Antara)

SAMPIT, Kalimantanpost.com – Wakil Bupati Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah (Kalteng) Irawati mengungkapkan ada dua pelajar Sekolah Dasar (SD) di wilayah perkotaan setempat yang terpapar paham radikalisme yang berawal dari game online.

“Baru-baru ini saya menerima kunjungan dari Densus 88, karena terindikasi ada dua anak di wilayah kita yang tergabung dalam kelompok atau grup WhatsApp dengan paham radikalisme,” kata Irawati di Sampit, Senin (5/1/2026).

Kalimantan Post

Irawati mengungkapkan, informasi itu didapat langsung dari perwakilan Densus 88 Antiteror Polri ketika kunjungan kerja ke Kotim dalam rangka pengamanan Natal dan Tahun Baru (Nataru) belum lama ini.

Pihak Densus 88 memastikan bahwa aplikasi mencurigakan kini terpantau secara nasional. Khusus di Kalimantan Tengah, Kotim menjadi salah satu titik perhatian serius karena adanya temuan mengenai paham radikalisme.

Temuan ini menjadi alarm keras bagi orang tua mengenai bahaya penggunaan gadget tanpa pengawasan ketat.

Terlebih, belum lama ini ada kasus yang cukup menggemparkan Indonesia yakni seorang siswi SD di Medan, Sumatera Utara, tega menikam ibu kandungnya menggunakan pisau dan akhirnya nyawa sang ibu tak tertolong hanya karena aplikasi game online-nya dihapus.

Sementara itu, berdasarkan keterangan dari Densus 88, pola rekrutmen yang dilakukan kelompok radikal kini menyasar dunia digital yang sangat akrab dengan anak-anak. Salah satu platform yang diduga digunakan adalah game populer seperti Roblox.

“Mereka menggaet anggota melalui game online yang di dalamnya terdapat unsur kekerasan. Setelah itu, anak-anak diajak masuk ke dalam grup WhatsApp. Di sana, mereka diajarkan kebencian, cara membunuh apalagi kalau merasa dirundung (bully),” ujar Irawati.

Ia melanjutkan, yang membuat semakin miris pemahaman radikalisme tersebut kerap kali dikemas dalam basis agama. Anak-anak ini diposisikan sebagai calon ‘pengantin’ yang tidak lain adalah cikal bakal pelaku bom bunuh diri, karena doktrin mati syahid yang ditanamkan sejak dini.

Baca Juga :  Cekcok Soal Pekerjaan, Pelajar Ditusuk Teman Sendiri

Berdasarkan informasi dari Densus 88 pula, metode seperti ini menjadikan anak usia 5 hingga 15 tahun sebagai sasaran empuk, karena emosi yang masih labil dan rasa ingin tahu yang besar.

Meski begitu, bukan berarti orang dewasa aman dari pengaruh itu. Sebab, selain dua pelajar SD, dilaporkan ada pula ASN di Kotim yang juga tergabung dalam grup dengan paham radikalisme tersebut.

“Dari keterangan Densus 88, ada juga ASN yang terpantau ikut dalam kelompok radikalisme tersebut di Kotim. Makanya, ini juga akan menjadi perhatian kami bersama instansi terkait dalam menindaklanjuti kedepannya,” lanjutnya.

Menanggapi temuan ini, Irawati menyampaikan bahwa Pemkab Kotim bergerak cepat dengan melakukan langkah-langkah, mulai dari pembinaan Intensif, dua pelajar tersebut kini berada di bawah pengawasan ketat Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3AP2KB) serta Bidang Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polres Kotim.

Disebutkan, sebelumnya tim dari Densus 88 telah menyambangi kediaman anak-anak dan ASN yang terpapar radikalisme, termasuk pihak keluarga juga telah diberikan pengertian akan dampak buruk dari paham tersebut dan cara menghindarinya.

“Pemantauan ini akan dilakukan secara berkala, tapi syukurnya yang di Kotim masih bisa dikontrol dan diberikan pembinaan,” imbuhnya.

Selanjutnya, Irawati mengaku akan segera mengusulkan ke Bupati Kotim untuk menerbitkan Instruksi Bupati terkait pembatasan penggunaan gadget bagi anak usia sekolah, mencontoh kebijakan serupa yang telah diterapkan di Surabaya.

Dalam hal ini peran orang tua dan keluarga sangat diperlukan demi menghindarkan anak dari paparan paham radikalisme dan hal-hal negatif yang bisa didapat dari internet atau media sosial.

“Jangan karena ingin anak anteng atau diam di rumah, lalu orang tua membebaskan mereka menggunakan gadget. Itu justru berbahaya. Lebih baik anak diikutkan kegiatan positif seperti les atau ekstrakurikuler,” tegasnya.

Baca Juga :  Api Hanguskan Rumah Dua Lantai di Belakang Eks Kantor PAN

Disamping itu, pihaknya juga merencanakan kegiatan penyuluhan bersama sejumlah instansi terkait dengan melibatkan Densus 88 sebagai narasumber, dengan menyasar sekolah-sekolah, instansi pemerintahan hingga swasta.

Penyuluhan tidak hanya tentang dampak atau bahaya dari paham radikalisme tetapi juga cara menghindari untuk menghindarinya. Pasalnya, hal ini sudah dikoordinasikan dengan Densus 88 yang menyatakan siap mendukung dalam program penyuluhan tersebut.

“Berkaca pada tragedi di Medan, di mana seorang anak sampai tega membunuh ibunya hanya karena game onlinenya dihapus, kita berharap kejadian serupa jangan sampai terjadi di Kotim,“ demikian Irawati. (Ant/KPO-3)

Iklan
Iklan